Wahai saudara dan saudari pelayar web ini... tahukah kalian bahawa angka 7 ini dalam Islam byk keistimewaannnya yang kita sendiri kebanyakkannya mungkin tidak ketahui...
Wahai saudara saudari sekalian,
sesungguhnya Zat Pencipta, Yg sangat besar kekuasaan-Nya dan sangat tinggi kalimat-Nya telah menghiasi tujuh perkara dengan tujuh perkara, dan menghiasi pula setiap tujuh perkara itu dengan tujuh perkara yg lain, untuk memberitahu kpd orang2 berilmu bahawa angka tujuh itu mempunyai rahsia yg sgt besar dan kedudukan yang agung di sisi Allah.
1- Allah menghiasi udara dengan tujuh lapis langit. dan dihiasi pula tujuh langit itu dengan tujuh bintang.
Firman-Nya yg bermaksud " Dan kami bina di atas kamutujuh buah (langit) yg kukuh." ( an-Naba'-12).dan " dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang2 dilangit... "(al-Hijr:16)
2- Allah telah hiasi padang yg lapang dengan tujuh lapis bumi. Dan Allah hiasi bumi itu pula dgn tujuh lautan.
Firman Allah yg bermaksud: " Allah-lah yg telah menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi... ( athtalaq:12) dan "... Dan laut, ditambah kepadanya dgn tujuh laut sesudahnya... "(luqman:27)
3- Allah telah menghiasi neraka dgn tujuh tingkat, iaitu Jahannam, sa'ir, saqar, jahim, hutomah, ladhaa, dan hawiyyah. kemudian disediakan neraka itu tujuh pintu...
4-Allah menghiasi al-Quran dgn tujuh surah yg panjang. kemudian dihiasi pula baginya dengan tujuh ayat pembuka kitab. ( al-Fatehah)
5-Allah menghiasi manusia dgn tujuh anggota badan iaitu dua tangan, dua lutut, dua kaki dan satu wajah, Dan kemudian dihiasi pula nggota yg tujuh itu dengan tujuh peribadatan iaitu dua tangan dgn doa, dua kaki dgn berdir tegak, dua lutut dgn duduk dan muka dgn sujud.
6- Allah menghiasi umur manusia dgn tujuh peringkat... .iaitumasa lahir di sebut"RADLI" , kemudian "FATHIM", kemudian "KUHUL", kemudian "SYAIKH". Dan dihiasi dengan tujuh peringkat ini dengan tujuh kalimah iaitu: LA ILAHAILLALLAH MUHAMMAD RASULLULLAH.
7- Allah menghiasi dunia dgn tujuh negeri yg besar iaitu
i- Hindustan, ii- Hijaz, iii- Basrah, Badiyah dan Kufah,
iv- Iraq,Syam, Khurasan, sampai Balakh,
v- rome dan Armania vi- Ya'juj dan Ma'juj vii- Cina dan Turkistan.
kemudian Allah hiasi tujuh negeri itu dgn tujuh hari, Sabtu, ahad, isnin,selasa, rabu, khamis dan jumaat, kemudian Allah muliakan tujuh Hari itu dgn tujuh Nabi iaitu Nabi Musa a.s ( sabtu) , Nabi Isa a.s ( Ahad), NabiDaud a.s ( Isnin) , Nabi Sulaiman a.s( selasa) ,Nabi YA'kub a.s ( Rabu), Nabi Adam ( khamis) dan Nabi Muhammad s.a.w dengan umatnya pada hari Jumaat.
wassalam... segala yg baik itu datang dari Allah, dan segala kesilapan itu datangnya dari kedahaifan saya sendiri sebagai hamba Allah.
Wahai saudara saudari sekalian,
sesungguhnya Zat Pencipta, Yg sangat besar kekuasaan-Nya dan sangat tinggi kalimat-Nya telah menghiasi tujuh perkara dengan tujuh perkara, dan menghiasi pula setiap tujuh perkara itu dengan tujuh perkara yg lain, untuk memberitahu kpd orang2 berilmu bahawa angka tujuh itu mempunyai rahsia yg sgt besar dan kedudukan yang agung di sisi Allah.
1- Allah menghiasi udara dengan tujuh lapis langit. dan dihiasi pula tujuh langit itu dengan tujuh bintang.
Firman-Nya yg bermaksud " Dan kami bina di atas kamutujuh buah (langit) yg kukuh." ( an-Naba'-12).dan " dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang2 dilangit... "(al-Hijr:16)
2- Allah telah hiasi padang yg lapang dengan tujuh lapis bumi. Dan Allah hiasi bumi itu pula dgn tujuh lautan.
Firman Allah yg bermaksud: " Allah-lah yg telah menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi... ( athtalaq:12) dan "... Dan laut, ditambah kepadanya dgn tujuh laut sesudahnya... "(luqman:27)
3- Allah telah menghiasi neraka dgn tujuh tingkat, iaitu Jahannam, sa'ir, saqar, jahim, hutomah, ladhaa, dan hawiyyah. kemudian disediakan neraka itu tujuh pintu...
4-Allah menghiasi al-Quran dgn tujuh surah yg panjang. kemudian dihiasi pula baginya dengan tujuh ayat pembuka kitab. ( al-Fatehah)
5-Allah menghiasi manusia dgn tujuh anggota badan iaitu dua tangan, dua lutut, dua kaki dan satu wajah, Dan kemudian dihiasi pula nggota yg tujuh itu dengan tujuh peribadatan iaitu dua tangan dgn doa, dua kaki dgn berdir tegak, dua lutut dgn duduk dan muka dgn sujud.
6- Allah menghiasi umur manusia dgn tujuh peringkat... .iaitumasa lahir di sebut"RADLI" , kemudian "FATHIM", kemudian "KUHUL", kemudian "SYAIKH". Dan dihiasi dengan tujuh peringkat ini dengan tujuh kalimah iaitu: LA ILAHAILLALLAH MUHAMMAD RASULLULLAH.
7- Allah menghiasi dunia dgn tujuh negeri yg besar iaitu
i- Hindustan, ii- Hijaz, iii- Basrah, Badiyah dan Kufah,
iv- Iraq,Syam, Khurasan, sampai Balakh,
v- rome dan Armania vi- Ya'juj dan Ma'juj vii- Cina dan Turkistan.
kemudian Allah hiasi tujuh negeri itu dgn tujuh hari, Sabtu, ahad, isnin,selasa, rabu, khamis dan jumaat, kemudian Allah muliakan tujuh Hari itu dgn tujuh Nabi iaitu Nabi Musa a.s ( sabtu) , Nabi Isa a.s ( Ahad), NabiDaud a.s ( Isnin) , Nabi Sulaiman a.s( selasa) ,Nabi YA'kub a.s ( Rabu), Nabi Adam ( khamis) dan Nabi Muhammad s.a.w dengan umatnya pada hari Jumaat.
wassalam... segala yg baik itu datang dari Allah, dan segala kesilapan itu datangnya dari kedahaifan saya sendiri sebagai hamba Allah.
Barangsiapa yang ingin menikah maka pilihlah calon istri yang memiliki sifat dan kriteria sebagai berikut:
1.Perempuan yang ta'at beragama, ini didasarkan pada hadits Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw. bersabda, "Perempuan dinikahi karena empat faktor: (pertama) karena harta bendanya, (kedua) karena kemulyaan leluhurnya, (ketiga) karena kecantikannya), dan (keempat) karena kepatuhannya kepada agamanya, maka utamakanlah perempuan yang ta'at kepada agamanya; (jika tidak), pasti celaka kamu." (Muttafaqun 'alaih: Fathul Bari IX:132 no: 5090, Muslim II:1086 no:1466, 'Aunul Ma'bud VI:42 no:2032, Ibnu Majah I:597 no:1858 dan Nasa'i VI:68).
1.Perempuan yang ta'at beragama, ini didasarkan pada hadits Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw. bersabda, "Perempuan dinikahi karena empat faktor: (pertama) karena harta bendanya, (kedua) karena kemulyaan leluhurnya, (ketiga) karena kecantikannya), dan (keempat) karena kepatuhannya kepada agamanya, maka utamakanlah perempuan yang ta'at kepada agamanya; (jika tidak), pasti celaka kamu." (Muttafaqun 'alaih: Fathul Bari IX:132 no: 5090, Muslim II:1086 no:1466, 'Aunul Ma'bud VI:42 no:2032, Ibnu Majah I:597 no:1858 dan Nasa'i VI:68).
2.Sebaiknya perawan, kecuali memang ada kemashlahatan sehingga patut menikah dengan janda, berdasarkan hadits, dari Jabir bin Abdullah r.a. berkata, pada masa Rasulullah saw. saya pernah kawin dengan seorang wanita muda, kemudian bertemu Nabi saw. lalu beliau bertanya, "Ya Jabir, sudahkah engkau kawin?" Saya jawab, "Ya (sudah)." Beliau bertanya (lagi), "Perawan atau janda?" Saya jawab," Janda." Tanya beliau (lagi), "Mengapa engkau tidak (menikah) dengan perawan, engkau bisa bercumbu rayu dengannya?" Saya menjawab, "Ya Rasulullah sesungguhnya saya mempunyai beberapa saudara perempuan, saya merasa khawatir kalau seorang gadis yang berada di antara kami dan mereka (akan timbul masalah, yang tidak diinginkan)." Maka sabda beliau, "Maka kalau begitu (alasanmu) pantas untukmu.
Sesungguhnya perempuan dinikahi karena agamanya, harta bendanya, dan kecantikannya. Maka hendaklah kamu mengutamakan perempuan yang ta'at kepada agamanya. (jika tidak) pasti celaka kamu," (Muttafaqun 'alaih: Muslim II:1087 no:715, lafadz ini baginya, dan yang sema'na, dengan riwayat ini, tanpa kalimat terakhir, diriwayatkan oleh Imam, Bukhari dalam Fathul Bari IX:125 no:5079, 'Aunul Ma'bud VI:43: no:2033, Tirmidzi II:280 no:1106, Ibnu Majah I:598 no:1860 Nasa'i VI:65 dengan lafadz yang sama dengan yang diriwayatkan Imam Muslim dengan sedikit tambahan).
3.Perempuan yang subur. Berdasarkan hadits Dari Anas r.a. dari Nabi saw, Beliau bersabda, "Kawinlah perempuan yang penyayang lagi subur, karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan besarnya jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain." (Shahih: Shahihul Jami'us Shaghir no:294, Irwa-ul Ghalil no:1784, 'Aunul Ma'bud VI:47 no:2035 dan Nasa'i VI:65).
Calon Suami Ideal
Apabila laki-laki diharuskan memilih calon isteri sebagaimana yang telah saya uraikan, maka wali seorang wanita wajib juga berupaya menjatuhkan pilihannya pada calon suami yang salih untuk dinikahi dengan putrinya.
Dari Abu Hatim al-Muzanni r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Manakala ada orang yang kalian ridhai dan akhlaqnya datang kepada kalian (untuk melamar puteri kalian). Maka hendaklah nikahlah ia (dengan puterimu); jika tidak niscaya terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan besar." (Shahih: Shahih Tirmidzi no:866 dan Tirmidzi II:274 no:1091).
Tidak mengapa seseorang menawarkan puterinya atau saudara perempuannya kepada laki-laki yang baik.
Dari Ibnu Umar r.a. bahwa Umar bin Khattab, tatkala Hafshah binti Umar ditinggal menjanda oleh suaminya, Khunais bin binti Umar Khudzafah as-Saham sahabat Rasulullah saw. yang wafat di Madinah maka Umar bin Khattab berkata, "Saya datang kepada Utsman bin Affan menawarkan Hafshah kepadanya." lalu ia berkata, "Saya akan pertimbangkan dalam urusan ini." Lalu saya tunggu beberapa hari, kemudian dia berjumpa denganku, lalu dia berkata, "Hai Umar, sungguh kelihatannya aku tidak menikah (lagi) pada hari-hari ini." Umar melanjutkan ceritanya, Kemudian saya menemui Abu Bakar ash-Shiddiq, lalu saya utarakan kepadanya, "Jika engkau mau, kukawinkan engkau dengan Hafshah binti Umar." Maka, Abu Bakar diam tidak mengatakan sepatah katapun kepadaku dan saya lebih berang kepadanya daripada kepada Utsman.
Apabila laki-laki diharuskan memilih calon isteri sebagaimana yang telah saya uraikan, maka wali seorang wanita wajib juga berupaya menjatuhkan pilihannya pada calon suami yang salih untuk dinikahi dengan putrinya.
Dari Abu Hatim al-Muzanni r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Manakala ada orang yang kalian ridhai dan akhlaqnya datang kepada kalian (untuk melamar puteri kalian). Maka hendaklah nikahlah ia (dengan puterimu); jika tidak niscaya terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan besar." (Shahih: Shahih Tirmidzi no:866 dan Tirmidzi II:274 no:1091).
Tidak mengapa seseorang menawarkan puterinya atau saudara perempuannya kepada laki-laki yang baik.
Dari Ibnu Umar r.a. bahwa Umar bin Khattab, tatkala Hafshah binti Umar ditinggal menjanda oleh suaminya, Khunais bin binti Umar Khudzafah as-Saham sahabat Rasulullah saw. yang wafat di Madinah maka Umar bin Khattab berkata, "Saya datang kepada Utsman bin Affan menawarkan Hafshah kepadanya." lalu ia berkata, "Saya akan pertimbangkan dalam urusan ini." Lalu saya tunggu beberapa hari, kemudian dia berjumpa denganku, lalu dia berkata, "Hai Umar, sungguh kelihatannya aku tidak menikah (lagi) pada hari-hari ini." Umar melanjutkan ceritanya, Kemudian saya menemui Abu Bakar ash-Shiddiq, lalu saya utarakan kepadanya, "Jika engkau mau, kukawinkan engkau dengan Hafshah binti Umar." Maka, Abu Bakar diam tidak mengatakan sepatah katapun kepadaku dan saya lebih berang kepadanya daripada kepada Utsman.
Lalu aku menunggu selama beberapa hari, kemudian Rasulullah saw. meminangnya, maka kunikahkan dia dengan Rasulullah saw, kemudian saya bertemu dengan Abu Bakar, dia berkata kepadaku "Barangkali engkau berang kepadaku pada waktu engkau menawarkan Hafshah kepadaku, lalu aku tidak memberi jawaban sepatah katapun kepadamu?" Saya jawab "Ya (betul)." Kata Abu Bakar selanjutnya, "Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk memberikan jawaban kepadamu mengenai tawaranmu itu melainkan karena dia telah mengetahui bahwa Rasulullah saw. pernah menyebut-nyebut Hafshah sehingga aku tidak ingin membocorkan rahasia Rasulullah saw.. Andaikata Rasulullah saw. tidak jadi melamar Hafshah, niscaya kuterima ia sebagai isteriku." (Shahih" Shahih Nasa'i no:3047, Fathul Bari IX:175 no:5122, Nasa'i VI:77).
Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 534 -- 538.
Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 534 -- 538.
Ungkapan terbabit sering kedengaran di bibir anak muda, tetapi kadangkala mengelirukan bagi sesetengah pihak, namun yang pasti ia merujuk kepada perhubungan antara lelaki dan perempuan.
Berkawan tidak salah, bahkan digalakkan kerana ia selaras dengan fitrah dan membawa banyak manfaat sehinggakan dapat membuatkan hidup lebih ceria.
Cuma, berwaspada apabila kawan lebih daripada had, terlalu rapat dan intim, malah sanggup mengorbankan harga diri.
Justeru, Islam menasihati umatnya sentiasa memelihara kesopanan dan tata cara sepanjang masa, terutama apabila bersosial dan berkawan, supaya kebaikan terjaga.
Ulama tersohor, Sheikh Yusuf Al-Qaradawi, berkata hubungan di antara lelaki dan wanita tidak ditolak secara keseluruhan.
Bagaimanapun, beliau menggariskan beberapa syarat hubungan di antara kedua-dua jantina terbabit, dengan saling merendahkan pandangan dan memastikan tiada pandangan yang disusuli nafsu.
Menurutnya, wanita Islam juga patut prihatin terhadap kod pakaian Islam, yang menutupi seluruh badan, tidak ketat dan menggambarkan bentuk badan.
“Akhlak yang umum sepatutnya diamalkan. Dalam perkataan lain, seorang wanita sepatutnya serius dalam ucapan dan tertib cara berjalan dan melawan godaan syaitan. Tiada wangian dipakai dari rumah.”
Nabi s.a.w bersabda, maksudnya: “Mana-mana wanita yang memakai wangian dan kemudian berjalan melalui sekumpulan lelaki dan mereka mencium wangian itu, dia adalah penzina.”
Al-Qaradawi juga berkata, lelaki dan wanita (bukan mahram) tidak dibenarkan bersama di satu tempat yang tiada lelaki lain.
Bagaimanapun, perkembangan mutakhir mendapati fenomena memiliki teman istimewa kian menjadi-jadi, seolah-olah ia suatu kebiasaan.
Bagaimanpun, apabila teman terbabit berkelakuan di luar jangkaan, timbullah keburukan, malah bagi pelajar prestasi pelajaran merosot, selera makan menurun, bahkan untuk hidup pun tidak bersemangat.
Bekas Presiden Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA), Dr Muzammil Siddiqi, berkata Muslim memang sepatutnya mempunyai hubungan yang baik dengan semua orang, lelaki dan wanita, di sekolah, tempat kerja dan kawasan kejiranan.
“Tetapi Islam tidak membenarkan mengambil orang bukan mahram sebagai kawan rapat kerana hubungan seperti itu kerap membawa perkara haram.
“Ini memungkinkan mereka melakukan dosa atau menghabiskan banyak masa bersama,” katanya sambil mengemukakan ayat 25 Surah an-Nisa sebagai satu hujah atas dakwaan berkenaan.
Perhubungan intim yang membawa kepada pertemuan sosial atau ‘dating’ boleh mengundang pelbagai mala petaka, seperti rogol, pembunuhan dan persundalan.
Fenomena itu mula bercambah ketika muzik Barat mula memekik dari kereta dan pasangan muda berpegangan tangan di kafeteria. Malah, seks sebelum perkahwinan menjadi suatu fenomena yang semakin menjadi-jadi sejak era revolusi seks 1960-an.
Jurnal Persatuan Perubatan Amerika ada melaporkan, peningkatan bilangan gadis mengadakan pertemuan sosial, berisiko berdepan dengan kekejaman, hamil, penderaan, bahaya tingkah laku seksual dan membahayakan diri.
Berikutan itu, ramai di kalangan gadis menderita secara senyap, tidak memberitahu sesiapa kerana takut atau malu.
Walaupun sesetengah mereka cuba memilih untuk bersuara bagi mendapatkan pembelaan, ia hanya membabitkan sebilangan kes tertentu.
Hari ini, bukan sedikit anak muda yang berada dalam keadaan mengelirukan dan keterpaksaan, bersama masa depan yang kabur selepas terjebak dalam perhubungan intim dengan pasangan masing-masing.
Oleh itu Islam menasihati umatnya berwaspada apabila bersosial dan jangan sampai merugikan diri dan keluarga.
Hakikatnya berkawan tidak salah tetapi jika melanggar nilai agama lebih-lebih lagi bertemu dan berdua-duaan, ia dilarang sama sekali.
Sheikh Ahmad Kutty, dari Institut Islam Toronto, Kanada, berkata pertemuan sosial tentu tidak dibenarkan.
Menurutnya, Islam melarang umatnya berdua-duaan dengan pasangan berlainan jantina kecuali hubungan persaudaraan atau perkahwinan.
“Tidak dibenarkan menurut kehendak nafsu secara bebas, bergaul sembarangan dan bercampur dengan kawan berlainan jantina,” katanya.
Nabi Muhammad s.a.w menegaskan: “Apabila seorang lelaki dan wanita duduk bersama mereka ditemani teman ketiga (yang membisikkan kejahatan kepada mereka).”
Katanya, Allah memerintahkan kita bukan saja menahan diri daripada zina tetapi menjauhi daripadanya.
“Menurut hukum ahli fiqah, perkara yang membawa kepada haram juga diputuskan haram. Justeru, apabila pertemuan sosial itu membawa kepada dosa, ia diputuskan haram.
“Jika untuk mengetahui wanita terbabit bagi tujuan perkahwinan, ia dibenarkan tetapi tertakluk kepada etika Islam,” katanya.
Berkawan tidak salah, bahkan digalakkan kerana ia selaras dengan fitrah dan membawa banyak manfaat sehinggakan dapat membuatkan hidup lebih ceria.
Cuma, berwaspada apabila kawan lebih daripada had, terlalu rapat dan intim, malah sanggup mengorbankan harga diri.
Justeru, Islam menasihati umatnya sentiasa memelihara kesopanan dan tata cara sepanjang masa, terutama apabila bersosial dan berkawan, supaya kebaikan terjaga.
Ulama tersohor, Sheikh Yusuf Al-Qaradawi, berkata hubungan di antara lelaki dan wanita tidak ditolak secara keseluruhan.
Bagaimanapun, beliau menggariskan beberapa syarat hubungan di antara kedua-dua jantina terbabit, dengan saling merendahkan pandangan dan memastikan tiada pandangan yang disusuli nafsu.
Menurutnya, wanita Islam juga patut prihatin terhadap kod pakaian Islam, yang menutupi seluruh badan, tidak ketat dan menggambarkan bentuk badan.
“Akhlak yang umum sepatutnya diamalkan. Dalam perkataan lain, seorang wanita sepatutnya serius dalam ucapan dan tertib cara berjalan dan melawan godaan syaitan. Tiada wangian dipakai dari rumah.”
Nabi s.a.w bersabda, maksudnya: “Mana-mana wanita yang memakai wangian dan kemudian berjalan melalui sekumpulan lelaki dan mereka mencium wangian itu, dia adalah penzina.”
Al-Qaradawi juga berkata, lelaki dan wanita (bukan mahram) tidak dibenarkan bersama di satu tempat yang tiada lelaki lain.
Bagaimanapun, perkembangan mutakhir mendapati fenomena memiliki teman istimewa kian menjadi-jadi, seolah-olah ia suatu kebiasaan.
Bagaimanpun, apabila teman terbabit berkelakuan di luar jangkaan, timbullah keburukan, malah bagi pelajar prestasi pelajaran merosot, selera makan menurun, bahkan untuk hidup pun tidak bersemangat.
Bekas Presiden Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA), Dr Muzammil Siddiqi, berkata Muslim memang sepatutnya mempunyai hubungan yang baik dengan semua orang, lelaki dan wanita, di sekolah, tempat kerja dan kawasan kejiranan.
“Tetapi Islam tidak membenarkan mengambil orang bukan mahram sebagai kawan rapat kerana hubungan seperti itu kerap membawa perkara haram.
“Ini memungkinkan mereka melakukan dosa atau menghabiskan banyak masa bersama,” katanya sambil mengemukakan ayat 25 Surah an-Nisa sebagai satu hujah atas dakwaan berkenaan.
Perhubungan intim yang membawa kepada pertemuan sosial atau ‘dating’ boleh mengundang pelbagai mala petaka, seperti rogol, pembunuhan dan persundalan.
Fenomena itu mula bercambah ketika muzik Barat mula memekik dari kereta dan pasangan muda berpegangan tangan di kafeteria. Malah, seks sebelum perkahwinan menjadi suatu fenomena yang semakin menjadi-jadi sejak era revolusi seks 1960-an.
Jurnal Persatuan Perubatan Amerika ada melaporkan, peningkatan bilangan gadis mengadakan pertemuan sosial, berisiko berdepan dengan kekejaman, hamil, penderaan, bahaya tingkah laku seksual dan membahayakan diri.
Berikutan itu, ramai di kalangan gadis menderita secara senyap, tidak memberitahu sesiapa kerana takut atau malu.
Walaupun sesetengah mereka cuba memilih untuk bersuara bagi mendapatkan pembelaan, ia hanya membabitkan sebilangan kes tertentu.
Hari ini, bukan sedikit anak muda yang berada dalam keadaan mengelirukan dan keterpaksaan, bersama masa depan yang kabur selepas terjebak dalam perhubungan intim dengan pasangan masing-masing.
Oleh itu Islam menasihati umatnya berwaspada apabila bersosial dan jangan sampai merugikan diri dan keluarga.
Hakikatnya berkawan tidak salah tetapi jika melanggar nilai agama lebih-lebih lagi bertemu dan berdua-duaan, ia dilarang sama sekali.
Sheikh Ahmad Kutty, dari Institut Islam Toronto, Kanada, berkata pertemuan sosial tentu tidak dibenarkan.
Menurutnya, Islam melarang umatnya berdua-duaan dengan pasangan berlainan jantina kecuali hubungan persaudaraan atau perkahwinan.
“Tidak dibenarkan menurut kehendak nafsu secara bebas, bergaul sembarangan dan bercampur dengan kawan berlainan jantina,” katanya.
Nabi Muhammad s.a.w menegaskan: “Apabila seorang lelaki dan wanita duduk bersama mereka ditemani teman ketiga (yang membisikkan kejahatan kepada mereka).”
Katanya, Allah memerintahkan kita bukan saja menahan diri daripada zina tetapi menjauhi daripadanya.
“Menurut hukum ahli fiqah, perkara yang membawa kepada haram juga diputuskan haram. Justeru, apabila pertemuan sosial itu membawa kepada dosa, ia diputuskan haram.
“Jika untuk mengetahui wanita terbabit bagi tujuan perkahwinan, ia dibenarkan tetapi tertakluk kepada etika Islam,” katanya.
Tidaklah dua orang saling mencintai kerana Allah, melainkan orang yang paling dicintai Allah, diantara keduanya ialah orang yang paling besar cintanya kepada saudaranya." HR. Ibnu Hibban dan Al-Hakim.
Rasa cinta adalah fitrah manusia. Kerananya, percintaan adalahrentangan waktu kehidupan manusia yang akan mereka lalui dengan keindahan dan haru biru. Cinta yang tulus, insyaAllah akanmenyelamatkan manusia dari api neraka yang maha dahsyat panasnya.
Cinta tulus, terbesar dan hakiki adalah cinta kepada Allah. Bukharidan Muslim meriwayatkan sebuah sabda Rasulullah Saw. melalui Anas ra., "Ada tiga perkara yang barangsiapa dalam dirinya terdapat ketiga perkara itu, dia pasti merasakan manisnya iman, iaitu Allah dan RasulNya lebih dicintainya daripada yang lain; mencintai seseorang tiada lain hanya kerana Allah; dan tidak ingin kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan Allah sebagaimana dia tidak ingin kalau dicampakkan ke dalam api."
Sesungguhnya persaudaraan kita merupakan buah dari ketinggian akhlak, dan tafarruq (perselisihan) kita merupakan akibat dari rendahnya akhlak. Akhlak yang bagus membuahkan rasa saling cinta, saling sayang, dan saling memberikan manfaat. Kerana itu, cinta melahirkan ukhuwah. Ukhuwah yang telah digambarkan secara mengharukan oleh Bilal, Amar dan Zaid, atau Umar, Ali dan Utsman, yang bersanding dan bercinta kerana Allah. Kasih sayang diantara mereka merupakan gambaran janin ukhuwah yang dikandung dalam perut iman, dan terlahir dari ibu yang bernama iman.
Ukhuwah bererti bersatunya hati-hati yang ruhnya terikat dengan ikatan akidah. Kerananya, persaudaraan adalah bentuk keimanan yang terikat dengan akidah yang amat kuat. Sementara perpecahannya adalah gambaran kekufuran, yang menempatkan keimanan dan kasih sayang di tempat sampah. Oleh kerana itu, manusia yang benar fikrahnya adalah manusia yang melihat saudaranya lebih utama dibanding dirinya sendiri. Jika perkara ini terjadi, ukhuwah akan terasa sangat indah, nikmat, dan manis.
Persaudaraan dan saling mencintai kerana Allah adalah salah satu ibadah yang paling utama dalam agama kita. Siapapun yang berupayamewujudkannya, tiada perkara lain baginya kecuali syurga yang maha indah. Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa bersaudara dengan seseorang kerana Allah, maka Allah mengangkatnya satu darjat di syurga, yang tidak didapatnya dengan sesuatu amalan lainnya".
Ibnu Jarir pun meriwayatkan sabda Rasulullah Saw. dari Ibnu 'Abbas ra., ia berkata, "Barangsiapa mencintai seseorang kerana Allah, membenci seseorang kerana Allah, membela seseorang kerana Kecintaan Sesama Saudara Islam Kerana ALLAH
Allah, dan memusuhi seseorang kerana Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan dari Allah boleh diperoleh dengan perkara Seorang hamba tidak akan menemukan nikmatnya iman, sekalipun banyak sholat dan shaum, sehingga dia bersikap demikian. Persahabatan diantara manusia pada umumnya didasarkan atas kepentingan dunia, namun perkara itu tidak berguna sedikitpun bagi mereka."
Cinta seorang Mukmin adalah kekuatan. Ia bagaikan perekat yang mengikat batu bata individu Muslim dalam sebuah bangunan yang kukuh dan tidak mudah roboh. Allah Swt. Berfirman; " Sesungguhnya
orang-orang mukmin adalah bersaudara." (Q.S Al-Hujurat : 10)
Sementara itu, Rasulullah Saw bersabda, "Mukmin yang satu terhadap Mukmin yang lain itu bagaikan bangunan yang mengikat antara sebagian dengan sebagian yang lainnya." HR. Muttafaqun 'Alaih .
Persaudaraan Islam bukanlah suatu permasalahan sampingan dalam Islam, tetapi ia menjadi salah satu prinsip dasar yang menyertai syahadah (persaksian) terhadap keesaan Allah dan kesaksianterhadap kerasulan Muhammad Saw. Persaudaraan merupakan buah dan konsekuensi keimanan yang amat sangat indah. Kerana itu, kita harus sama-sama yakin bahawa keindahanNya qadim. KeagunganNya tinggi. Kekuasaan dan penguasaanNya Maha Dahsyat. KeindahanNya berpadu dengan kemuliaan. KeagunganNya berpadu dengan keluhuran. KebesaranNya tidak pernah berakhir. KeindahanNya pesona hati. KeagunganNya meningkatkan cinta. Sungguh, tiada cinta yang hakiki kecuali cintaNya kepada kita sebagai makhlukNya, dan cinta kita kepadaNya. Adakah kita merasakan semuanya? Wallahualam.
Rasa cinta adalah fitrah manusia. Kerananya, percintaan adalahrentangan waktu kehidupan manusia yang akan mereka lalui dengan keindahan dan haru biru. Cinta yang tulus, insyaAllah akanmenyelamatkan manusia dari api neraka yang maha dahsyat panasnya.
Cinta tulus, terbesar dan hakiki adalah cinta kepada Allah. Bukharidan Muslim meriwayatkan sebuah sabda Rasulullah Saw. melalui Anas ra., "Ada tiga perkara yang barangsiapa dalam dirinya terdapat ketiga perkara itu, dia pasti merasakan manisnya iman, iaitu Allah dan RasulNya lebih dicintainya daripada yang lain; mencintai seseorang tiada lain hanya kerana Allah; dan tidak ingin kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan Allah sebagaimana dia tidak ingin kalau dicampakkan ke dalam api."
Sesungguhnya persaudaraan kita merupakan buah dari ketinggian akhlak, dan tafarruq (perselisihan) kita merupakan akibat dari rendahnya akhlak. Akhlak yang bagus membuahkan rasa saling cinta, saling sayang, dan saling memberikan manfaat. Kerana itu, cinta melahirkan ukhuwah. Ukhuwah yang telah digambarkan secara mengharukan oleh Bilal, Amar dan Zaid, atau Umar, Ali dan Utsman, yang bersanding dan bercinta kerana Allah. Kasih sayang diantara mereka merupakan gambaran janin ukhuwah yang dikandung dalam perut iman, dan terlahir dari ibu yang bernama iman.
Ukhuwah bererti bersatunya hati-hati yang ruhnya terikat dengan ikatan akidah. Kerananya, persaudaraan adalah bentuk keimanan yang terikat dengan akidah yang amat kuat. Sementara perpecahannya adalah gambaran kekufuran, yang menempatkan keimanan dan kasih sayang di tempat sampah. Oleh kerana itu, manusia yang benar fikrahnya adalah manusia yang melihat saudaranya lebih utama dibanding dirinya sendiri. Jika perkara ini terjadi, ukhuwah akan terasa sangat indah, nikmat, dan manis.
Persaudaraan dan saling mencintai kerana Allah adalah salah satu ibadah yang paling utama dalam agama kita. Siapapun yang berupayamewujudkannya, tiada perkara lain baginya kecuali syurga yang maha indah. Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa bersaudara dengan seseorang kerana Allah, maka Allah mengangkatnya satu darjat di syurga, yang tidak didapatnya dengan sesuatu amalan lainnya".
Ibnu Jarir pun meriwayatkan sabda Rasulullah Saw. dari Ibnu 'Abbas ra., ia berkata, "Barangsiapa mencintai seseorang kerana Allah, membenci seseorang kerana Allah, membela seseorang kerana Kecintaan Sesama Saudara Islam Kerana ALLAH
Allah, dan memusuhi seseorang kerana Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan dari Allah boleh diperoleh dengan perkara Seorang hamba tidak akan menemukan nikmatnya iman, sekalipun banyak sholat dan shaum, sehingga dia bersikap demikian. Persahabatan diantara manusia pada umumnya didasarkan atas kepentingan dunia, namun perkara itu tidak berguna sedikitpun bagi mereka."
Cinta seorang Mukmin adalah kekuatan. Ia bagaikan perekat yang mengikat batu bata individu Muslim dalam sebuah bangunan yang kukuh dan tidak mudah roboh. Allah Swt. Berfirman; " Sesungguhnya
orang-orang mukmin adalah bersaudara." (Q.S Al-Hujurat : 10)
Sementara itu, Rasulullah Saw bersabda, "Mukmin yang satu terhadap Mukmin yang lain itu bagaikan bangunan yang mengikat antara sebagian dengan sebagian yang lainnya." HR. Muttafaqun 'Alaih .
Persaudaraan Islam bukanlah suatu permasalahan sampingan dalam Islam, tetapi ia menjadi salah satu prinsip dasar yang menyertai syahadah (persaksian) terhadap keesaan Allah dan kesaksianterhadap kerasulan Muhammad Saw. Persaudaraan merupakan buah dan konsekuensi keimanan yang amat sangat indah. Kerana itu, kita harus sama-sama yakin bahawa keindahanNya qadim. KeagunganNya tinggi. Kekuasaan dan penguasaanNya Maha Dahsyat. KeindahanNya berpadu dengan kemuliaan. KeagunganNya berpadu dengan keluhuran. KebesaranNya tidak pernah berakhir. KeindahanNya pesona hati. KeagunganNya meningkatkan cinta. Sungguh, tiada cinta yang hakiki kecuali cintaNya kepada kita sebagai makhlukNya, dan cinta kita kepadaNya. Adakah kita merasakan semuanya? Wallahualam.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, selawat dan salam untuk nabi dan rasul yang paling mulia, nabi kita Muhammad SAW, keluarga dan seluruh sahabatnya.
Dibawah ini adalah ulasan tentang beberapa amalan yang mudah dilaksanakan dan akan mendapatkan ganjaran pahala yang sangat besar dengan kurnia dari Allah. Amalan-amalan ini banyak dilalaikan dan diremehkan oleh sebahagian besar manusia, padahal di dalamnya terdapat banyak pahala, di antaranya adalah sebagai berikut :-
1. Memperbanyak solat di al-Haramain asy-Syarifain (Masjid Haram dan Masjid Nabawi).
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra. Rasulullah saw. bersabda: "Salat di masjidku ini lebih afdal dari 1000 solat di masjid lainnya kecuali masjid Haram, dan solat di masjid Haram lebih afdhal dari 100.000 solat di masjid lainnya." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Dan solat seorang wanita dirumahnya lebih baik daripada solat di masjid Haram dan masjid Nabawi.
2. Solat di masjid Quba'.
Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang keluar hingga sampai ke masjid ini, masjid Quba', lalu solat didalamnya, maka baginya pahala yang sama dengan (pahala) umrah." (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah).
3. Rutin melaksanakan solat Dhuha.
Dan waktu yang terbaik untuk melaksanakannya adalah ketika matahari sudah semakin terik, Rasulullah saw. bersabda: " Solatnya orang-orang yang bertaubat adalah ketika unta kecil telah merasakan panasnya (matahari)." (HR. Muslim).
4. Menggandakan istighfar,
Seperti dengan membaca doa: "Ya Allah, ampunilah orang-orang mukminin dan mukminat, orang-orang muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup di antara mereka maupun yang sudah meninggal." Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang meminta ampun untuk orang-orang mukmin dan mukminat maka Allah akan menuliskan untuknya setiap mukmin dan mukminat satu kebaikan." (HR. Thabrani).
5. Qiyamul Lail pada saat Lailatul Qodar.
Tahukah Anda bahwa pahala orang yang melaksanakan qiyamul lail pada saat lailatul qodar lebih afdhal dari pahala ibadah selama kira-kira 83 tahun lebih 3 bulan? Allah swt. berfirman: " Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan ijin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS. Al-Qodar: 1-5).
6. Menggandakan Tasbih,
yaitu dengan membaca: " Maha suci Allah dan dengan memuji-Nya sebanyak makhluk-Nya, keridhoan diri-Nya, seberat Ars-Nya, dan sepanjang kalimat-Nya."
7. Membaca doa ketika akan memasuki pasar.
Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang memasuki pasar maka hendaklah ia membaca [ Laa ilaaha illallahu wahdahuu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumiitu, wa huwa hayyun laa yamuutu, biyadihil khoir, wa huwa 'alaa kulli syai'in qodiir.] (Tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian, Yang menghidupkan dan Mematikan. Ia hidup dan tidak mati, di Tangan-Nya kebaikan dan Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu.), maka Allah akan menulis baginya satu juta kebaikan, dihapuskan darinya satu juta kejelekan dan diangkat dirajatnya satu juta dirajat." Dan dalam riwayat lain disebutkan: "Dan akan dibangun untuknya rumah di surga." (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim).
8. Berumrah di bulan Ramadhan.
Karena berumrah di bulan Ramadhan sama dengan berhaji sekali. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. kepada Ummu Sinan: " Bila bulan Ramadhan tiba maka berumrahlah karena berumrah di saat tersebut sama dengan berhaji sekali." Atau bersabda: "sama dengan berhaji bersamaku." (Muttafaqun 'alaihi).
9. Mengamalkan adab-adab pada hari Jumat. Rasulullah saw. bersabda: "Siapa yang memandikan atau mandi lalu bersegera dan berjalan kaki, tidak dengan mengendarai sesuatu, lalu mendekati imam, menyimak dan tidak bercanda, maka baginya setiap langkah amal setahun pahala puasa dan solatnya." (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi dan Nasai).
10. Puasa.
Nabi saw. menganjurkan untuk memperbanyakkan puasa sunnah dalam beberapa hari tertentu dalam satu tahun, misalnya puasa dua hari (Senin dan Kamis), hari-hari putih (13, 14, 15 setiap bulan Hijriah), bulan Sya'ban, enam hari di bulan Syawal, Muharram, sepuluh Dzulhijjah, puasa hari Arafah bagi selain jemaah haji dan pada hari Asyura. Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya (dirinya) dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan." (HR. Ahmad).
11. Memberi buka puasa bagi orang-orang yang berpuasa.
Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang memberi buka pada orang yang berpuasa maka baginya sama dengan pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun." (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
12. Memperbanyak ucapan: [Laa haula walaa quwwata illaa billah]
("Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah."). Karena ucapan ini adalah salah satu kekayaan surga, sebagaimana dijelaskan dalam salah satu hadit Muttafaqun 'alaihi dari Rasulullah.
13. Memenuhi kebutuhan manusia.
Rasulullah saw. bersabda dalam salah satu hadit yang panjang: "Aku berjalan beriring dengan saudaraku sesama muslim dalam suatu keperluan lebih aku senangi daripada beri'tikaf di masjid selama satu bulan." (HR. Thabrani dan ditahsin oleh Al-Albani).
Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:
“Manusia yang paling dikasihi Allah ialah orang yang memberi manfaat kepada orang lain dan amalan yang paling disukai oleh Allah ialah menggembirakan hati orang-orang Islam atau menghilangkan kesusahan daripadanya atau menunaikan keperluan hidupnya di dunia atau memberi makan orang yang lapar. Perjalananku bersama saudaraku yang muslim untuk menunaikan hajatnya, adalah lebih aku sukai daripada aku beriktikaf di dalam masjid ini selama sebulan, dan sesiapa yang menahan kemarahannya sekalipun ia mampu untuk membalasnya nescaya Allah akan memenuhi keredhaannya di dalam hatinya pada hari Qiamat, dan sesiapa yang berjalan bersama-sama saudaranya yang Islam untuk menunaikan hajat saudaranya itu hinggalah selesai hajatnya nescaya Allah akan tetapkan kakinya(ketika melalui pada hari Qiamat) dan sesungguhnya akhlak yang buruk akan merosakkan amalan seperti cuka merosakkan madu.” (Riwayat Ibnu Abi Dunya)
14. Solat dua rakaat setelah terbitnya matahari.
Dari Anas bin Malik ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang solat subuh berjamaah lalu duduk-duduk berzikir kepada Allah hingga terbitnya matahari kemudian solat dua rakaat maka ia akan mendapatkan pahala haji dan umrah." Beliau berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Sempurna, sempurna, sempurna." (HR. Tirmidzi dan ditahsin oleh Al-Albani).
15. Menbantu anak yatim.
Dari Sahal bin Saad bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Saya dan pengasuh anak yatim di surga seperti ini." (HR. Bukhari) "Beliau memberi isyarat dengan kedua jarinya, jari telunjuk dan tengah." Dan Anda bisa melakukan itu melalui salah satu yayasan atau lembaga sosial lainnya.
16. Senantiasa solat jenazah.
Dari Abu Hurairah ra. berkata: "Rasulullah saw. bersabda: "Siapa yang menghadiri jenazah hingga disolati maka baginya pahala satu qirath, dan siapa yang menghadirinya hingga dimakamkan maka ia akan mendapatkan dua pahala qirath." Dikatakan kepada beliau: "Apakah qirath itu?" Beliau menjawab: "Yaitu seperti dua gunung yang besar." (Muttafaqun 'alaihi).
17. Memperbanyak selawat untuk Nabi saw.Jadi barangsiapa yang berselawat untuk nabi saw. sekali, maka Allah akan berselawat untuknya sepuluh kali, dan akan menjadi manusia paling utama nanti pada hari kiamat. Allah swt. mewakilkan malaikat yang berkeliling menyampaikan salam ummatnya kepada nabi mereka.
18. Solat Isya'k dan Subuh secara berjamaah.
Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang solat isya'k secara berjamaah maka seakan-akan ia telah melaksanakan solat tengah malam, dan barangsiapa yang solat subuh berjamaah maka seakan-akan ia telah melaksanakan solat sepanjang malam." (HR. Muslim).
19. Membaca tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali pada setiap selesai solat, lalu membaca: laa ilaaha illallahu, wahdahuu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu, wahuwa 'alaa kulli syai'in qodiir.
Ucapan ini memiliki keutamaan yang sangat besar sebagaimana diriwayatkan dalam hadis tentang orang-orang fakir Muhajirin yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah (hadis panjang Muttafaqun 'alaihi) dalam bab "Dzikir-dzikir yang dibaca setelah solat fardu."
20. Dakwah kepada Allah dan menasihati orang lain.
Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia pun akan menanggung dosa yang sama dengan dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun." (HR. Muslim). Jadi bila Anda menasihati orang lain untuk menuju Allah maka pahala nasihat itu ukan mengalir untukmu selama nasihat itu masih berguna bagi dirinya hingga hari kiamat. Misalnya dengan menyebarkan kebaikan seperti tulisan-tulisan yang ada di hadapan Anda sekarang ini, maka Anda akan mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya hingga hari kiamat dengan adzin Allah swt..
Rasulullah s.a.w bersabda: "Sesungguhnya Allah sentiasa memberi rahmat dan Malaikat-Nya serta penduduk langit dan bumi - sehinggakan semut dalam lubangnya dan ikan di laut - sentiasa berdoa untuk sesiapa yang mengajarkan perkara-perkara yang baik kepada orang ramai." (Abu Umamah r.a)
21. Solat empat rakaat sebelum ashar.
Sabda Rasulullah saw.: "Semoga Allah merahmati seseorang yang solat 4 rakaat sebelum ashar." (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Empat rakaat itu dilakukan dengan dua salam setelah azan dan sebelum iqomah.
22. Mengunjungi orang yang sakit.
Sabda Rasulullah saw.: "Barangsiapa mengunjungi orang yang sakit, maka ia akan tetap di khurfah surga." Rasulullah saw. ditanya: "Apakah khurfah surga itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Buah surga yang dipetik." (HR. Muslim). "Dan Anda akan diampuni oleh 70.000 malaikat." (Sebagaimana yang terdapat dalam hadits panjang.)
23. Puasa, mengikuti jenazah, menengok orang yang sakit, dan memberi makan orang miskin.
Bila semua ini terkumpul pada seorang muslim pada satu hari maka ia akan masuk surga dengan karunia Allah, sebagaimana yang terjadi pada diri Abu Bakar ra., di mana Rasulullah saw. bersabda dalam hadis yang panjang: "Tidaklah hal itu semua berkumpul pada seseorang kecuali ia akan masuk surga." (HR. Muslim).
24. Mengadakan perdamaian di antara manusia.
Allah swt. berfirman: "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi shodaqoh atau berbuat ma'ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia." (QS. An-Nisa: 114). Dan banyak hadits yang menunjukkan keutamaan hal itu, yang tidak mungkin kita membahasnya semua karena kesempatan yang terlalu sempit.
25. Memperbanyak ucapan [Subhaanallahi walhamdulillahi walaailaaha illallahu wallahu akbar].
Ucapan ini lebih afdhal daripada hari terbitnya matahari, sebagaimana terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Nabi saw.. Ucapan ini juga termasuk yang paling disenangi oleh Allah swt. sebagaimana dalam hadits shohih.
26. Membaca Surah Al-Ikhlas berulang-ulang.
Karena surah ini sebanding dengan sepertiga Al-Quran dalam hal pahala dan kandungan maknanya, di mana surat ini mengandung Tauhid, pengagungan dan penghormatan kepada Allah swt.. Rasulullah saw. bersabda: "Qul huwallahu ahad, sebanding dengan sepertiga Al-Quran, dan Qul yaa ayyuhal kaafirun, sebanding dengan seperempat Al-Quran." (HR. Thabrani dan ditashih oleh as-Suyuti dan al-Albani). Dan perlu diperhatikan bahwa sepertiga dalam keutamaan tidak berarti merasa cukup membacanya dan meninggalkan bacaan surat-surat Al-Quran lainnya.
27. Solat empat rakaat sebelum dhuhur dan empat rakaat setelahnya.
Dari Ummu Habibah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang senantiasa melaksanakan solat sunnat 4 rakaat sebelum dhuhur dan 4 rakaat setelah dhuhur maka Allah akan mengharamkan baginya neraka." (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Empat rakaat itu dengan dua salam antara adzan dan iqomah, dan 4 rakaat dengan dua salam setelah sholat dhuhur.
28. Qiyamul Lail, menyebarkan salam dan memberi makan.
Dari Abdullah bin Salam ra., Nabi saw. bersabda: "Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makan dan solatlah di waktu malam sementara manusia sedang tidur, maka kalian akan masuk surga dengan selamat." (HR. Tirmidzi). Rasulullah saw. bersabda: "Solat yang paling afdal setelah solat fardhu adalah sholat lail." (HR. Muslim).
29. Mengikuti ucapan muadzin.
Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang membaca ketika mendengar azan: [Allahumma rabba hadzihidda'watittaammati washsholatil qooimati aati Muhammadanil wasiilata walfadhiilata wab'atshu maqoomam mahmuudanilladzi wa 'adtah] ("Ya Allah, Tuhan pemilik panggilan yang sempurna ini (azan) dan solat (wajib) yang ditegakkan ini. Berilah wasilah (derajat yang tinggi) dan fadhilah kepada Rasulullah dan bangkitkanlah beliau pada maqom yang terpuji yang telah Engkau janjikan.") Maka ia berhak mendapatkan syafaatku nanti pada hari kiamat." (HR. Bukhari).
30. Memperbanyak membaca dan menghapal Al-Quran.
Allah swt. berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan solat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi." (QS. Faathir: 29). Dari Ibnu Mas'ud ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah maka baginya satu kebaikan dan kebaikan itu dilipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan. Saya tidak mengatakan bahwa 'alif laam mim' itu satu huruf, tetapi 'alif' satu huruf, 'laam' satu huruf, dan 'mim' satu huruf." (HR. Tirmidzi dan berkata: "Hadits hasan shohih").
31. Memperbanyak zikir kepada Allah.
Sabda Rasulullah saw.: "Maukah kalian aku kabarkan kepada kalian amalan yang paling baik dan suci yang kalian miliki, yang paling tinggi dalam derajat kalian, paling baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak dan lebih baik daripada ketika kalian bertemu musuh lalu kalian memenggal lehernya atau mereka memenggal leher kalian?" Mereka menjawab: "Tentu". Beliau bersabda: "Yaitu zikir kepada Allah Ta'ala." (HR. Tirmidzi).
32. Mengekalkan akhlak yang baik
Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:
“Sesungguhnya seseorang mukmin itu dapat mencapai darjat orang yang berpuasa yang mendirikan sembahyang ditengah malam disebabkan akhlaknya yang mulia”. (Riwayat Abu Daud)
Selawat dan salam untuk nabi kita Muhammad saw, berserta keluarga dan para sahabatnya.
Dari Abdullah bin 'Amr R.A, Rasulullah S.A.W bersabda:
" Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..."
Dibawah ini adalah ulasan tentang beberapa amalan yang mudah dilaksanakan dan akan mendapatkan ganjaran pahala yang sangat besar dengan kurnia dari Allah. Amalan-amalan ini banyak dilalaikan dan diremehkan oleh sebahagian besar manusia, padahal di dalamnya terdapat banyak pahala, di antaranya adalah sebagai berikut :-
1. Memperbanyak solat di al-Haramain asy-Syarifain (Masjid Haram dan Masjid Nabawi).
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra. Rasulullah saw. bersabda: "Salat di masjidku ini lebih afdal dari 1000 solat di masjid lainnya kecuali masjid Haram, dan solat di masjid Haram lebih afdhal dari 100.000 solat di masjid lainnya." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Dan solat seorang wanita dirumahnya lebih baik daripada solat di masjid Haram dan masjid Nabawi.
2. Solat di masjid Quba'.
Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang keluar hingga sampai ke masjid ini, masjid Quba', lalu solat didalamnya, maka baginya pahala yang sama dengan (pahala) umrah." (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah).
3. Rutin melaksanakan solat Dhuha.
Dan waktu yang terbaik untuk melaksanakannya adalah ketika matahari sudah semakin terik, Rasulullah saw. bersabda: " Solatnya orang-orang yang bertaubat adalah ketika unta kecil telah merasakan panasnya (matahari)." (HR. Muslim).
4. Menggandakan istighfar,
Seperti dengan membaca doa: "Ya Allah, ampunilah orang-orang mukminin dan mukminat, orang-orang muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup di antara mereka maupun yang sudah meninggal." Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang meminta ampun untuk orang-orang mukmin dan mukminat maka Allah akan menuliskan untuknya setiap mukmin dan mukminat satu kebaikan." (HR. Thabrani).
5. Qiyamul Lail pada saat Lailatul Qodar.
Tahukah Anda bahwa pahala orang yang melaksanakan qiyamul lail pada saat lailatul qodar lebih afdhal dari pahala ibadah selama kira-kira 83 tahun lebih 3 bulan? Allah swt. berfirman: " Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan ijin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS. Al-Qodar: 1-5).
6. Menggandakan Tasbih,
yaitu dengan membaca: " Maha suci Allah dan dengan memuji-Nya sebanyak makhluk-Nya, keridhoan diri-Nya, seberat Ars-Nya, dan sepanjang kalimat-Nya."
7. Membaca doa ketika akan memasuki pasar.
Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang memasuki pasar maka hendaklah ia membaca [ Laa ilaaha illallahu wahdahuu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumiitu, wa huwa hayyun laa yamuutu, biyadihil khoir, wa huwa 'alaa kulli syai'in qodiir.] (Tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian, Yang menghidupkan dan Mematikan. Ia hidup dan tidak mati, di Tangan-Nya kebaikan dan Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu.), maka Allah akan menulis baginya satu juta kebaikan, dihapuskan darinya satu juta kejelekan dan diangkat dirajatnya satu juta dirajat." Dan dalam riwayat lain disebutkan: "Dan akan dibangun untuknya rumah di surga." (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim).
8. Berumrah di bulan Ramadhan.
Karena berumrah di bulan Ramadhan sama dengan berhaji sekali. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. kepada Ummu Sinan: " Bila bulan Ramadhan tiba maka berumrahlah karena berumrah di saat tersebut sama dengan berhaji sekali." Atau bersabda: "sama dengan berhaji bersamaku." (Muttafaqun 'alaihi).
9. Mengamalkan adab-adab pada hari Jumat. Rasulullah saw. bersabda: "Siapa yang memandikan atau mandi lalu bersegera dan berjalan kaki, tidak dengan mengendarai sesuatu, lalu mendekati imam, menyimak dan tidak bercanda, maka baginya setiap langkah amal setahun pahala puasa dan solatnya." (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi dan Nasai).
10. Puasa.
Nabi saw. menganjurkan untuk memperbanyakkan puasa sunnah dalam beberapa hari tertentu dalam satu tahun, misalnya puasa dua hari (Senin dan Kamis), hari-hari putih (13, 14, 15 setiap bulan Hijriah), bulan Sya'ban, enam hari di bulan Syawal, Muharram, sepuluh Dzulhijjah, puasa hari Arafah bagi selain jemaah haji dan pada hari Asyura. Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya (dirinya) dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan." (HR. Ahmad).
11. Memberi buka puasa bagi orang-orang yang berpuasa.
Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang memberi buka pada orang yang berpuasa maka baginya sama dengan pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun." (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
12. Memperbanyak ucapan: [Laa haula walaa quwwata illaa billah]
("Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah."). Karena ucapan ini adalah salah satu kekayaan surga, sebagaimana dijelaskan dalam salah satu hadit Muttafaqun 'alaihi dari Rasulullah.
13. Memenuhi kebutuhan manusia.
Rasulullah saw. bersabda dalam salah satu hadit yang panjang: "Aku berjalan beriring dengan saudaraku sesama muslim dalam suatu keperluan lebih aku senangi daripada beri'tikaf di masjid selama satu bulan." (HR. Thabrani dan ditahsin oleh Al-Albani).
Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:
“Manusia yang paling dikasihi Allah ialah orang yang memberi manfaat kepada orang lain dan amalan yang paling disukai oleh Allah ialah menggembirakan hati orang-orang Islam atau menghilangkan kesusahan daripadanya atau menunaikan keperluan hidupnya di dunia atau memberi makan orang yang lapar. Perjalananku bersama saudaraku yang muslim untuk menunaikan hajatnya, adalah lebih aku sukai daripada aku beriktikaf di dalam masjid ini selama sebulan, dan sesiapa yang menahan kemarahannya sekalipun ia mampu untuk membalasnya nescaya Allah akan memenuhi keredhaannya di dalam hatinya pada hari Qiamat, dan sesiapa yang berjalan bersama-sama saudaranya yang Islam untuk menunaikan hajat saudaranya itu hinggalah selesai hajatnya nescaya Allah akan tetapkan kakinya(ketika melalui pada hari Qiamat) dan sesungguhnya akhlak yang buruk akan merosakkan amalan seperti cuka merosakkan madu.” (Riwayat Ibnu Abi Dunya)
14. Solat dua rakaat setelah terbitnya matahari.
Dari Anas bin Malik ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang solat subuh berjamaah lalu duduk-duduk berzikir kepada Allah hingga terbitnya matahari kemudian solat dua rakaat maka ia akan mendapatkan pahala haji dan umrah." Beliau berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Sempurna, sempurna, sempurna." (HR. Tirmidzi dan ditahsin oleh Al-Albani).
15. Menbantu anak yatim.
Dari Sahal bin Saad bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Saya dan pengasuh anak yatim di surga seperti ini." (HR. Bukhari) "Beliau memberi isyarat dengan kedua jarinya, jari telunjuk dan tengah." Dan Anda bisa melakukan itu melalui salah satu yayasan atau lembaga sosial lainnya.
16. Senantiasa solat jenazah.
Dari Abu Hurairah ra. berkata: "Rasulullah saw. bersabda: "Siapa yang menghadiri jenazah hingga disolati maka baginya pahala satu qirath, dan siapa yang menghadirinya hingga dimakamkan maka ia akan mendapatkan dua pahala qirath." Dikatakan kepada beliau: "Apakah qirath itu?" Beliau menjawab: "Yaitu seperti dua gunung yang besar." (Muttafaqun 'alaihi).
17. Memperbanyak selawat untuk Nabi saw.Jadi barangsiapa yang berselawat untuk nabi saw. sekali, maka Allah akan berselawat untuknya sepuluh kali, dan akan menjadi manusia paling utama nanti pada hari kiamat. Allah swt. mewakilkan malaikat yang berkeliling menyampaikan salam ummatnya kepada nabi mereka.
18. Solat Isya'k dan Subuh secara berjamaah.
Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang solat isya'k secara berjamaah maka seakan-akan ia telah melaksanakan solat tengah malam, dan barangsiapa yang solat subuh berjamaah maka seakan-akan ia telah melaksanakan solat sepanjang malam." (HR. Muslim).
19. Membaca tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali pada setiap selesai solat, lalu membaca: laa ilaaha illallahu, wahdahuu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu, wahuwa 'alaa kulli syai'in qodiir.
Ucapan ini memiliki keutamaan yang sangat besar sebagaimana diriwayatkan dalam hadis tentang orang-orang fakir Muhajirin yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah (hadis panjang Muttafaqun 'alaihi) dalam bab "Dzikir-dzikir yang dibaca setelah solat fardu."
20. Dakwah kepada Allah dan menasihati orang lain.
Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia pun akan menanggung dosa yang sama dengan dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun." (HR. Muslim). Jadi bila Anda menasihati orang lain untuk menuju Allah maka pahala nasihat itu ukan mengalir untukmu selama nasihat itu masih berguna bagi dirinya hingga hari kiamat. Misalnya dengan menyebarkan kebaikan seperti tulisan-tulisan yang ada di hadapan Anda sekarang ini, maka Anda akan mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya hingga hari kiamat dengan adzin Allah swt..
Rasulullah s.a.w bersabda: "Sesungguhnya Allah sentiasa memberi rahmat dan Malaikat-Nya serta penduduk langit dan bumi - sehinggakan semut dalam lubangnya dan ikan di laut - sentiasa berdoa untuk sesiapa yang mengajarkan perkara-perkara yang baik kepada orang ramai." (Abu Umamah r.a)
21. Solat empat rakaat sebelum ashar.
Sabda Rasulullah saw.: "Semoga Allah merahmati seseorang yang solat 4 rakaat sebelum ashar." (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Empat rakaat itu dilakukan dengan dua salam setelah azan dan sebelum iqomah.
22. Mengunjungi orang yang sakit.
Sabda Rasulullah saw.: "Barangsiapa mengunjungi orang yang sakit, maka ia akan tetap di khurfah surga." Rasulullah saw. ditanya: "Apakah khurfah surga itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Buah surga yang dipetik." (HR. Muslim). "Dan Anda akan diampuni oleh 70.000 malaikat." (Sebagaimana yang terdapat dalam hadits panjang.)
23. Puasa, mengikuti jenazah, menengok orang yang sakit, dan memberi makan orang miskin.
Bila semua ini terkumpul pada seorang muslim pada satu hari maka ia akan masuk surga dengan karunia Allah, sebagaimana yang terjadi pada diri Abu Bakar ra., di mana Rasulullah saw. bersabda dalam hadis yang panjang: "Tidaklah hal itu semua berkumpul pada seseorang kecuali ia akan masuk surga." (HR. Muslim).
24. Mengadakan perdamaian di antara manusia.
Allah swt. berfirman: "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi shodaqoh atau berbuat ma'ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia." (QS. An-Nisa: 114). Dan banyak hadits yang menunjukkan keutamaan hal itu, yang tidak mungkin kita membahasnya semua karena kesempatan yang terlalu sempit.
25. Memperbanyak ucapan [Subhaanallahi walhamdulillahi walaailaaha illallahu wallahu akbar].
Ucapan ini lebih afdhal daripada hari terbitnya matahari, sebagaimana terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Nabi saw.. Ucapan ini juga termasuk yang paling disenangi oleh Allah swt. sebagaimana dalam hadits shohih.
26. Membaca Surah Al-Ikhlas berulang-ulang.
Karena surah ini sebanding dengan sepertiga Al-Quran dalam hal pahala dan kandungan maknanya, di mana surat ini mengandung Tauhid, pengagungan dan penghormatan kepada Allah swt.. Rasulullah saw. bersabda: "Qul huwallahu ahad, sebanding dengan sepertiga Al-Quran, dan Qul yaa ayyuhal kaafirun, sebanding dengan seperempat Al-Quran." (HR. Thabrani dan ditashih oleh as-Suyuti dan al-Albani). Dan perlu diperhatikan bahwa sepertiga dalam keutamaan tidak berarti merasa cukup membacanya dan meninggalkan bacaan surat-surat Al-Quran lainnya.
27. Solat empat rakaat sebelum dhuhur dan empat rakaat setelahnya.
Dari Ummu Habibah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang senantiasa melaksanakan solat sunnat 4 rakaat sebelum dhuhur dan 4 rakaat setelah dhuhur maka Allah akan mengharamkan baginya neraka." (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Empat rakaat itu dengan dua salam antara adzan dan iqomah, dan 4 rakaat dengan dua salam setelah sholat dhuhur.
28. Qiyamul Lail, menyebarkan salam dan memberi makan.
Dari Abdullah bin Salam ra., Nabi saw. bersabda: "Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makan dan solatlah di waktu malam sementara manusia sedang tidur, maka kalian akan masuk surga dengan selamat." (HR. Tirmidzi). Rasulullah saw. bersabda: "Solat yang paling afdal setelah solat fardhu adalah sholat lail." (HR. Muslim).
29. Mengikuti ucapan muadzin.
Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang membaca ketika mendengar azan: [Allahumma rabba hadzihidda'watittaammati washsholatil qooimati aati Muhammadanil wasiilata walfadhiilata wab'atshu maqoomam mahmuudanilladzi wa 'adtah] ("Ya Allah, Tuhan pemilik panggilan yang sempurna ini (azan) dan solat (wajib) yang ditegakkan ini. Berilah wasilah (derajat yang tinggi) dan fadhilah kepada Rasulullah dan bangkitkanlah beliau pada maqom yang terpuji yang telah Engkau janjikan.") Maka ia berhak mendapatkan syafaatku nanti pada hari kiamat." (HR. Bukhari).
30. Memperbanyak membaca dan menghapal Al-Quran.
Allah swt. berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan solat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi." (QS. Faathir: 29). Dari Ibnu Mas'ud ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah maka baginya satu kebaikan dan kebaikan itu dilipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan. Saya tidak mengatakan bahwa 'alif laam mim' itu satu huruf, tetapi 'alif' satu huruf, 'laam' satu huruf, dan 'mim' satu huruf." (HR. Tirmidzi dan berkata: "Hadits hasan shohih").
31. Memperbanyak zikir kepada Allah.
Sabda Rasulullah saw.: "Maukah kalian aku kabarkan kepada kalian amalan yang paling baik dan suci yang kalian miliki, yang paling tinggi dalam derajat kalian, paling baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak dan lebih baik daripada ketika kalian bertemu musuh lalu kalian memenggal lehernya atau mereka memenggal leher kalian?" Mereka menjawab: "Tentu". Beliau bersabda: "Yaitu zikir kepada Allah Ta'ala." (HR. Tirmidzi).
32. Mengekalkan akhlak yang baik
Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:
“Sesungguhnya seseorang mukmin itu dapat mencapai darjat orang yang berpuasa yang mendirikan sembahyang ditengah malam disebabkan akhlaknya yang mulia”. (Riwayat Abu Daud)
Selawat dan salam untuk nabi kita Muhammad saw, berserta keluarga dan para sahabatnya.
Dari Abdullah bin 'Amr R.A, Rasulullah S.A.W bersabda:
" Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..."
SAIDINA Umar tidak pernah mendapat pendidikan sekolah, apa lagi merantau ke pelosok negeri untuk menuntut ilmu atau hidup di kalangan ahli pemikir. Tetapi dia berjaya memberi contoh kepada kaumnya dalam mengurus pemerintahan dan kekuasaan yang penuh dengan keadilan, kebijaksanaan, keutamaan dan berlandaskan fiqh (hukum) Islam.
Sebelum memeluk Islam, Umar dikenali di kalangan kaumnya sebagai utusan yang mampu berdiskusi, berdialog dan menyelesaikan pelbagai urusan. Dia juga pedagang yang mahir dan tekun dalam perdagangannya.
Umar dikenali sebagai orang yang mempunyai peribadi kasar, kukuh dalam memegang prinsip dan berkedudukan tinggi. Oleh kerana itulah dia digelar Al-Faruq Umar Ibnul Khattab.
Selepas memeluk Islam, Umat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Ya, Rasulullah, mengapa kita bersembunyi dalam menyiarkan agama kita, pada hal kita berada di atas kebenaran dan mereka (kaum kafir) kebatilan?”
Rasulullah SAW menjawab: “Jumlah kita sedikit dan kamu dapat melihat sendiri apa yang selalu kita alami.”
Umar berkata lagi: “Demi yang mengutus engkau dengan hak, akan berjanji bahawa tiap-tiap tempat yang pernah aku sebarkan kekafiran, akan aku datangi untuk menyebarkan keimanan.”
Pada suatu hari Rasulullah SAW bersama kaumnya menuju Kaabah dengan dua barisan. Barisan pertama dipimpin oleh Hamzah dan kedua dipimpin oleh Umar. Ketika melihat barisan yang dipimpin oleh Hamzah dan Umar, kaum kafir tampak muram dan kecut hatinya. Maka, sejak itul Rasulullah SAW memberi gelaran “Al-faruq” bererti “pembeza di antara hak dengan batil” kepada Umar.
Ketika kaum Muslimin hijrah ke Madinah, mereka seluruhnya meninggalkan kota Makkah secara sembunyi-sembunyi kecuali Umar. Hanya Umar yang hijrah secara terang-terangan.
Dia sengaja pergi pada siang hari dan melalui gerombolan Quraisy. Ketika melalui mereka, Umar berkata: “Aku akan meninggalkan Makkah dan berhijrah ke Madinah. Barang siapa yang ingin menjadikan ibunya kehilangan puteranya atau ingin anaknya menjadi yatim, silakan menghadang aku di belakang lembah ini!”
Mendengar perkataan Umar yang gagah itu, tidak seorang pun yang berani mengekori apa lagi mencegah Umar.
Itulah kekuatan yang dimiliki Umar sejak awal keimanannya hingga dalam mengharungi seluruh kehidupannya.
Pada zaman seperti ini, alangkah perlunya kita memiliki orang seperti Umar. Kuat jiwa raganya dan kukuh keperibadiannya. Kerana Allah senang kepada orang yang berjiwa kuat dan benci kepada orang berjiwa lemah.
Apa yang dapat membangkitkan kejayaan Islam adalah apa dan bagaimana yang pernah dikerjakan kaum Muslimin terdahulu.
Ketokohan Umar turut terserlah ketika peristiwa Siti Aisyah difitnah. Rasulullah SAW bermusyawarah dengan beberapa tokoh sahabat untuk meminta pandangan mereka.
Ketika Baginda berbicara dengan Umar, dia berkata “Ya, Rasulullah, siapakah yang mengahwinkan Rasulullah dengan Aisyah?” Nabi SAW menjawab: “Allah”.
Umar bertanya lagi: “Apakah Allah menipu anda?”
“Maha suci, Engkau, ya, Allah, sesungguhnya ini berita bohong yang besar,” ucap Rasulullah SAW.
Selepas Baginda mengucapkan itu, turunlah firman Allah bermaksud: “Dan mengapa kamu tidak berkata, waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah patut bagi kita memperkatakan ini. Maka Suci Engkau (Ya Rabb kami), ini adalah dusta yang besar.” (Surah an-Nuur, ayat 16).
Sebelum memeluk Islam, Umar dikenali di kalangan kaumnya sebagai utusan yang mampu berdiskusi, berdialog dan menyelesaikan pelbagai urusan. Dia juga pedagang yang mahir dan tekun dalam perdagangannya.
Umar dikenali sebagai orang yang mempunyai peribadi kasar, kukuh dalam memegang prinsip dan berkedudukan tinggi. Oleh kerana itulah dia digelar Al-Faruq Umar Ibnul Khattab.
Selepas memeluk Islam, Umat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Ya, Rasulullah, mengapa kita bersembunyi dalam menyiarkan agama kita, pada hal kita berada di atas kebenaran dan mereka (kaum kafir) kebatilan?”
Rasulullah SAW menjawab: “Jumlah kita sedikit dan kamu dapat melihat sendiri apa yang selalu kita alami.”
Umar berkata lagi: “Demi yang mengutus engkau dengan hak, akan berjanji bahawa tiap-tiap tempat yang pernah aku sebarkan kekafiran, akan aku datangi untuk menyebarkan keimanan.”
Pada suatu hari Rasulullah SAW bersama kaumnya menuju Kaabah dengan dua barisan. Barisan pertama dipimpin oleh Hamzah dan kedua dipimpin oleh Umar. Ketika melihat barisan yang dipimpin oleh Hamzah dan Umar, kaum kafir tampak muram dan kecut hatinya. Maka, sejak itul Rasulullah SAW memberi gelaran “Al-faruq” bererti “pembeza di antara hak dengan batil” kepada Umar.
Ketika kaum Muslimin hijrah ke Madinah, mereka seluruhnya meninggalkan kota Makkah secara sembunyi-sembunyi kecuali Umar. Hanya Umar yang hijrah secara terang-terangan.
Dia sengaja pergi pada siang hari dan melalui gerombolan Quraisy. Ketika melalui mereka, Umar berkata: “Aku akan meninggalkan Makkah dan berhijrah ke Madinah. Barang siapa yang ingin menjadikan ibunya kehilangan puteranya atau ingin anaknya menjadi yatim, silakan menghadang aku di belakang lembah ini!”
Mendengar perkataan Umar yang gagah itu, tidak seorang pun yang berani mengekori apa lagi mencegah Umar.
Itulah kekuatan yang dimiliki Umar sejak awal keimanannya hingga dalam mengharungi seluruh kehidupannya.
Pada zaman seperti ini, alangkah perlunya kita memiliki orang seperti Umar. Kuat jiwa raganya dan kukuh keperibadiannya. Kerana Allah senang kepada orang yang berjiwa kuat dan benci kepada orang berjiwa lemah.
Apa yang dapat membangkitkan kejayaan Islam adalah apa dan bagaimana yang pernah dikerjakan kaum Muslimin terdahulu.
Ketokohan Umar turut terserlah ketika peristiwa Siti Aisyah difitnah. Rasulullah SAW bermusyawarah dengan beberapa tokoh sahabat untuk meminta pandangan mereka.
Ketika Baginda berbicara dengan Umar, dia berkata “Ya, Rasulullah, siapakah yang mengahwinkan Rasulullah dengan Aisyah?” Nabi SAW menjawab: “Allah”.
Umar bertanya lagi: “Apakah Allah menipu anda?”
“Maha suci, Engkau, ya, Allah, sesungguhnya ini berita bohong yang besar,” ucap Rasulullah SAW.
Selepas Baginda mengucapkan itu, turunlah firman Allah bermaksud: “Dan mengapa kamu tidak berkata, waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah patut bagi kita memperkatakan ini. Maka Suci Engkau (Ya Rabb kami), ini adalah dusta yang besar.” (Surah an-Nuur, ayat 16).
Di Mana Allah dalam Hati Ketika Umat Alpa dengan Duniawi
0 kommentarer Indsendt af pelangi kl. 11.00Sesekali kita perlu merenung jauh ungkapan “ di mana Allah dalam hati kita,” agar kita dibayangi kasih sayang Allah dengan apa yang kita lakukan, dalam kehidupan harian yang banyak menjurus kepada habuan duniawi lebih daripada mengingati Allah.
Kita perlu meletakkan dalam minda beberapa persoalan untuk dijawab, di mana ia boleh membantu meningkatkan iman,hubungan serta keupayaan untuk maju dalam pelaksanaan ibadat yang sangat-sangat dituntut oleh Islam. Persoalan seperti-adakah kita telah mengagungkan Allah dalam perkara yang patut diagungkan? Bagaimana pula keagungan terhadap Allah menyerap masuk dalam sanubari kita?
Sehubungan ini, Saidina Ali bin Abi Talib ada mengungkapkan kata-kata masyhurnya yang memuji golongan solihin, antara lain beliau menyebut: sesungguhnya keagungan Allah sentiasa bertapak dalam hati, apa yang mereka lihat selainNya adalah kecil belaka.
Cuba perhati serta renung secara mendalam kehidupan golongan solihin, yang penuh dengan pujian terhadap Allah atas segala keagungan ciptaanNya.
Suasana ini telah menjadikan mereka sentiasa cermat dalam bertindak, berusaha tidak menyinggung kesucian Islam dengan kata-kata atau perbuatan. Mereka hanya takut kepada Allah dan tidak kepada makhluk apatah lagi derhaka kepadaNya.
Keagungan hanya layak disanjung terus kepada Allah, tidak memohon sesuatu melainkan kepadaNya. Hati mereka hanya berpaut hanya untukNya, semua yang ada di muka bumi ini kerdil dan bersifat sementara, hanya Allah sahajalah yang kekal tanpa kesudahan.
Justeru, di manakah kita terhadap cinta kepada Allah? Bagaimana hubungan kita denganNya? Adakah kita benar-benar memelihara kebenaran konsep cinta hanya kepadaNya atau ada yang lain turut menerima cinta kita untuknya? Adakah kita telah melakukan apa yang dikehandakiNya dalam proses kita meletakkan cinta hanya kepadaNya?
Perhatikan firman Allah kepada nabi Daud : “Wahai Daud! Sesungguhnya engkau menghendaki sesuatu daripadaKu, Aku pun menghendaki sesuatu daripadamu. Jika engkau benar-benar taat kepadaKu pada apa yang Aku mahu, maka Aku akan permudahkan apa yang engkau mahu. Jika engkau menentangKu pada apa yang Aku mahu, maka Aku akan menyusahkan engkau, maka berusahalah pada apa yang Aku mahu."
Dalam suasana yang lain pula, Allah ada menyatakan dalam sebuah hadis Qudsi yang bermaksud: “jika mana-mana hambaKu mentaatiKu, maka Aku redha (rela) kepadanya, bila Aku redha kepadanya maka akan Aku berkati seluruh hidupnya, sesungguhnya keberkatan Aku tidak ada penghujungnya, dan jika hambaKu melakukan maksiat kepadaKu, Aku marah kepadanya, bila Aku marah kepadanya maknanya Aku melaknatnya."
Ketahuilah sekalian umat Islam, walau di mana mereka berada, dalam apa jua jawatan yang disandangnya, sesungguhnya Allah tidak suka kepada hambaNya yang memenuhi ruang hidupnya dengan pelbagai kebendaan dunia, hingga tiada ruang Allah di dalam hatinya.
Apatah lagi untuk mengingatiNya dengan berzikir, jika Allah Maha Besar dalam segenap tindak-tanduk hambaNya, anak yang disayangi dijadikan korban tanpa berbelah bagi, itulah terjadi yang kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih anak kerana patuh kepada perintah Allah.
Dalam hal ini, baginda Rasulullah dan para sahabat tidak banyak bertanya, apatah lagi ragu terhadap perintah Allah untuk menghalakan kiblat ke Baitullah (Kaabah). Walaupun sebelum itu kiblat yang dihalakan adalah Masjid al-Aqsa, kerana Allah adalah segala-galanya dalam hidup mereka. Hidup dan mati mereka hanya untuk Allah dan bukan yang lain, kerana yang lain selain Allah akan mati dan memerlukan sokongan lantaran kelemahan dan tidak sempurna.
Waktu sesuai untuk mendampingi Allah
Sekali lagi kita tanya diri sendiri “Di mana Allah dalam hati kita?” Adakah kita rasa amat gembira bila dapat berdamping denganNya atau sebaliknya? Adakah kita telah berusaha agar Allah sentiasa bersama kita?
Kalau begitu, sejauh manakah kita rasa gembira menerusi solat yang dilaksanakan ketika mendampingi dan bermunajat kepadaNya?
Apakah yang kita dapat rasai ketika sujud di dalam solat dan sejauh mana kita meneruskan zikir terhadapNya bukan hanya terbatas selepas solat, ingatlah ketika Allah menyebut : “Aku bersama hambaKu ketika dia mengingatiKu dan kedua-dua bibirnya bergerak kerana Aku”
Adakah kita dapat meluangkan sepertiga malam (bertahajjud) untuk menyepi diri dan berkhalwat (bersunyi-sunyi) bersama Allah? Tidakkah kita teringat akan janji-janji Allah kepada kita yang mampu bangun di tengah malam-Allah menyebut: “adakah terdapat hambaKu yang bangun di tengah malam untuk bertaubat, di mana Aku menerima taubatnya, yang memohon keampunanKu, maka Aku ampunkan segala dosa-dosanya dan memohon sesuatu maka Aku berikan kepadanya”
"Dan Tuhan kamu berfirman: "Berdoalah kamu kepadaKu nescaya Aku perkenankan doa permohonan kamu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong takbur daripada beribadat dan berdoa kepadaKu, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina." (Al-Mu'min:60)
Tidakkah kita mahu berusaha untuk menjadikan hati-hati kita ini penuh dengan pujian kepada Allah, berkorban keranaNya untuk meninggikan syiar agamaNya walaupun menghadapi pelbagai rintangan dan halangan.
Berapa banyak ruang yang ada pada kita untuk memerhatikan segala nikmat yang dianugerahkan Allah ke atas kita, terus bersyukur kepadaNya tanpa sebarang perasaan prejudis. Pernah terlintas dalam pemikiran kita bagaimana Allah menganugerahkan nikmat hidayah, kesihatan, harta, ilmu pengetahuan, kepandaian, kemahiran, bakat, anak-anak, ibu bapa, isteri atau suami kepada kita. Atau kita hanya sekadar menerima nikmat tanpa sebarang balasan untuk beramal dan mematuhi segala titah perintah Allah.
“Jikalau kamu hendak menghitung akan nikmat-nikmat Ku maka kamu tidak akan dapat menghitungnya.” (An Nahl: 18)
“Dan di antara tanda kekuasaannya ialah menjadikan untuk kamu dari diri kamu sendiri pasangan-pasangan untuk kamu menenangkan diri kamu kepadanya, dan Dia menjadikan antara kamu perasaan kasih-sayang dan kasihan belas” (Ar-Rum : 21)
"Allah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu berehat padanya, dan menjadikan siang terang-benderang (supaya kamu berusaha). Sesungguhnya Allah sentiasa melimpah-limpah kurniaNya kepada manusia seluruhnya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur." (Al-Mu'min:61)
"Kalaulah kamu kufur ingkar (tidak bersyukur) akan nikmat-nikmatNya itu, maka ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah tidak berhajatkan (iman dan kesyukuran) kamu (untuk kesempurnaanNya); dan Ia tidak redakan hamba-hambaNya berkeadaan kufur; dan jika kamu bersyukur, Ia meredainya menjadi sifat dan amalan kamu. Dan (ingatlah) seseorang yang memikul tidak akan memikul dosa perbuatan orang lain (bahkan dosa usahanya sahaja). Kemudian kepada Tuhan kamulah tempat kembalinya kamu, maka Ia akan memberitahu kepada kamu tentang apa yang kamu telah kerjakan. Sesungguhnya Ia Maha Mengetahui akan segala (isi hati) yang terkandung di dalam dada." (Az-Zumar:7)
Sesungguhnya ketahuilah wahai saudara saudari seagama! Dunia dan bumi yang kita pijak ini menjanjikan pelbagai kehancuran, ia boleh berlaku pada apa yang kita ada atau kita cari, termasuk harta benda, anak-anak, perniagaan, pangkat dan jawatan, tapi apa yang penting, di mana Allah dalam hati kita? Mana letaknya cinta kita kepada Allah?
"Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika bapa-bapa kamu, dan anak-anak kamu, dan saudara-saudara kamu, dan isteri-isteri (atau suami-suami) kamu, dan kaum keluarga kamu, dan harta benda yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu bimbang akan merosot, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, - (jika semuanya itu) menjadi perkara-perkara yang kamu cintai lebih daripada Allah dan RasulNya dan (daripada) berjihad untuk ugamaNya, maka tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusanNya (azab seksaNya); kerana Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (derhaka)." (At-Taubah:24)
Jika tergerak hati untuk melakukan sesuatu kejahatan, tanyalah diri di mana Allah dalam hati kita? Allah kah yang patut dicari atau maksiat yang patut ditembusi, bagaimana keadaan ana ketika hendak bertemu dengan Allah (mati) sedangkan ana melakukan maksiat kepadaNya?
Apabila kita ingat Allah pada waktu susah, pasti Allah akan ingat kita pada waktu kita senang dan lapang.
Demikianlah peringatan yang perlu kita sama-sama ingatkan antara satu sama lain, agar Allah ada dalam hati kita sama ada pada perkara sekecil-kecilnya atau yang sebesar-besarnya, Tanya diri – di mana Allah dalam hati kita?
"(Walaupun demikian), ada juga di antara manusia yang mengambil selain dari Allah (untuk menjadi) sekutu-sekutu (Allah), mereka mencintainya, (memuja dan mentaatinya) sebagaimana mereka mencintai Allah; sedang orang-orang yang beriman itu lebih cinta (taat) kepada Allah. Dan kalaulah orang-orang yang melakukan kezaliman (syirik) itu mengetahui ketika mereka melihat azab pada hari akhirat kelak, bahawa sesungguhnya kekuatan dan kekuasaan itu semuanya tertentu bagi Allah, dan bahawa sesungguhnya Allah Maha berat azab seksaNya, (nescaya mereka tidak melakukan kezaliman itu)." (Al- Baqarah:165)
Ingatlah siapa yang bersama Allah, nescaya dia dipelihara Allah. Siapa yang mencintai Allah, nescaya dia tiada memandang selain dari Allah. Siapa yang sampai kepada Allah, nescaya dia hidup dalam lindungan Allah. Siapa yang rindu kepada Allah, nescaya dia akan bermesra dengan Allah. Siapa yang membelakangi semua yang memikat hati selain Allah, nescaya bersihlah duduknya dengan Allah. Ketuklah pintu Allah, lindungilah dirimu di dalam benteng Allah, berserah diri hanya bagi Allah, wahai orang yang melupai Allah, kembalilah kepada Allah......... dan seterusnya, moga-moga Allah memanfaatkan kita dengan apa yang diucapkan itu.
Rasulullah s.a.w sering berdoa:
"Ya Allah, aku berlindung dengan keredhaanMu daripada kemurkaanMu, dengan kemaafanMu daripada siksaanMu, dan aku berlindung denganMu daripada tidak mampu memujiMu seperti Engkau memuji diriMu sendiri."
Dari Abu Hurairah r.a katanya, Rasulullah s.a.w bersabda:”Allah Taala sangat gembira menerima taubat seseorang kamu melebihi kegembiraan seseorang yang menemui kembali barangnya yang hilang.” (Muslim)
Hitunglah dirimu sebelum diri kamu dihitung dengan terperinci di Mahkamah Allah Yang Maha Adil kelak........
Kita perlu meletakkan dalam minda beberapa persoalan untuk dijawab, di mana ia boleh membantu meningkatkan iman,hubungan serta keupayaan untuk maju dalam pelaksanaan ibadat yang sangat-sangat dituntut oleh Islam. Persoalan seperti-adakah kita telah mengagungkan Allah dalam perkara yang patut diagungkan? Bagaimana pula keagungan terhadap Allah menyerap masuk dalam sanubari kita?
Sehubungan ini, Saidina Ali bin Abi Talib ada mengungkapkan kata-kata masyhurnya yang memuji golongan solihin, antara lain beliau menyebut: sesungguhnya keagungan Allah sentiasa bertapak dalam hati, apa yang mereka lihat selainNya adalah kecil belaka.
Cuba perhati serta renung secara mendalam kehidupan golongan solihin, yang penuh dengan pujian terhadap Allah atas segala keagungan ciptaanNya.
Suasana ini telah menjadikan mereka sentiasa cermat dalam bertindak, berusaha tidak menyinggung kesucian Islam dengan kata-kata atau perbuatan. Mereka hanya takut kepada Allah dan tidak kepada makhluk apatah lagi derhaka kepadaNya.
Keagungan hanya layak disanjung terus kepada Allah, tidak memohon sesuatu melainkan kepadaNya. Hati mereka hanya berpaut hanya untukNya, semua yang ada di muka bumi ini kerdil dan bersifat sementara, hanya Allah sahajalah yang kekal tanpa kesudahan.
Justeru, di manakah kita terhadap cinta kepada Allah? Bagaimana hubungan kita denganNya? Adakah kita benar-benar memelihara kebenaran konsep cinta hanya kepadaNya atau ada yang lain turut menerima cinta kita untuknya? Adakah kita telah melakukan apa yang dikehandakiNya dalam proses kita meletakkan cinta hanya kepadaNya?
Perhatikan firman Allah kepada nabi Daud : “Wahai Daud! Sesungguhnya engkau menghendaki sesuatu daripadaKu, Aku pun menghendaki sesuatu daripadamu. Jika engkau benar-benar taat kepadaKu pada apa yang Aku mahu, maka Aku akan permudahkan apa yang engkau mahu. Jika engkau menentangKu pada apa yang Aku mahu, maka Aku akan menyusahkan engkau, maka berusahalah pada apa yang Aku mahu."
Dalam suasana yang lain pula, Allah ada menyatakan dalam sebuah hadis Qudsi yang bermaksud: “jika mana-mana hambaKu mentaatiKu, maka Aku redha (rela) kepadanya, bila Aku redha kepadanya maka akan Aku berkati seluruh hidupnya, sesungguhnya keberkatan Aku tidak ada penghujungnya, dan jika hambaKu melakukan maksiat kepadaKu, Aku marah kepadanya, bila Aku marah kepadanya maknanya Aku melaknatnya."
Ketahuilah sekalian umat Islam, walau di mana mereka berada, dalam apa jua jawatan yang disandangnya, sesungguhnya Allah tidak suka kepada hambaNya yang memenuhi ruang hidupnya dengan pelbagai kebendaan dunia, hingga tiada ruang Allah di dalam hatinya.
Apatah lagi untuk mengingatiNya dengan berzikir, jika Allah Maha Besar dalam segenap tindak-tanduk hambaNya, anak yang disayangi dijadikan korban tanpa berbelah bagi, itulah terjadi yang kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih anak kerana patuh kepada perintah Allah.
Dalam hal ini, baginda Rasulullah dan para sahabat tidak banyak bertanya, apatah lagi ragu terhadap perintah Allah untuk menghalakan kiblat ke Baitullah (Kaabah). Walaupun sebelum itu kiblat yang dihalakan adalah Masjid al-Aqsa, kerana Allah adalah segala-galanya dalam hidup mereka. Hidup dan mati mereka hanya untuk Allah dan bukan yang lain, kerana yang lain selain Allah akan mati dan memerlukan sokongan lantaran kelemahan dan tidak sempurna.
Waktu sesuai untuk mendampingi Allah
Sekali lagi kita tanya diri sendiri “Di mana Allah dalam hati kita?” Adakah kita rasa amat gembira bila dapat berdamping denganNya atau sebaliknya? Adakah kita telah berusaha agar Allah sentiasa bersama kita?
Kalau begitu, sejauh manakah kita rasa gembira menerusi solat yang dilaksanakan ketika mendampingi dan bermunajat kepadaNya?
Apakah yang kita dapat rasai ketika sujud di dalam solat dan sejauh mana kita meneruskan zikir terhadapNya bukan hanya terbatas selepas solat, ingatlah ketika Allah menyebut : “Aku bersama hambaKu ketika dia mengingatiKu dan kedua-dua bibirnya bergerak kerana Aku”
Adakah kita dapat meluangkan sepertiga malam (bertahajjud) untuk menyepi diri dan berkhalwat (bersunyi-sunyi) bersama Allah? Tidakkah kita teringat akan janji-janji Allah kepada kita yang mampu bangun di tengah malam-Allah menyebut: “adakah terdapat hambaKu yang bangun di tengah malam untuk bertaubat, di mana Aku menerima taubatnya, yang memohon keampunanKu, maka Aku ampunkan segala dosa-dosanya dan memohon sesuatu maka Aku berikan kepadanya”
"Dan Tuhan kamu berfirman: "Berdoalah kamu kepadaKu nescaya Aku perkenankan doa permohonan kamu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong takbur daripada beribadat dan berdoa kepadaKu, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina." (Al-Mu'min:60)
Tidakkah kita mahu berusaha untuk menjadikan hati-hati kita ini penuh dengan pujian kepada Allah, berkorban keranaNya untuk meninggikan syiar agamaNya walaupun menghadapi pelbagai rintangan dan halangan.
Berapa banyak ruang yang ada pada kita untuk memerhatikan segala nikmat yang dianugerahkan Allah ke atas kita, terus bersyukur kepadaNya tanpa sebarang perasaan prejudis. Pernah terlintas dalam pemikiran kita bagaimana Allah menganugerahkan nikmat hidayah, kesihatan, harta, ilmu pengetahuan, kepandaian, kemahiran, bakat, anak-anak, ibu bapa, isteri atau suami kepada kita. Atau kita hanya sekadar menerima nikmat tanpa sebarang balasan untuk beramal dan mematuhi segala titah perintah Allah.
“Jikalau kamu hendak menghitung akan nikmat-nikmat Ku maka kamu tidak akan dapat menghitungnya.” (An Nahl: 18)
“Dan di antara tanda kekuasaannya ialah menjadikan untuk kamu dari diri kamu sendiri pasangan-pasangan untuk kamu menenangkan diri kamu kepadanya, dan Dia menjadikan antara kamu perasaan kasih-sayang dan kasihan belas” (Ar-Rum : 21)
"Allah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu berehat padanya, dan menjadikan siang terang-benderang (supaya kamu berusaha). Sesungguhnya Allah sentiasa melimpah-limpah kurniaNya kepada manusia seluruhnya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur." (Al-Mu'min:61)
"Kalaulah kamu kufur ingkar (tidak bersyukur) akan nikmat-nikmatNya itu, maka ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah tidak berhajatkan (iman dan kesyukuran) kamu (untuk kesempurnaanNya); dan Ia tidak redakan hamba-hambaNya berkeadaan kufur; dan jika kamu bersyukur, Ia meredainya menjadi sifat dan amalan kamu. Dan (ingatlah) seseorang yang memikul tidak akan memikul dosa perbuatan orang lain (bahkan dosa usahanya sahaja). Kemudian kepada Tuhan kamulah tempat kembalinya kamu, maka Ia akan memberitahu kepada kamu tentang apa yang kamu telah kerjakan. Sesungguhnya Ia Maha Mengetahui akan segala (isi hati) yang terkandung di dalam dada." (Az-Zumar:7)
Sesungguhnya ketahuilah wahai saudara saudari seagama! Dunia dan bumi yang kita pijak ini menjanjikan pelbagai kehancuran, ia boleh berlaku pada apa yang kita ada atau kita cari, termasuk harta benda, anak-anak, perniagaan, pangkat dan jawatan, tapi apa yang penting, di mana Allah dalam hati kita? Mana letaknya cinta kita kepada Allah?
"Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika bapa-bapa kamu, dan anak-anak kamu, dan saudara-saudara kamu, dan isteri-isteri (atau suami-suami) kamu, dan kaum keluarga kamu, dan harta benda yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu bimbang akan merosot, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, - (jika semuanya itu) menjadi perkara-perkara yang kamu cintai lebih daripada Allah dan RasulNya dan (daripada) berjihad untuk ugamaNya, maka tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusanNya (azab seksaNya); kerana Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (derhaka)." (At-Taubah:24)
Jika tergerak hati untuk melakukan sesuatu kejahatan, tanyalah diri di mana Allah dalam hati kita? Allah kah yang patut dicari atau maksiat yang patut ditembusi, bagaimana keadaan ana ketika hendak bertemu dengan Allah (mati) sedangkan ana melakukan maksiat kepadaNya?
Apabila kita ingat Allah pada waktu susah, pasti Allah akan ingat kita pada waktu kita senang dan lapang.
Demikianlah peringatan yang perlu kita sama-sama ingatkan antara satu sama lain, agar Allah ada dalam hati kita sama ada pada perkara sekecil-kecilnya atau yang sebesar-besarnya, Tanya diri – di mana Allah dalam hati kita?
"(Walaupun demikian), ada juga di antara manusia yang mengambil selain dari Allah (untuk menjadi) sekutu-sekutu (Allah), mereka mencintainya, (memuja dan mentaatinya) sebagaimana mereka mencintai Allah; sedang orang-orang yang beriman itu lebih cinta (taat) kepada Allah. Dan kalaulah orang-orang yang melakukan kezaliman (syirik) itu mengetahui ketika mereka melihat azab pada hari akhirat kelak, bahawa sesungguhnya kekuatan dan kekuasaan itu semuanya tertentu bagi Allah, dan bahawa sesungguhnya Allah Maha berat azab seksaNya, (nescaya mereka tidak melakukan kezaliman itu)." (Al- Baqarah:165)
Ingatlah siapa yang bersama Allah, nescaya dia dipelihara Allah. Siapa yang mencintai Allah, nescaya dia tiada memandang selain dari Allah. Siapa yang sampai kepada Allah, nescaya dia hidup dalam lindungan Allah. Siapa yang rindu kepada Allah, nescaya dia akan bermesra dengan Allah. Siapa yang membelakangi semua yang memikat hati selain Allah, nescaya bersihlah duduknya dengan Allah. Ketuklah pintu Allah, lindungilah dirimu di dalam benteng Allah, berserah diri hanya bagi Allah, wahai orang yang melupai Allah, kembalilah kepada Allah......... dan seterusnya, moga-moga Allah memanfaatkan kita dengan apa yang diucapkan itu.
Rasulullah s.a.w sering berdoa:
"Ya Allah, aku berlindung dengan keredhaanMu daripada kemurkaanMu, dengan kemaafanMu daripada siksaanMu, dan aku berlindung denganMu daripada tidak mampu memujiMu seperti Engkau memuji diriMu sendiri."
Dari Abu Hurairah r.a katanya, Rasulullah s.a.w bersabda:”Allah Taala sangat gembira menerima taubat seseorang kamu melebihi kegembiraan seseorang yang menemui kembali barangnya yang hilang.” (Muslim)
Hitunglah dirimu sebelum diri kamu dihitung dengan terperinci di Mahkamah Allah Yang Maha Adil kelak........
Kita sering mendengar atau membaca tentang perbahasan Bid'ah, tapi sejauh manakah kefahaman kita mengenai perkataan tersebut ? Perbahasan ini timbul berdasarkan sabda Rasulullah S.A.W :
كلّ محدثة بدعة وكلّ بدعة ضلالة وكلّ ضلالة في النار
"Tiap-tiap perkara baru itu bid'ah dan tiap-tiap bid'ah itu sesat, dan tiap-tiap kesesatan itu akan ke neraka".
Kebanyakan umat Islam sekarang hanya mengambil maksud luaran matan hadis tanpa memahami maksud sebenar. Menghukum makna zahir perkataan " كلّ " (tiap-tiap) tanpa merujuknya dalam ilmu usul, ilmu dalam menetapkan sesuatu hukum. Maksud " كلّ " di sini bukanlah bermaksud tiap-tiap atau setiap perkara baru adalah bid'ah yang sesat. Pernahkah kita membaca firmah Allah S.W.T dalam surah al-Kahfi pada menceritakan kisah pertemuan nabi Allah Musa A.S bersama nabi Khidir A.S. Ketika nabi Khidir menjelaskan kepada nabi Musa sebab-sebab setiap tindakan pelik yang dilakukannya. Ia terkandung di dalam firman Allah S.W.T :
فأردت أن أعيبها وكان وراءهم مّلك يأخذ كلّ سفينة غصبا
" Dan aku bertujuan merosakkan bahtera itu kerana di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera "
Adakah maksud " كلّ " dalam firman Allah ini bermaksud bahawa raja itu merampas setiap bahtera di dunia ini? Pasti jawapannya tidak. Dalam ilmu balaghah, perkataan كلّ ini adalah tashbih ba'dhu min kullu. Iaitu perkataan "setiap yang membawa maksud sebahagian". Maka begitu jugalah perkataan " كلّ " pada hadis di atas. Maka bukan semua atau setiap bid'ah itu adalah sesat.
Dalam kitab Fathul Bari Syarah Sahih Al-Bukhari, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani telah membahagikan hukum bid'ah kepada lima. Iaitu bid'ah wajibah, bid'ah mandubah, bid'ah mubahah, bid'ah makruhah dan bid'ah muharramah.
Di sini saya hanya ingin menjelaskan berkenaan satu daripada lima hukum bid'ah di atas, iaitu bid'ah wajibah (bid'ah wajib). Bid'ah wajibah adalah perkara baru yang wajib dilakukan. Jika tidak dilakukan perkara baru ini maka hukumnya berdosa. Contoh perkara bid'ah ini adalah penulisan kitab untuk meng rad (menolak) kepada orang yang memusuhi Islam dan menyesatkan umat Islam. Di antara contoh bid'ah wajibah yang paling besar adalah apa yang telah dilakukan oleh Saidina Abu Bakr Al-Siddiq r.a dalam memerintahkan pengumpulan dan pembukuan al-Quran. Ini dilakukan oleh beliau selepas bermesyuarat bersama Saidina Umar r.a dan mereka berdua meminta Saidina Zaid mengumpulkan ayat-ayat dan membukukan al-Quran.
Jelas bahawa apa yang dilakukan oleh dua Khalifah ini tidak pernah dilakukan oleh baginda nabi S.A.W. Tapi adakah perkara baru ini juga bid'ah yang sesat ? Pembukuan al-Quran dilaksanakan selepas syahidnya ramai sahabat yang menghafal al-Quran. Jika penghimpunan dan pembukuan al-Quran ini tidak berlaku, pastinya umat Islam sekarang ini tidak akan dapat membacanya. Maka ulama' bersepakat bahawa perkara bid'ah seperti ini adalah wajib.
Dewasa ini kita melihat laman-laman web peribadi atau blog tumbuh bagai cendawan selepas hujan. Ramai blogger yang menulis artikel-artikel ilmiah di dalam blognya. Tidak kurang juga blogger yang cuba menyesat dan memesongkan akidah umat Islam. Blogger yang berusaha memporak perandakan kesatuan umat Islam. Maka menolak artikel-artikel blog yang menyesatkan ini amat digalakkan oleh Islam. Walau perkara ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah S.A.W dan ia adalah bid'ah (perkara baru) tetapi hukum penolakkan artikel menyesatkan ini diharuskan oleh Islam. Malah jika artikel-artikel ini boleh memberi mudarat yang besar pada Islam, maka hukumnya boleh jatuh kepada wajib.
Perlu diingatkan hukum wajib ini adalah fardu kifayah, bukan fardu ain. Fardu kifayah bermaksud jika dilakukan oleh seorang maka terhapuslah dosa kepada semua tetapi jika tiada yang melakukan maka semua berdosa. Hanya orang yang ber autoriti untuk menolak atau menjawab artikel ini sahaja berhak melakukannya. Tidak semua perlu melakukannya. Jika dilihat sekarang ini para blogger berlumba-lumba dalam menolak artikel seperti ini. Malah ada di kalangan mereka yang tiada autoriti dan ilmu untuk menulis atau membidas perkara tersebut. Maka penulisan mereka boleh mendatangkan kesan buruk kepada pembaca. Biarkan saja mereka yang mempunyai bidang kuasa dan keilmuan untuk menyelesaikannya. Jangan kerana terlalu ghairah menulis sehingga menyebabkan penyelesaian ini bertambah rumit.
Hukum bid'ah wajibah seperti ini hanya dalam mempertahankan Islam. Ia tidak menjadi bid'ah wajibah sekiranya untuk mempertahankan peribadi. Jika ada keperibadian yang dihina atau dikutuk maka tidak wajib untuk kita mempertahankannya kecuali jika peribadi yang dihina itu adalah Rasulullah S.A.W. Nabi Muhammad S.A.W tidak pernah mempertahankan hak peribadi baginda apabila difitnah atau dihina oleh kaum musyrikin. Tetapi baginda S.A.W tidak pernah diam jika Islam dihina dan dipersenda. Hak dan kebenaran Islam perlu dijaga dan dipertahankan melebihi hak peribadi.
Moga sedikit penerangan ini mampu mengubah persepsi kita terhadap perkara-pekara bid'ah. Ingatlah menulis di blog ini perlu hati-hati kerana ia boleh memberi kesan kepada pembaca. Jika tidak banyak, sedikit kesannya pasti ada. Setiap yang ditulis pasti akan dipersoalkan kelak. Ketahui dan lakukanlah peranan kita sebaiknya.
Wallahu a'lam.
Rujukan :
- Mu'alim Al-Suluk Lil Mar'ah Al-Muslimah oleh Habib Ali Al-Jufri
- Tafsir Terjemahan Al-Quran Al-Karim.
كلّ محدثة بدعة وكلّ بدعة ضلالة وكلّ ضلالة في النار
"Tiap-tiap perkara baru itu bid'ah dan tiap-tiap bid'ah itu sesat, dan tiap-tiap kesesatan itu akan ke neraka".
Kebanyakan umat Islam sekarang hanya mengambil maksud luaran matan hadis tanpa memahami maksud sebenar. Menghukum makna zahir perkataan " كلّ " (tiap-tiap) tanpa merujuknya dalam ilmu usul, ilmu dalam menetapkan sesuatu hukum. Maksud " كلّ " di sini bukanlah bermaksud tiap-tiap atau setiap perkara baru adalah bid'ah yang sesat. Pernahkah kita membaca firmah Allah S.W.T dalam surah al-Kahfi pada menceritakan kisah pertemuan nabi Allah Musa A.S bersama nabi Khidir A.S. Ketika nabi Khidir menjelaskan kepada nabi Musa sebab-sebab setiap tindakan pelik yang dilakukannya. Ia terkandung di dalam firman Allah S.W.T :
فأردت أن أعيبها وكان وراءهم مّلك يأخذ كلّ سفينة غصبا
" Dan aku bertujuan merosakkan bahtera itu kerana di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera "
Adakah maksud " كلّ " dalam firman Allah ini bermaksud bahawa raja itu merampas setiap bahtera di dunia ini? Pasti jawapannya tidak. Dalam ilmu balaghah, perkataan كلّ ini adalah tashbih ba'dhu min kullu. Iaitu perkataan "setiap yang membawa maksud sebahagian". Maka begitu jugalah perkataan " كلّ " pada hadis di atas. Maka bukan semua atau setiap bid'ah itu adalah sesat.
Dalam kitab Fathul Bari Syarah Sahih Al-Bukhari, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani telah membahagikan hukum bid'ah kepada lima. Iaitu bid'ah wajibah, bid'ah mandubah, bid'ah mubahah, bid'ah makruhah dan bid'ah muharramah.
Di sini saya hanya ingin menjelaskan berkenaan satu daripada lima hukum bid'ah di atas, iaitu bid'ah wajibah (bid'ah wajib). Bid'ah wajibah adalah perkara baru yang wajib dilakukan. Jika tidak dilakukan perkara baru ini maka hukumnya berdosa. Contoh perkara bid'ah ini adalah penulisan kitab untuk meng rad (menolak) kepada orang yang memusuhi Islam dan menyesatkan umat Islam. Di antara contoh bid'ah wajibah yang paling besar adalah apa yang telah dilakukan oleh Saidina Abu Bakr Al-Siddiq r.a dalam memerintahkan pengumpulan dan pembukuan al-Quran. Ini dilakukan oleh beliau selepas bermesyuarat bersama Saidina Umar r.a dan mereka berdua meminta Saidina Zaid mengumpulkan ayat-ayat dan membukukan al-Quran.
Jelas bahawa apa yang dilakukan oleh dua Khalifah ini tidak pernah dilakukan oleh baginda nabi S.A.W. Tapi adakah perkara baru ini juga bid'ah yang sesat ? Pembukuan al-Quran dilaksanakan selepas syahidnya ramai sahabat yang menghafal al-Quran. Jika penghimpunan dan pembukuan al-Quran ini tidak berlaku, pastinya umat Islam sekarang ini tidak akan dapat membacanya. Maka ulama' bersepakat bahawa perkara bid'ah seperti ini adalah wajib.
Dewasa ini kita melihat laman-laman web peribadi atau blog tumbuh bagai cendawan selepas hujan. Ramai blogger yang menulis artikel-artikel ilmiah di dalam blognya. Tidak kurang juga blogger yang cuba menyesat dan memesongkan akidah umat Islam. Blogger yang berusaha memporak perandakan kesatuan umat Islam. Maka menolak artikel-artikel blog yang menyesatkan ini amat digalakkan oleh Islam. Walau perkara ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah S.A.W dan ia adalah bid'ah (perkara baru) tetapi hukum penolakkan artikel menyesatkan ini diharuskan oleh Islam. Malah jika artikel-artikel ini boleh memberi mudarat yang besar pada Islam, maka hukumnya boleh jatuh kepada wajib.
Perlu diingatkan hukum wajib ini adalah fardu kifayah, bukan fardu ain. Fardu kifayah bermaksud jika dilakukan oleh seorang maka terhapuslah dosa kepada semua tetapi jika tiada yang melakukan maka semua berdosa. Hanya orang yang ber autoriti untuk menolak atau menjawab artikel ini sahaja berhak melakukannya. Tidak semua perlu melakukannya. Jika dilihat sekarang ini para blogger berlumba-lumba dalam menolak artikel seperti ini. Malah ada di kalangan mereka yang tiada autoriti dan ilmu untuk menulis atau membidas perkara tersebut. Maka penulisan mereka boleh mendatangkan kesan buruk kepada pembaca. Biarkan saja mereka yang mempunyai bidang kuasa dan keilmuan untuk menyelesaikannya. Jangan kerana terlalu ghairah menulis sehingga menyebabkan penyelesaian ini bertambah rumit.
Hukum bid'ah wajibah seperti ini hanya dalam mempertahankan Islam. Ia tidak menjadi bid'ah wajibah sekiranya untuk mempertahankan peribadi. Jika ada keperibadian yang dihina atau dikutuk maka tidak wajib untuk kita mempertahankannya kecuali jika peribadi yang dihina itu adalah Rasulullah S.A.W. Nabi Muhammad S.A.W tidak pernah mempertahankan hak peribadi baginda apabila difitnah atau dihina oleh kaum musyrikin. Tetapi baginda S.A.W tidak pernah diam jika Islam dihina dan dipersenda. Hak dan kebenaran Islam perlu dijaga dan dipertahankan melebihi hak peribadi.
Moga sedikit penerangan ini mampu mengubah persepsi kita terhadap perkara-pekara bid'ah. Ingatlah menulis di blog ini perlu hati-hati kerana ia boleh memberi kesan kepada pembaca. Jika tidak banyak, sedikit kesannya pasti ada. Setiap yang ditulis pasti akan dipersoalkan kelak. Ketahui dan lakukanlah peranan kita sebaiknya.
Wallahu a'lam.
Rujukan :
- Mu'alim Al-Suluk Lil Mar'ah Al-Muslimah oleh Habib Ali Al-Jufri
- Tafsir Terjemahan Al-Quran Al-Karim.
Iman itu adalah pengakuan dengan hati, ucapan (lisan), dan perbuatan (amalan).
1 - Bahawa seseorang yang mengakui iman dengan hati dan lidahnya, lalu dia tidak berbuat taat (dengan meninggalkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya), maka dia telah berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berhak diancam dosa.
2 – Amal perbuatan dengan keseluruhan jenis-jenisnya yang meliputi amalan hati dan amalan anggota badan adalah termasuk hakikat iman. Ahlus Sunnah tidak mengeluarkan amalan sekecil apa pun dari hakikat iman ini, apatah lagi amalan-amalan besar dan agung.
3 – Seseorang yang menyatakan bahawa amal perbuatan tidak termasuk ke dalam kategori iman, dan dia menyatakan bahawa iman itu berpisah dan berbeza dari amal-amal, lalu menyatakan bahawa iman seorang manusia tidak akan berubah walau pun tidak berbuat taat dan dalam keadaan bermaksiat, maka ini adalah suatu bentuk pemaksuman diri.
4 – Iman itu boleh bertambah, dengan amalan kebaikan (ketaatan). Dan iman itu berkurang dengan disebabkan perbuatan maksiat/dosa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka.” (Surah al-Anfal, 8: 2)
“Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (Surah al-Muddatsir, 74: 31)
“(Iaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.” (Surah ‘Ali Imran, 3: 173)
5 – Iman memiliki tingkatan-tingkatan serta cabang-cabangnya. Sebahagian di antaranya jika ditinggalkan, maka menjadikan seseorang itu kufur, sebahagian yang lain jika ditinggalkan, adalah dosa (sama ada kecil atau besar), dan sebahagian yang lain jika ditinggalkan akan menyebabkan hilangnya kesempatan memperolehi pahala dan menyia-nyiakan ganjaran.
6 – Ahlus Sunnah tidak mengkafirkan Ahlul Qiblat (kaum Muslimin) secara mutlak, dengan sebab perbuatan maksiat dan dosa besar yang mereka lakukan, sebagimana yang dilakukan (diyakini) oleh kaum Khawarij, malah persaudaraan iman mereka tetap terpelihara, walau pun berbuat maksiat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):
“Dan jika dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah di antara keduanya.” (Surah al-Hujuraat, 49: 9)
7 – Ahlus Sunnah meyakini (beri’tiqad) bahawa orang Islam yang melakukan dosa besar atau fasiq tidak dihukumi kekal di dalam Neraka. Dengan kehendak Allah, orang yang mati dalam keadaan berdosa besar atau fasiq selagi mana dia masih bertauhid (tidak kafir/syirik), dengan kehendak Allah dia boleh dihukum ke Neraka dan dia tidak kekal di dalamnya, dan dengan Rahmat Allah, dia akan dimasukkan ke Syurga, setelah diampunkan dosa-dosanya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya. Sesiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar.” (Surah an-Nisaa’, 4: 48)
1 - Bahawa seseorang yang mengakui iman dengan hati dan lidahnya, lalu dia tidak berbuat taat (dengan meninggalkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya), maka dia telah berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berhak diancam dosa.
2 – Amal perbuatan dengan keseluruhan jenis-jenisnya yang meliputi amalan hati dan amalan anggota badan adalah termasuk hakikat iman. Ahlus Sunnah tidak mengeluarkan amalan sekecil apa pun dari hakikat iman ini, apatah lagi amalan-amalan besar dan agung.
3 – Seseorang yang menyatakan bahawa amal perbuatan tidak termasuk ke dalam kategori iman, dan dia menyatakan bahawa iman itu berpisah dan berbeza dari amal-amal, lalu menyatakan bahawa iman seorang manusia tidak akan berubah walau pun tidak berbuat taat dan dalam keadaan bermaksiat, maka ini adalah suatu bentuk pemaksuman diri.
4 – Iman itu boleh bertambah, dengan amalan kebaikan (ketaatan). Dan iman itu berkurang dengan disebabkan perbuatan maksiat/dosa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka.” (Surah al-Anfal, 8: 2)
“Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (Surah al-Muddatsir, 74: 31)
“(Iaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.” (Surah ‘Ali Imran, 3: 173)
5 – Iman memiliki tingkatan-tingkatan serta cabang-cabangnya. Sebahagian di antaranya jika ditinggalkan, maka menjadikan seseorang itu kufur, sebahagian yang lain jika ditinggalkan, adalah dosa (sama ada kecil atau besar), dan sebahagian yang lain jika ditinggalkan akan menyebabkan hilangnya kesempatan memperolehi pahala dan menyia-nyiakan ganjaran.
6 – Ahlus Sunnah tidak mengkafirkan Ahlul Qiblat (kaum Muslimin) secara mutlak, dengan sebab perbuatan maksiat dan dosa besar yang mereka lakukan, sebagimana yang dilakukan (diyakini) oleh kaum Khawarij, malah persaudaraan iman mereka tetap terpelihara, walau pun berbuat maksiat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):
“Dan jika dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah di antara keduanya.” (Surah al-Hujuraat, 49: 9)
7 – Ahlus Sunnah meyakini (beri’tiqad) bahawa orang Islam yang melakukan dosa besar atau fasiq tidak dihukumi kekal di dalam Neraka. Dengan kehendak Allah, orang yang mati dalam keadaan berdosa besar atau fasiq selagi mana dia masih bertauhid (tidak kafir/syirik), dengan kehendak Allah dia boleh dihukum ke Neraka dan dia tidak kekal di dalamnya, dan dengan Rahmat Allah, dia akan dimasukkan ke Syurga, setelah diampunkan dosa-dosanya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya. Sesiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar.” (Surah an-Nisaa’, 4: 48)
Tujuan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutuskan para Rasul-Nya adalah untuk menyeru manusia untuk beribadah dengan membersihkan segala bentuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ini dijelaskan sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (maksudnya):
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus para Rasul kepada setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah sahaja dan jauhilah taghut”.” (Surah an-Nahl, 16: 36)
Thagut adalah syaitan yang menyeru manusia agar menuju bentuk-bentuk peribadatan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallah bersabda (maksudnya):
“Para Nabi itu adalah bersaudara... dan agama mereka adalah satu.” (Hadis Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Juga firman-Nya (maksudnya):
"Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu (Wahai Muhammad) seorang Rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahawa Sesungguhnya tiada Ilah (Tuhan yang berhak disembah dengan benar) melainkan Aku; oleh itu, Beribadatlah kamu kepadaku". (Surah al-Anbiya’, 21: 25).
“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia itu melainkan untuk mengabdikan diri kepada-Ku.” (Surah adz-Dzariyat, 51: 56)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan di dalam tafsirnya bahawa: “Ayat ini memerintahkan supaya manusia mentauhidkan Allah dan meninggalkan segala bentuk perbuatan (amalan) syirik.”
Kesimpulan:
1 – Manusia diciptakan dengan tujuan tertentu sebagaimana yang telah Allah tetapkan.
2 – Setiap umat pasti diturunkan Rasul (penyampai utusan Allah) yang bertujuan mengajarkan perkara agama.
3 – Setiap Rasul yang diutuskan memiliki tujuan yang paling utama iaitu menyerukan manusia supaya mentauhidkan Allah dan meninggalkan taghut (kesyirikan).
4 – Setiap Rasul membawa agama yang satu, iaitu Islam.
5 – Sesungguhnya hidayah dan taufiq itu adalah milik Allah.
Ini dijelaskan sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (maksudnya):
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus para Rasul kepada setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah sahaja dan jauhilah taghut”.” (Surah an-Nahl, 16: 36)
Thagut adalah syaitan yang menyeru manusia agar menuju bentuk-bentuk peribadatan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallah bersabda (maksudnya):
“Para Nabi itu adalah bersaudara... dan agama mereka adalah satu.” (Hadis Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Juga firman-Nya (maksudnya):
"Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu (Wahai Muhammad) seorang Rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahawa Sesungguhnya tiada Ilah (Tuhan yang berhak disembah dengan benar) melainkan Aku; oleh itu, Beribadatlah kamu kepadaku". (Surah al-Anbiya’, 21: 25).
“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia itu melainkan untuk mengabdikan diri kepada-Ku.” (Surah adz-Dzariyat, 51: 56)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan di dalam tafsirnya bahawa: “Ayat ini memerintahkan supaya manusia mentauhidkan Allah dan meninggalkan segala bentuk perbuatan (amalan) syirik.”
Kesimpulan:
1 – Manusia diciptakan dengan tujuan tertentu sebagaimana yang telah Allah tetapkan.
2 – Setiap umat pasti diturunkan Rasul (penyampai utusan Allah) yang bertujuan mengajarkan perkara agama.
3 – Setiap Rasul yang diutuskan memiliki tujuan yang paling utama iaitu menyerukan manusia supaya mentauhidkan Allah dan meninggalkan taghut (kesyirikan).
4 – Setiap Rasul membawa agama yang satu, iaitu Islam.
5 – Sesungguhnya hidayah dan taufiq itu adalah milik Allah.
Khusyuk pada pengertian bahasa bermaksud tunduk dan merendah diri. Orang yang khusyuk ialah orang yang tunduk dan merendah diri. Adapun pengertian khusyuk di dalam solat, di bawah ini kita kemukakan beberapa pandangan ulamak tentang makna khusyuk di dalam solat;
1. Berkata Saidina ‘Ali r.a.; “Khusyuk itu ialah khusyuk hati”. Menurut riwayat lain, beliau berkata; “Khusyuk itu ialah tidak berpaling ke kanan atau ke kiri”.
2. Menurut Imam al-Qurthubi; “Khusyuk ialah suatu keadaan di dalam jiwa di mana dia mewujudkan keadaan tetap (tenang) dan merendah diri segala anggota”.
3. Menurut Imam Zamakhsyari; “Khusuk dalam solat ialah hati berkeadaan takut dan mata selalu tunduk (ke tempat sujud)”. (al-Kasysyaf)
4. Berkata Imam al-Jurjani; “Orang yang khusyuk ialah yang merendah diri kepada Allah dengan hati dan segala anggotanya”. (at-Ta’rifat)
5. Menurut Imam al-Kalbi; “Khusyuk itu ialah suatu keadaan di hati di mana dia mempunyai sifat takut, muraqabah (selalu memperhati kan Allah) dan merendah diri kepada kebesaran Allah, kemudian dia mempengaruhi segala anggota yang membawa berkeadaan tetap, seronok melakukan solat, tidak berpaling-paling, menangis dan berdoa”.
Dari penjelasan para ulamak di atas, dapat kita simpulkan bahawa khusyuk di dalam solat hendaklah menggabungkan dua bentuk khusyuk;
1. Khusyuk batin; iaitu khusyuk hati dengan menghadirkan di dalam hati perasaan takut kepada Allah, rendah diri serta mengharapkan rahmatNya.
2. Khusyuk lahir; iaitu khusyuk kepala dengan cara menundukkannya, khusyuk mata dengan cara tidak menoleh atau berpaling-paling, khusyuk tangan ialah dengan meletakkan tangan kanan ke atas tangan kiri dengan penuh hormat seperti perlakuan seorang hamba dan khusyuk dua kaki ialah dengan tegaknya berpijak dan berkeadaan tetap, tidak bergerak. Khusyuk lahir ini terbit dari khusyuk batin atau hati tadi.
Kenapakah khusyuk penting?
Khusyuk penting kerana pahala solat bergantung kepadanya. Sabda Nabi s.a.w.; “Sesungguhnya seorang lelaki selesai menunaikan solat, namun tidak ditulis pahala untuknya melainkan sepersepuluh, sepersembilan, seperlapan, sepertujuh, sepernam, seperlima, seperempat, sepertiga atau seperdua” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Hibban dari ‘Ammar bin Yasir r.a.. Menurut Imam as-Suyuti, hadis ini soheh. Lihat. Al-Jami’ as-Saghier, hadis no. 1978).
Dalam hadis yang lain Nabi s.a.w. bersabda; “Barangkali seorang yang bangun mengerjakan solat di malam hari, habuannya dari solat malamnya hanyalah berjaga malam (yakni tidak ada pahala). Dan barangkai seorang yang berpuasa, habuannya dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga”. (Riwayat at-Tabrani, Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi dari Abu Hurairah r.a.. Menurut Imam as-Suyuti; hadis ini soheh. Berkata Hafidz al-‘Iraqi; ia adalah hasan. Menurut Imam al-Haitami; perawi-perawinya adalah siqah. Lihat; al-Jami’ as-Saghier dan Faidhul-Qadier, hadis no. 4405).
Berikah contoh manusia yang khusyuk di dalam solat
Contoh manusia yang khusyuk ialah para sahabat. Abdullah bin ‘Umar r.a. –salah seorang sahabat Nabi yang masyhur- pernah menceritakan sentang solat para sahabat dengan katanya; “Para sahabat Nabi s.a.w. apabila mereka mengerjakan solat, mereka memberi perhatian bersungguh-sungguh kepada solat mereka, mereka menundukkan penglihatan mereka ke tempat-tempat sujud mereka dan mereka menyedari sesungguhnya Allah sedang berhadap kepada mereka, maka tidaklah mereka berpaling ke kanan dan ke kiri”.
Nyatakan rahsia-rahsia untuk mendapat khusyuk di dalam solat mengikut Imam al-Ghazali
Menurut Imam al-Ghazali, untuk menghadirkan khusyuk di dalam solat, ada enam perkara yang perlu kita lakukan semasa mengerjakan solat;
Pertama; Hudhur al-Qlabi (حضور القلب); iaitu menghadirkan hati kita ketika menunaikan solat iaitu dengan membuang dari hati segala yang tidak ada kena-mengena dengan solat kita.
Kedua; at-Tafahhum (التفهم); iaitu berusaha memahami iaitu melakukan usaha untuk memahami segala perkara yang dilakukan di dalam solat sama ada perbuatan atau yang dibaca/diucapkan.
Ketiga; at-Ta’dziem (التعظيم); iaitu merasai kebesaran Allah iaitu dengan merasai diri terlalu kerdil di hadapan Allah.
Keempat; al-Haibah (الهيبة); iaitu merasa gerun terhadap keagungan Allah dan siksaanNya.
Kelima; ar-Raja’ (الرجاء); iaitu sentiasa menaruh harapan besar kepada Allah mudah-mudahan solat yang dikerjakan akan diterima dan diganjari oleh Allah.
Keenam; al-Haya’ (الحياء); iaitu merasa malu terhadap Allah di atas segala kekurangan dan kecacatan yang terdapat di dalam solat.
1. Berkata Saidina ‘Ali r.a.; “Khusyuk itu ialah khusyuk hati”. Menurut riwayat lain, beliau berkata; “Khusyuk itu ialah tidak berpaling ke kanan atau ke kiri”.
2. Menurut Imam al-Qurthubi; “Khusyuk ialah suatu keadaan di dalam jiwa di mana dia mewujudkan keadaan tetap (tenang) dan merendah diri segala anggota”.
3. Menurut Imam Zamakhsyari; “Khusuk dalam solat ialah hati berkeadaan takut dan mata selalu tunduk (ke tempat sujud)”. (al-Kasysyaf)
4. Berkata Imam al-Jurjani; “Orang yang khusyuk ialah yang merendah diri kepada Allah dengan hati dan segala anggotanya”. (at-Ta’rifat)
5. Menurut Imam al-Kalbi; “Khusyuk itu ialah suatu keadaan di hati di mana dia mempunyai sifat takut, muraqabah (selalu memperhati kan Allah) dan merendah diri kepada kebesaran Allah, kemudian dia mempengaruhi segala anggota yang membawa berkeadaan tetap, seronok melakukan solat, tidak berpaling-paling, menangis dan berdoa”.
Dari penjelasan para ulamak di atas, dapat kita simpulkan bahawa khusyuk di dalam solat hendaklah menggabungkan dua bentuk khusyuk;
1. Khusyuk batin; iaitu khusyuk hati dengan menghadirkan di dalam hati perasaan takut kepada Allah, rendah diri serta mengharapkan rahmatNya.
2. Khusyuk lahir; iaitu khusyuk kepala dengan cara menundukkannya, khusyuk mata dengan cara tidak menoleh atau berpaling-paling, khusyuk tangan ialah dengan meletakkan tangan kanan ke atas tangan kiri dengan penuh hormat seperti perlakuan seorang hamba dan khusyuk dua kaki ialah dengan tegaknya berpijak dan berkeadaan tetap, tidak bergerak. Khusyuk lahir ini terbit dari khusyuk batin atau hati tadi.
Kenapakah khusyuk penting?
Khusyuk penting kerana pahala solat bergantung kepadanya. Sabda Nabi s.a.w.; “Sesungguhnya seorang lelaki selesai menunaikan solat, namun tidak ditulis pahala untuknya melainkan sepersepuluh, sepersembilan, seperlapan, sepertujuh, sepernam, seperlima, seperempat, sepertiga atau seperdua” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Hibban dari ‘Ammar bin Yasir r.a.. Menurut Imam as-Suyuti, hadis ini soheh. Lihat. Al-Jami’ as-Saghier, hadis no. 1978).
Dalam hadis yang lain Nabi s.a.w. bersabda; “Barangkali seorang yang bangun mengerjakan solat di malam hari, habuannya dari solat malamnya hanyalah berjaga malam (yakni tidak ada pahala). Dan barangkai seorang yang berpuasa, habuannya dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga”. (Riwayat at-Tabrani, Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi dari Abu Hurairah r.a.. Menurut Imam as-Suyuti; hadis ini soheh. Berkata Hafidz al-‘Iraqi; ia adalah hasan. Menurut Imam al-Haitami; perawi-perawinya adalah siqah. Lihat; al-Jami’ as-Saghier dan Faidhul-Qadier, hadis no. 4405).
Berikah contoh manusia yang khusyuk di dalam solat
Contoh manusia yang khusyuk ialah para sahabat. Abdullah bin ‘Umar r.a. –salah seorang sahabat Nabi yang masyhur- pernah menceritakan sentang solat para sahabat dengan katanya; “Para sahabat Nabi s.a.w. apabila mereka mengerjakan solat, mereka memberi perhatian bersungguh-sungguh kepada solat mereka, mereka menundukkan penglihatan mereka ke tempat-tempat sujud mereka dan mereka menyedari sesungguhnya Allah sedang berhadap kepada mereka, maka tidaklah mereka berpaling ke kanan dan ke kiri”.
Nyatakan rahsia-rahsia untuk mendapat khusyuk di dalam solat mengikut Imam al-Ghazali
Menurut Imam al-Ghazali, untuk menghadirkan khusyuk di dalam solat, ada enam perkara yang perlu kita lakukan semasa mengerjakan solat;
Pertama; Hudhur al-Qlabi (حضور القلب); iaitu menghadirkan hati kita ketika menunaikan solat iaitu dengan membuang dari hati segala yang tidak ada kena-mengena dengan solat kita.
Kedua; at-Tafahhum (التفهم); iaitu berusaha memahami iaitu melakukan usaha untuk memahami segala perkara yang dilakukan di dalam solat sama ada perbuatan atau yang dibaca/diucapkan.
Ketiga; at-Ta’dziem (التعظيم); iaitu merasai kebesaran Allah iaitu dengan merasai diri terlalu kerdil di hadapan Allah.
Keempat; al-Haibah (الهيبة); iaitu merasa gerun terhadap keagungan Allah dan siksaanNya.
Kelima; ar-Raja’ (الرجاء); iaitu sentiasa menaruh harapan besar kepada Allah mudah-mudahan solat yang dikerjakan akan diterima dan diganjari oleh Allah.
Keenam; al-Haya’ (الحياء); iaitu merasa malu terhadap Allah di atas segala kekurangan dan kecacatan yang terdapat di dalam solat.
Apakah itu ilmu faraid?
Ilmu Faraid ialah: “Ilmu berkenaan kaedah-kaedah fekah dan hisab (matematik) bertujuan untuk mengetahui habuan yang bakal diperolehi oleh setiap ahli waris dari harta peninggalan si mati”.
Apakah kelebihan mempelajari ilmu Faraid?
1. Sabda Rasulullah s.a.w.; “Belajarlah ilmu Faraid dan ajarkanlah kepada orang lain kerana ia adalah separuh ilmu. Dia akan dilupakan dan dia akan menjadi perkara pertama dicabut dari umatku”. (Riwayat Ibu Majah dari Abu Hurairah r.a.)
2. Berkata Saidina Umar r.a.: “Pelajarilah ilmu as-Sunnah, ilmu Faraid dan ilmu Bahasa (Arab) sebagaimana kamu mempelajari al-Quran”. (Diriwayatkan oleh Imam ad-Darimi, Ibnu ‘Abdil-Barri dan Abu ‘Ubaid/Kanzul-‘Ummal, al-Muttaqi al-Hindi, no. 29347)
Apakah tujuan mempelajari ilmu Faraid?
Untuk mengetahui bahagian atau habuan yang bakal diperolehi oleh setiap ahli waris dari harta peninggalan si mati atau harta pusaka.
Apakah yang menjadi objek perbahasan ilmu Faraid?
At-Tarikah (التركة) iaitu harta peninggalan si mati.
Apa yang dimaksudkan at-Tarikah?
At-Tarikah atau harta peninggalan bermaksud segala harta yang ditinggalkan si mati selepas kematiannya sama ada aset tetap (seperti tanah, rumah, bangunan dan sebagainya) atau aset berubah (seperti mata-wang, emas, perak dan sebagainya).
Apakah aspek-aspek penting yang perlu diketahui untuk mendalami ilmu faraid?
1.Mengetahui cabang-cabang nasab
2.Mengetahui siapa ahli waris dan siapa bukan ahli waris.
3.Mengetahui kadar atau bahagian yang akan diwarisi oleh setiap ahli waris
4.Mengetahui kaedah atau cara mengira (ilmu matematik dasar).
Apakah kewajipan yang mesti ditunaikan terhadap harta si mati?
Pertama; Diambil darinya untuk kos pengurusan jenazahnya.
Kedua; Kemudian, diambil darinya untuk membayar hutang-hutangnya; (pertama) hutangnya dengan hamba-hamba Allah dan (kedua) hutangnya dengan Allah.
Ketiga; Kemudian, dilaksanakan wasiatnya dengan syarat tidak melebihi 1/3 dari harta yang tinggal setelah ditolak hutang.
Keempat; Akhirnya, diagihkan kepada ahli-ahli warisnya.
Apakah rukun-rukun bagi sebuah perwarisan?
Rukun-rukun perwarisan ada tiga, iaitu;
1. al-Muwarrith iaitu orang yang mewariskan harta (yakni si mati)
2. al-Warith iaitu orang yang bakal mewarisi harta si mati.
3. al-Mauruth iaitu harta yang diwariskan oleh si mati.
Apakah faktor-faktor perwarisan?
1. Ikatan keturunan atau kekeluargaan
Ia merangkumi;
a)Usul; iaitu ibu-bapa, datuk, nenek dan seterusnya.
b)Furu’; iaitu anak, cucu, cicit dan seterusnya.
c)Hawasyi; iaitu (pertama) saudara-saudara dan anak-anak saudara, (kedua) bapa-bapa saudara dan anak-anak bapa saudara.
2. Ikatan perkahwinan
Iaitu ikatan suami dan isteri.
3. Ikatan dengan bekas hamba (Al-Wala’)
Iaitu perwarisan seseorang dengan sebab ikatan antaranya dengan hamba yang telah dibebasnya.
4. Ikatan akidah (keislaman)
Iaitu seorang muslim yang mati jika ia tidak mempunyai sebarang ahli waris melalui sebab-sebab di atas, maka harta peninggalannya akan menjadi hak kaum muslimin yakni dimasukkan ke dalam Baitul-Mal.
Apakah syarat-syarat untuk mewarisi harta seseorang?
1. al-Muwarrith (orang yang mewariskan harta) telah pasti matinya.
2. Al-Warith (orang yang mewarisi) masih hidup ketika kematian al-muwarrith (si mati).
3. Dipastikan terlebih dahulu secara terperinci jenis hubungan antara waris dengan si mati yang menjadi faktor kepada perwarisan.
4. Tidak terdapat sebarang tegahan yang menghalang dari mewarisi harta si mati.
Apakah yang menghalang perwarisan?
1. Menjadi hamba
Seorang hamba tidak akan mewarisi kerana hartanya akan berpindah kepada tuannya.
2. Membunuh orang yang mewariskan harta.
Sabda Rasulullah s.a.w.;
القَاتِلُ لاِثُ
يَرِ“Orang yang membunuh tidak mewarisi (harta dari orang yang dibunuhnya)”. (Riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah r.a.)
3. Berbeza agama (yakni antara Islam dan kafir)
Sabda Rasulullah s.a.w.;
لاَ يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ، وَلاَ يَرِثُ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ
“Tidak mewarisi seorang muslim dari seorang kafir dan tidak mewarisi seorang kafir dari seorang muslim”. (Riwayat Muslim dari Usamah bin Zaid r.a.)
Ilmu Faraid ialah: “Ilmu berkenaan kaedah-kaedah fekah dan hisab (matematik) bertujuan untuk mengetahui habuan yang bakal diperolehi oleh setiap ahli waris dari harta peninggalan si mati”.
Apakah kelebihan mempelajari ilmu Faraid?
1. Sabda Rasulullah s.a.w.; “Belajarlah ilmu Faraid dan ajarkanlah kepada orang lain kerana ia adalah separuh ilmu. Dia akan dilupakan dan dia akan menjadi perkara pertama dicabut dari umatku”. (Riwayat Ibu Majah dari Abu Hurairah r.a.)
2. Berkata Saidina Umar r.a.: “Pelajarilah ilmu as-Sunnah, ilmu Faraid dan ilmu Bahasa (Arab) sebagaimana kamu mempelajari al-Quran”. (Diriwayatkan oleh Imam ad-Darimi, Ibnu ‘Abdil-Barri dan Abu ‘Ubaid/Kanzul-‘Ummal, al-Muttaqi al-Hindi, no. 29347)
Apakah tujuan mempelajari ilmu Faraid?
Untuk mengetahui bahagian atau habuan yang bakal diperolehi oleh setiap ahli waris dari harta peninggalan si mati atau harta pusaka.
Apakah yang menjadi objek perbahasan ilmu Faraid?
At-Tarikah (التركة) iaitu harta peninggalan si mati.
Apa yang dimaksudkan at-Tarikah?
At-Tarikah atau harta peninggalan bermaksud segala harta yang ditinggalkan si mati selepas kematiannya sama ada aset tetap (seperti tanah, rumah, bangunan dan sebagainya) atau aset berubah (seperti mata-wang, emas, perak dan sebagainya).
Apakah aspek-aspek penting yang perlu diketahui untuk mendalami ilmu faraid?
1.Mengetahui cabang-cabang nasab
2.Mengetahui siapa ahli waris dan siapa bukan ahli waris.
3.Mengetahui kadar atau bahagian yang akan diwarisi oleh setiap ahli waris
4.Mengetahui kaedah atau cara mengira (ilmu matematik dasar).
Apakah kewajipan yang mesti ditunaikan terhadap harta si mati?
Pertama; Diambil darinya untuk kos pengurusan jenazahnya.
Kedua; Kemudian, diambil darinya untuk membayar hutang-hutangnya; (pertama) hutangnya dengan hamba-hamba Allah dan (kedua) hutangnya dengan Allah.
Ketiga; Kemudian, dilaksanakan wasiatnya dengan syarat tidak melebihi 1/3 dari harta yang tinggal setelah ditolak hutang.
Keempat; Akhirnya, diagihkan kepada ahli-ahli warisnya.
Apakah rukun-rukun bagi sebuah perwarisan?
Rukun-rukun perwarisan ada tiga, iaitu;
1. al-Muwarrith iaitu orang yang mewariskan harta (yakni si mati)
2. al-Warith iaitu orang yang bakal mewarisi harta si mati.
3. al-Mauruth iaitu harta yang diwariskan oleh si mati.
Apakah faktor-faktor perwarisan?
1. Ikatan keturunan atau kekeluargaan
Ia merangkumi;
a)Usul; iaitu ibu-bapa, datuk, nenek dan seterusnya.
b)Furu’; iaitu anak, cucu, cicit dan seterusnya.
c)Hawasyi; iaitu (pertama) saudara-saudara dan anak-anak saudara, (kedua) bapa-bapa saudara dan anak-anak bapa saudara.
2. Ikatan perkahwinan
Iaitu ikatan suami dan isteri.
3. Ikatan dengan bekas hamba (Al-Wala’)
Iaitu perwarisan seseorang dengan sebab ikatan antaranya dengan hamba yang telah dibebasnya.
4. Ikatan akidah (keislaman)
Iaitu seorang muslim yang mati jika ia tidak mempunyai sebarang ahli waris melalui sebab-sebab di atas, maka harta peninggalannya akan menjadi hak kaum muslimin yakni dimasukkan ke dalam Baitul-Mal.
Apakah syarat-syarat untuk mewarisi harta seseorang?
1. al-Muwarrith (orang yang mewariskan harta) telah pasti matinya.
2. Al-Warith (orang yang mewarisi) masih hidup ketika kematian al-muwarrith (si mati).
3. Dipastikan terlebih dahulu secara terperinci jenis hubungan antara waris dengan si mati yang menjadi faktor kepada perwarisan.
4. Tidak terdapat sebarang tegahan yang menghalang dari mewarisi harta si mati.
Apakah yang menghalang perwarisan?
1. Menjadi hamba
Seorang hamba tidak akan mewarisi kerana hartanya akan berpindah kepada tuannya.
2. Membunuh orang yang mewariskan harta.
Sabda Rasulullah s.a.w.;
القَاتِلُ لاِثُ
يَرِ“Orang yang membunuh tidak mewarisi (harta dari orang yang dibunuhnya)”. (Riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah r.a.)
3. Berbeza agama (yakni antara Islam dan kafir)
Sabda Rasulullah s.a.w.;
لاَ يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ، وَلاَ يَرِثُ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ
“Tidak mewarisi seorang muslim dari seorang kafir dan tidak mewarisi seorang kafir dari seorang muslim”. (Riwayat Muslim dari Usamah bin Zaid r.a.)
Apa maksud zakat fitrah?
Zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan bersempena dengan bulan Ramadhan dan juga hari raya Fitrah (aidil-Fitr). Dinamakan juga dengan zakat al-Abdan dan ar-Ru-us (zakat badan dan kepala) kerana ia diwajibkan ke atas setiap batang tubuh orang Islam tanpa kecuali sama ada kecil atau besar, tua atau muda, lelaki atau wanita, miskin atau kaya, merdeka atau hamba.
Kenapa dinamakan zakat ini dengan al-Fitrah?
Ada dua pengertian;
a) Ia diambil dari perkataan al-Fitr (الْفِطْر) yang bermakna berbuka kerana zakat tersebut diwajibkan bersempena hari raya (1 Syawal) iaitu hari di mana umat Islam diwajibkan berbuka setelah sebulan penuh mereka berpuasa di bulan Ramadhan.
b) Ia di ambil dari perkataan al-Fithrah (الفطرة) bermaksud al-Khilqah (yakni kejadian) kerana zakat ini menyuci dan membersihkan fitrah atau kejadian manusia.
Apa hukum zakat fitrah? Apa dalilnya?
Zakat fitrah adalah wajib. Dalil kewajipan zakat fitrah antaranya ialah hadis dari Ibnu Umar r.a. yang menceritakan; “Rasulullah s.a.w. telah memfardhukan zakat fitrah iaitu segantang tamar atau segantang gandum ke atas hamba dan orang merdeka, lelaki dan perempuan, kecil dan besar dari kalangan umat Islam. Baginda memerintahkan supaya ia ditunai sebelum orang ramai keluar pergi menunaikan sembahyang (hari raya)” (Hadis riwayat Imam Bukhari).
Menurut Imam Ibnu al-Munzir; “Telah menjadi ijma’ para ulama’ bahawa zakat fitrah hukumnya adalah wajib”. Walaupun tidak dinafikan ada segelintir ulama’ berpandangan bahawa zakat Fitrah adalah sunnah, namun menurut Imam Nawawi dalam Raudhatu at-Thalibin, pandangan mereka ini adalah syaz dan munkar.
Bilakah mula diwajibkan zakat fitrah?
Mula diwajibkan pada tahun ke 2 Hijrah iaitu tahun yang sama diwajibkan puasa bulan Ramadhan.
Apa hikmah diwajibkan zakat fitrah?
1. Sebagai pembersihan bagi orang yang berpuasa dan menampung kekurangan puasa mereka. Hikmah ini berdasarkan hadis dari Ibnu ‘Abbas r.a. yang menceritakan;
“Rasulullah telah mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang berpuasa dari perkara sia-sia dan ucapan-ucapan kotor dan juga sebagai makanan kepada fakir miskin” (Hadis riwayat Imam Abu Daud , Ibnu Majah dan al-Hakim).
Seorang ulama’ bernama Waki’ bin al-Jirah berkata; “Zakat fitrah bagi puasa Ramadhan seumpama sujud sahwi bagi solat di mana ia membaiki kekurangan puasa sepertimana sujud sahwi membaiki kekurangan solat”. (al-Iqna’, jil. 1, hlm. 324)
2. Sebagai bantuan untuk orang miskin; iaitu untuk membantu mereka sekadar yang terdaya agar mereka dapat sama-sama bergembira dan menikmati makanan tatkala berhari-raya. Hikmah ini berdasarkan hadis dari Ibnu ‘Umar yang menceritakan;
“Rasulullah s.a.w. telah mewajibkan zakat fitrah dan baginda berpesan; “Cukupkanlah mereka (yakni orang-orang fakir miskin) pada hari ini (yakni hari raya puasa)””. (Riwayat Imam al-Baihaqi dan Daruqutni/lihat hadis ini dalam Nailul-Authar, Imam asy-Syaukani, bab Zakat al-Fitri)
Ke atas siapa diwajibkan zakat fitrah?
Zakat fitrah diwajibkan ke atas semua individu sama ada lelaki atau wanita, kecil atau dewasa, merdeka atau hamba, miskin atau kaya, orang bandar atau pedalaman jika cukup syarat-syarat yang akan disebutkan nanti.
Bagi orang yang belum mempunyai tanggungan, zakat fitrahnya disempurnakan oleh dirinya sendiri atau orang yang menanggung nafkahnya. Adapun orang yang telah mempunyai tanggungan, ia wajib menyempurnakan zakat fitrah untuk dirinya sendiri dan juga orang-orang yang berada di bawah tanggungan nafkahnya merangkumi;
1. Isteri
2. Asal-asulnya (iaitu bapa, ibu, datuk, nenek hingga berikutnya ke atas)
3. Zuriatnya (iaitu anak-pinak dan cucu-cicit); sama ada lelaki atau perempuan, kecil atau besar/dewasa.
4. Hamba yang dimiliki.
Bagaimana jika seseorang itu mempunyai tanggungan yang banyak dan harta yang ada tidak mencukupi untuk membayar zakat untuk semua tanggungannya?
Hendaklah membayar zakat untuk diri sendiri dan sebahagian tanggungannya mengikut urutan keutamaan di bawah;
1. Isterinya
2. Anaknya yang kecil
3. Bapanya
4. Ibunya
5. Anaknya yang dewasa
Jika orang terdapat lebih dari seorang (seperti ia memiliki lebih dari seorang isteri atau lebih dari seorang anak kecil), maka ia boleh memilih dari kalangan mereka siapa yang hendak ia zakati.
Jika isteri kaya, adakah suami tetap wajib menanggung zakat fitrahnya?
Ya, kerana isteri berada di bawah tanggungan nafkah suami, maka zakat fitrahnya menjadi kewajipan suami sekalipun isteri kaya.
Jika suami miskin, adakah isteri wajib mengeluarkan sendiri zakat fitrahnya?
Tidak wajib. Jika suami miskin dan tidak mampu mengeluarkan zakat fitrah, gugur zakat fitrah dari isterinya sebagaimana gugur dari dirinya. Tidak wajib isteri mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya kerana ia tertanggung atas bahu suaminya. Walaupun tidak wajib, namun disunatkan ia mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya jika ia mampu.
Bilakah anak wajib menanggung zakat fitrah untuk ibu-bapanya?
Anak tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah bagi ibu-bapanya kecualilah jika ibu-bapanya fakir atau miskin di mana nafkah sara hidup mereka menjadi kewajipannya ketika itu. Adapun ibu-bapa yang kaya atau berkemampuan, maka zakat fitrah mereka tidak wajib ditanggung oleh anak-anak mereka, akan tetapi ditanggung oleh mereka sendiri.
Bilakah bapa wajib menanggung zakat fitrah untuk anak-anaknya?
Anak-anak terbahagi kepada dua;
1. Anak-anak yang masih kecil
2. Anak-anak yang telah dewasa (baligh)
Anak-anak yang masih kecil sama ada lelaki atau perempuan, jika mereka memiliki harta, maka zakat fitrah hendaklah dikeluarkan dari harta mereka. Menjadi tanggungjawab walinya untuk mengeluarkannnya dari harta tersebut. Namun jika mereka tidak memiliki harta, maka zakat fitrah mereka ditanggung oleh bapa atau penjaga yang menanggung nafkah mereka.
Anak-anak yang telah baligh (dewasa), jika mereka mampu mencari pendapatan sendiri, maka zakat fitrah mereka tertanggung atas diri mereka sendiri, bukan atas bapa atau penjaga mereka. Malah tidak sah bapa atau penjaga mereka mengeluarkannya bagi pihak mereka kecuali dengan izin mereka atau dengan mereka mewakilkannya.
Adapun yang tidak mampu mencari pendapatan sendiri –sama ada kerana ditimpa sakit yang berterusan, gila atau kerana menumpukan masa untuk menuntut ilmu- maka bapa atau penjaga yang menyara mereka lah yang wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk mereka. Kesimpulannya, bagi anak-anak yang telah dewasa, syarat untuk mewajibkan bapa atau penjaga menanggung zakat fitrah mereka ialah mereka tidak mampu mencari pendapatan sendiri.
Adakah wajib kita menanggung zakat fitrah untuk saudara-mara?
Tidak wajib sekalipun mereka susah dan miskin. Saudara mara (sama ada abang, adik, kakak, anak-anak saudara, bapa-bapa saudara, sepupu-sepupu serta sekelian kaum kerabat yang lain yang tidak tergolong dalam asal-usul kita (iaitu bapa, ibu, datuk, nenek) dan juga zuriat kita (iaitu anak, cucu dan cicit)), tidak wajib kita menanggung nafkah mereka (sekalipun mereka miskin), maka dengan itu tidak wajib pula kita membayar zakat fitrah untuk mereka. Malah tidak sah seseorang mengeluarkan zakat fitrah untuk saudara atau ahli kerabat yang tidak berada di bawah tanggungan nafkahnya kecuali dengan izin mereka atau dengan mereka mewakilkan kepadanya (untuk mengeluarkan zakat bagi pihak mereka).
Apakah syarat-syarat wajib zakat fitrah?
1. Islam; tidak wajib zakat fitrah ke atas orang kafir.
2. Hidup ketika terbenam matahari pada hari terakhir Ramadhan iaitu ia sempat bertemu dengan juzuk terakhir Ramadhan dan juzuk terawal Syawal.
Anak yang lahir sesudah terbenam matahari pada hari terakhir tersebut tidak wajib dikeluarkan zakat fitrah baginya kerana ia tidak bertemu dengan Ramadhan sekalipun bertemu dengan Syawal. Begitu juga, seorang lelaki yang mengahwini seorang perempuan selepas terbenam matahari hari terakhir tersebut juga tidak wajib membayar zakat fitrah untuk isteri yang baru dikahwininya itu kerana isterinya itu masuk di bawah tanggungannya setelah selesai Ramadhan secara sepenuhnya. Sebaliknya, orang yang mati selepas terbenam matahari pada hari terakhir itu, wajib dikeluarkan zakat fitrah untuknya kerana kematiannya itu berlaku setelah ia sempat bertemu Ramadhan dan awal Syawal. Adapun orang yang mati sebelumnya (yakni sebelum terbenam matahari), tidak wajib dikeluarkan zakat fitrah untuknya kerana kematiannya sebelum ia sempat bertemu Syawal.
3. Mampu; iaitu mempunyai lebihan harta pada malam hari-raya dan juga siangnya setelah ditolak belanja keperluan diri dan orang-orang yang berada di bawah tanggungannya (termasuklah binatang peliharaannya) merangkumi makanan, pakaian, sewa rumah dan juga hutang. Jika tidak mempunyai lebihan harta, tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah.
Orang yang memiliki syarat-syarat di atas wajib mengeluarkan zakat fitrah atau wajib dikeluarkan untuknya zakat fitrah. Jika tidak memenuhi syarat-syarat di atas, tidaklah wajib.
Apakah jenis harta yang sah untuk dikeluarkan zakat fitrah?
Zakat fitrah wajib dikeluarkan dari makanan asas penduduk setempat dalam suatu negeri atau Negara. Pada zaman Nabi s.a.w. makanan asas ialah kurma, anggur kering (kismis), gandum, keju dan barli. Kerana itu zakat fitrah dikeluarkan berasaskan makanan-makanan tersebut sebagaimana diceritakan oleh Abi Sa’id al-Khudri r.a.; “Kami mengeluarkan zakat fitrah (pada zaman Rasulullah s.a.w.) dengan kadar segantang dari gandum atau segantang dari barli atau segantang dari tamar atau segantang dari ‘aqt (keju) atau segantang dari kismis (anggur kering)” (Riwayat Imam Muslim).
Bagi penduduk di Negara kita Malaysia, makanan asas ialah beras. Oleh itu, zakat fitrah wajib dikeluarkan dengan beras atau dengan wang yang seharga dengan beras mengikut nilaian semasa.
Berapakah kadar zakat fitrah yang wajib dikeluarkan?
Kadar yang wajib dikeluarkan ialah satu Sha’ (الصاع) iaitu satu gantang Baghdad menyamai ukuran hari ini kira-kira 2750 gram (atau 2.75KG). Itu mengikut timbangan gandum. Adapun mengikut timbangan beras, satu gantang Baghdad menyamai 2600 gram atau 2.6 KG (mengikut Majlis Fatwa Kebangsaan).
Seelok-eloknya tatkala mengeluarkan zakat fitrah itu hendaklah dilebihkan sedikit dari kadar segantang yang diwajibkan itu kerana ada kemungkinan makanan yang kita keluarkan itu terdapat tanah, jerami atau seumpamanya di dalamnya yang boleh mengurangkannya dari kadar yang sepatutnya dikeluarkan.
Adakah harus mengeluarkan zakat fitrah dengan wang?
Terdapat khilaf ulamak;
a) Mengikut mazhab Syafi’ie, Malik dan Ahmad; zakat fitrah wajib dikeluarkan dalam bentuk makanan asas setempat tadi. Tidak harus dikeluarkan dalam bentuk wang sekalipun yang seharga dengan makanan yang wajib dikeluarkan zakat mengikut nilaian semasa.
b) Menurut mazhab Hanafi; harus mengeluarkan zakat fitrah dengan wang yang senilai dengan harga satu gantang makanan asas tadi jika itu lebih memberi manfaat kepada fakir miskin. Pandangan mazhab Hanafi ini ditarjih oleh Syeikh Dr. Yusuf al-Qaradhawi dalam Fiqh Zakatnya.
Bilakah masa mengeluarkan zakat fitrah?
a) Menurut mazhab Syafi’ie; zakat fitrah boleh dibayar seawal bermula bulan Ramadhan lagi, iaitu dari hari pertama Ramadhan. Menurut mazhab Malik; pembayaran sah dilakukan dalam tempoh dua atau tiga hari sebelum hari raya. Sebahagian ulama’ mazhab Ahmad berpandangan; harus pembayaran dibuat setengah bulan (15 hari) sebelum hari-raya.
b) Waktu paling afdhal mengeluarkan zakat fitrah ialah pada pagi hari raya sebelum ditunaikan solat hari raya. Dalam sebuah hadis, Ibnu Umar r.a. menceritakan; “Rasulullah s.a.w. menyuruh supaya dikeluarkan zakat fitrah sebelum orang ramai keluar untuk menunaikan solat (hari raya)” (Riwayat Imam Bukhari).
c) Makruh melewatkan pembayaran zakat fitrah hingga selepas solat hari raya. Hukum makruh ini berterusan hingga terbenamnya matahari. Jika dilewatkan lagi hingga selepas terbenam matahari, maka hukumnya adalah haram dan berdosa. Dalam satu hadis yang disampaikan oleh Ibnu ‘Abbas r.a. ada dinyatakan; “Sesiapa menunaikan zakat firtah sebelum solat hari raya, ia adalah zakat yang diterima. Dan sesiapa yang menunaikannya selepas solat, ia adalah sedekah biasa” (Riwayat Imam Ibnu Majah).
Orang yang melewatkan pembayaran zakat fitrah, adakah ia wajib menggantinya?
Para ulama’ juga sepakat bahawa kewajipan mengeluarkan zakat fitrah tidak akan gugur dengan menta’khir atau melewatkannya setelah ia menjadi wajib ke atas seseorang, bahkan ia menjadi hutang yang berada di bawah tanggungannya hinggalah ia membayarnya walaupun di akhir umur. Jika ditakdirkan berlaku kematian ke atasnya sebelum ia sempat menunaikan zakat fitrah tersebut, hendaklah dikeluarkan dari harta peninggalannya, kerana zakat adalah kewajipan harta yang mesti ditunaikan ketika hidup, maka ia tidak akan gugur dengan sebab berlakunya kematian sama seperti hutang dengan manusia.
Kepada siapa hendak diberikan zakat fitrah?
1. Telah disepakati oleh para ulama’ bahawa pengagihan zakat fitrah adalah sebagaimana zakat-zakat yang lain iaitu kepada lapan golongan yang disebut oleh Allah dalam surah at-Taubah, ayat 60, iaitu;
a)Untuk golongan fakir
b)Untuk golongan miskin
c)Untuk golongan muallaf yang hendak dijinakkan hatinya dengan agama
d)Untuk ‘amil-amil yang dilantik menguruskan zakat
e)Untuk hamba-hamba yang ingin memerdekakan dirinya
f)Untuk orang-orang yang dibelenggu oleh hutang
g)Untuk dibelanjakan bagi kemaslahan agama Allah (Fi Sabilillah)
h)Untuk orang-orang musafir yang terputus bekalan
2. Namun hendaklah diutamakan golongan fakir dan miskin kerana terdapat arahan Rasulullah s.a.w. supaya kita membantu mencukupkan keperluan mereka pada hari raya sebagaimana yang terdapat dalam satu hadis; “Rasulullah s.a.w. telah mewajibkan zakat fitrah dan baginda berpesan; “Cukupkanlah mereka (yakni orang-orang fakir miskin) pada hari ini (yakni hari raya puasa)”. (Riwayat Imam al-Baihaqi dan Daruqutni/lihat hadis ini dalam Nailul-Authar, Imam asy-Syaukani, bab Zakat al-Fitri).
3. Harus bagi orang yang mengeluarkan zakat fitrah mengagihkan sendiri zakat fitrahnya kepada orang-orang yang berhak dari kalangan fakir dan miskin. Memberi zakat kepada kaum kerabat adalah lebih utama (dari memberi kepada orang lain) dengan syarat mereka miskin dan memerlukan. Maksud kaum kerabat di sini ialah saudara-mara yang tidak wajib kita menanggung nafkah mereka iaitu saudara-saudara (adik, abang atau kakak), anak-anak saudara, bapa-bapa saudara, ibu-ibu saudara, sepupu dan sebagainya. Adapun kaum kerabat (atau ahli keluarga) yang wajib kita menanggung nafkah mereka (iaitu isteri, anak, cucu, bapa, ibu dan datuk) tidak harus kita memberi zakat kita kepada mereka.
4. Dalam mengagihkan zakat, harus kita memberi zakat kita kepada seorang fakir sahaja dan harus juga kepada ramai fakir jika zakat kita itu banyak dan boleh menampung lebih dari seorang fakir. Lebih jelas; satu zakat hanya harus diberikan kepada seorang fakir sahaja. Adapun banyak zakat, ia harus sama ada hendak diberikan kepada seorang sahaja atau diberikan kepada ramai orang (dengan syarat setiap orang tidak mendapat kurang dari kadar satu zakat yang ditetapkan pada tahun tersebut).
Adakah wajib berniat ketika mengeluarkan zakat fitrah?
Ya, wajib berniat kerana Nabi s.a.w. bersabda; “Segala amalan bergantung kepada niat. Sesungguhnya bagi setiap orang apa yang diniatkannya” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim dari ‘Umar r.a.). Niat yang wajib ialah di dalam hati iaitu menghadirkan di dalam hati (ketika memberi zakat fitrah kepada orang yang berhak menerimanya) bahawa yang dihulur/diberikan itu adalah zakat fitrah yang wajib ke atas diri atau orang-orang yang berada di bawah tanggungan. Adapun melafaz niat dengan lidah, hukumnya sunat sahaja mengikut mazhab Syafi’ie. Sebahagian ulamak tidak mensunatkannya kerana tiada dalil yang menyuruhnya.
*** تم بعون الله وله الحمد ***
Rujukan dan Bacaan
1- المجموع شرح المهذب، للإمام النووي، الحزء السادس، دار الفكر – لبنان (1996)
2- المهذب في الفقه الإمام الشافعي، لأبي إسحاق الشيرازي، دار القلم (دمشق) و الدار الشامية (بيروت) (1992)
3- الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع، للإمام شمس الدين محمد بن أحمد الشربيني الخطيب، دار الخير – بيروت (1996)
4- كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار، للإمام تقي الدين الحسيني، دار الخير – بيروت (1991)
5- الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي، للدكتور مصطفى الخن، الدكتور مصطفى البغا، على الشربجي، دار القلم – دمشق (1991)
6- الفقه الواضح من الكتاب والسنة، الشيخ الدكتور محمد بكر إسماعيل، دار المنار – القاهرة (1990)
7- بداية المجتهد ونهاية المقتصد، للإمام ابن رشد، مكتبة الإيمان – المنصورة (1997)
8- مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج، للشيخ شمس الدين مجمد بن الخطيب الشربيني، دار الفكر – بيروت (2001)
9- الكفاية لذوي العناية (في الفقه الشافعي)، للشيخ عبد الباسط على الفاخوري، دار ابن حزم-بيروت (2003)
10- الفقه الإسلامي وأدلته، للدكتور وهبة الزهيلي، دار الفكر – سوريا (1987)
11- الفقه على المذاهب الأربعة، للشيخ عبد الرحمن الجزيري، دار الكتب العلمية – بيروت (1990)
12- روضة الطالبين، للإمام النووي، دار الفكر – بيروت (1995)
13- المفصل في أحكام المرأة والبيت المسلم، للشيخ الدكتور عبد الكريم زيدان، مؤسسة الرسالة – بيروت (1994)
14- منهاج المسلم، للشيخ أبي بكر جابر الجزائري، دار السلام – القاهرة (1994)
15- الدراري المضية شرح الدرر البهية، للشيخ الإمام محمد بن علي الشوكاني، مكتبة التراث الإسلامي – مصر (1986)
16- رحمة الأمة في اختلاف الأئمة، للشيخ إبي عبد الله محمد بن عبد الرحمن الدمشقي، دار الكتب العلمية – بيروت (1987)
17- أنوار المسالك شرح عمدة السالك وعمدة الناسك، للشيخ محمد الزهري الغمراوي، مطبعة مصطفى البابي الحلبي – مصر (1948)
18- سبل السلام شرح بلوغ المرام، للشيخ الإمام محمد بن إسماعيل الصنعاني، دار الفرقان – الأردن (دون التاريخ)
19- سبيل المهتدين، الشيخ محمد أرشد البنجري، Thinkers Library (1989).
20- Pengurusan Zakat, Mahmood Zuhdi Abd. Majid, Dewan Bahasa dan Pustaka –K.L (2003)
Zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan bersempena dengan bulan Ramadhan dan juga hari raya Fitrah (aidil-Fitr). Dinamakan juga dengan zakat al-Abdan dan ar-Ru-us (zakat badan dan kepala) kerana ia diwajibkan ke atas setiap batang tubuh orang Islam tanpa kecuali sama ada kecil atau besar, tua atau muda, lelaki atau wanita, miskin atau kaya, merdeka atau hamba.
Kenapa dinamakan zakat ini dengan al-Fitrah?
Ada dua pengertian;
a) Ia diambil dari perkataan al-Fitr (الْفِطْر) yang bermakna berbuka kerana zakat tersebut diwajibkan bersempena hari raya (1 Syawal) iaitu hari di mana umat Islam diwajibkan berbuka setelah sebulan penuh mereka berpuasa di bulan Ramadhan.
b) Ia di ambil dari perkataan al-Fithrah (الفطرة) bermaksud al-Khilqah (yakni kejadian) kerana zakat ini menyuci dan membersihkan fitrah atau kejadian manusia.
Apa hukum zakat fitrah? Apa dalilnya?
Zakat fitrah adalah wajib. Dalil kewajipan zakat fitrah antaranya ialah hadis dari Ibnu Umar r.a. yang menceritakan; “Rasulullah s.a.w. telah memfardhukan zakat fitrah iaitu segantang tamar atau segantang gandum ke atas hamba dan orang merdeka, lelaki dan perempuan, kecil dan besar dari kalangan umat Islam. Baginda memerintahkan supaya ia ditunai sebelum orang ramai keluar pergi menunaikan sembahyang (hari raya)” (Hadis riwayat Imam Bukhari).
Menurut Imam Ibnu al-Munzir; “Telah menjadi ijma’ para ulama’ bahawa zakat fitrah hukumnya adalah wajib”. Walaupun tidak dinafikan ada segelintir ulama’ berpandangan bahawa zakat Fitrah adalah sunnah, namun menurut Imam Nawawi dalam Raudhatu at-Thalibin, pandangan mereka ini adalah syaz dan munkar.
Bilakah mula diwajibkan zakat fitrah?
Mula diwajibkan pada tahun ke 2 Hijrah iaitu tahun yang sama diwajibkan puasa bulan Ramadhan.
Apa hikmah diwajibkan zakat fitrah?
1. Sebagai pembersihan bagi orang yang berpuasa dan menampung kekurangan puasa mereka. Hikmah ini berdasarkan hadis dari Ibnu ‘Abbas r.a. yang menceritakan;
“Rasulullah telah mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang berpuasa dari perkara sia-sia dan ucapan-ucapan kotor dan juga sebagai makanan kepada fakir miskin” (Hadis riwayat Imam Abu Daud , Ibnu Majah dan al-Hakim).
Seorang ulama’ bernama Waki’ bin al-Jirah berkata; “Zakat fitrah bagi puasa Ramadhan seumpama sujud sahwi bagi solat di mana ia membaiki kekurangan puasa sepertimana sujud sahwi membaiki kekurangan solat”. (al-Iqna’, jil. 1, hlm. 324)
2. Sebagai bantuan untuk orang miskin; iaitu untuk membantu mereka sekadar yang terdaya agar mereka dapat sama-sama bergembira dan menikmati makanan tatkala berhari-raya. Hikmah ini berdasarkan hadis dari Ibnu ‘Umar yang menceritakan;
“Rasulullah s.a.w. telah mewajibkan zakat fitrah dan baginda berpesan; “Cukupkanlah mereka (yakni orang-orang fakir miskin) pada hari ini (yakni hari raya puasa)””. (Riwayat Imam al-Baihaqi dan Daruqutni/lihat hadis ini dalam Nailul-Authar, Imam asy-Syaukani, bab Zakat al-Fitri)
Ke atas siapa diwajibkan zakat fitrah?
Zakat fitrah diwajibkan ke atas semua individu sama ada lelaki atau wanita, kecil atau dewasa, merdeka atau hamba, miskin atau kaya, orang bandar atau pedalaman jika cukup syarat-syarat yang akan disebutkan nanti.
Bagi orang yang belum mempunyai tanggungan, zakat fitrahnya disempurnakan oleh dirinya sendiri atau orang yang menanggung nafkahnya. Adapun orang yang telah mempunyai tanggungan, ia wajib menyempurnakan zakat fitrah untuk dirinya sendiri dan juga orang-orang yang berada di bawah tanggungan nafkahnya merangkumi;
1. Isteri
2. Asal-asulnya (iaitu bapa, ibu, datuk, nenek hingga berikutnya ke atas)
3. Zuriatnya (iaitu anak-pinak dan cucu-cicit); sama ada lelaki atau perempuan, kecil atau besar/dewasa.
4. Hamba yang dimiliki.
Bagaimana jika seseorang itu mempunyai tanggungan yang banyak dan harta yang ada tidak mencukupi untuk membayar zakat untuk semua tanggungannya?
Hendaklah membayar zakat untuk diri sendiri dan sebahagian tanggungannya mengikut urutan keutamaan di bawah;
1. Isterinya
2. Anaknya yang kecil
3. Bapanya
4. Ibunya
5. Anaknya yang dewasa
Jika orang terdapat lebih dari seorang (seperti ia memiliki lebih dari seorang isteri atau lebih dari seorang anak kecil), maka ia boleh memilih dari kalangan mereka siapa yang hendak ia zakati.
Jika isteri kaya, adakah suami tetap wajib menanggung zakat fitrahnya?
Ya, kerana isteri berada di bawah tanggungan nafkah suami, maka zakat fitrahnya menjadi kewajipan suami sekalipun isteri kaya.
Jika suami miskin, adakah isteri wajib mengeluarkan sendiri zakat fitrahnya?
Tidak wajib. Jika suami miskin dan tidak mampu mengeluarkan zakat fitrah, gugur zakat fitrah dari isterinya sebagaimana gugur dari dirinya. Tidak wajib isteri mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya kerana ia tertanggung atas bahu suaminya. Walaupun tidak wajib, namun disunatkan ia mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya jika ia mampu.
Bilakah anak wajib menanggung zakat fitrah untuk ibu-bapanya?
Anak tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah bagi ibu-bapanya kecualilah jika ibu-bapanya fakir atau miskin di mana nafkah sara hidup mereka menjadi kewajipannya ketika itu. Adapun ibu-bapa yang kaya atau berkemampuan, maka zakat fitrah mereka tidak wajib ditanggung oleh anak-anak mereka, akan tetapi ditanggung oleh mereka sendiri.
Bilakah bapa wajib menanggung zakat fitrah untuk anak-anaknya?
Anak-anak terbahagi kepada dua;
1. Anak-anak yang masih kecil
2. Anak-anak yang telah dewasa (baligh)
Anak-anak yang masih kecil sama ada lelaki atau perempuan, jika mereka memiliki harta, maka zakat fitrah hendaklah dikeluarkan dari harta mereka. Menjadi tanggungjawab walinya untuk mengeluarkannnya dari harta tersebut. Namun jika mereka tidak memiliki harta, maka zakat fitrah mereka ditanggung oleh bapa atau penjaga yang menanggung nafkah mereka.
Anak-anak yang telah baligh (dewasa), jika mereka mampu mencari pendapatan sendiri, maka zakat fitrah mereka tertanggung atas diri mereka sendiri, bukan atas bapa atau penjaga mereka. Malah tidak sah bapa atau penjaga mereka mengeluarkannya bagi pihak mereka kecuali dengan izin mereka atau dengan mereka mewakilkannya.
Adapun yang tidak mampu mencari pendapatan sendiri –sama ada kerana ditimpa sakit yang berterusan, gila atau kerana menumpukan masa untuk menuntut ilmu- maka bapa atau penjaga yang menyara mereka lah yang wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk mereka. Kesimpulannya, bagi anak-anak yang telah dewasa, syarat untuk mewajibkan bapa atau penjaga menanggung zakat fitrah mereka ialah mereka tidak mampu mencari pendapatan sendiri.
Adakah wajib kita menanggung zakat fitrah untuk saudara-mara?
Tidak wajib sekalipun mereka susah dan miskin. Saudara mara (sama ada abang, adik, kakak, anak-anak saudara, bapa-bapa saudara, sepupu-sepupu serta sekelian kaum kerabat yang lain yang tidak tergolong dalam asal-usul kita (iaitu bapa, ibu, datuk, nenek) dan juga zuriat kita (iaitu anak, cucu dan cicit)), tidak wajib kita menanggung nafkah mereka (sekalipun mereka miskin), maka dengan itu tidak wajib pula kita membayar zakat fitrah untuk mereka. Malah tidak sah seseorang mengeluarkan zakat fitrah untuk saudara atau ahli kerabat yang tidak berada di bawah tanggungan nafkahnya kecuali dengan izin mereka atau dengan mereka mewakilkan kepadanya (untuk mengeluarkan zakat bagi pihak mereka).
Apakah syarat-syarat wajib zakat fitrah?
1. Islam; tidak wajib zakat fitrah ke atas orang kafir.
2. Hidup ketika terbenam matahari pada hari terakhir Ramadhan iaitu ia sempat bertemu dengan juzuk terakhir Ramadhan dan juzuk terawal Syawal.
Anak yang lahir sesudah terbenam matahari pada hari terakhir tersebut tidak wajib dikeluarkan zakat fitrah baginya kerana ia tidak bertemu dengan Ramadhan sekalipun bertemu dengan Syawal. Begitu juga, seorang lelaki yang mengahwini seorang perempuan selepas terbenam matahari hari terakhir tersebut juga tidak wajib membayar zakat fitrah untuk isteri yang baru dikahwininya itu kerana isterinya itu masuk di bawah tanggungannya setelah selesai Ramadhan secara sepenuhnya. Sebaliknya, orang yang mati selepas terbenam matahari pada hari terakhir itu, wajib dikeluarkan zakat fitrah untuknya kerana kematiannya itu berlaku setelah ia sempat bertemu Ramadhan dan awal Syawal. Adapun orang yang mati sebelumnya (yakni sebelum terbenam matahari), tidak wajib dikeluarkan zakat fitrah untuknya kerana kematiannya sebelum ia sempat bertemu Syawal.
3. Mampu; iaitu mempunyai lebihan harta pada malam hari-raya dan juga siangnya setelah ditolak belanja keperluan diri dan orang-orang yang berada di bawah tanggungannya (termasuklah binatang peliharaannya) merangkumi makanan, pakaian, sewa rumah dan juga hutang. Jika tidak mempunyai lebihan harta, tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah.
Orang yang memiliki syarat-syarat di atas wajib mengeluarkan zakat fitrah atau wajib dikeluarkan untuknya zakat fitrah. Jika tidak memenuhi syarat-syarat di atas, tidaklah wajib.
Apakah jenis harta yang sah untuk dikeluarkan zakat fitrah?
Zakat fitrah wajib dikeluarkan dari makanan asas penduduk setempat dalam suatu negeri atau Negara. Pada zaman Nabi s.a.w. makanan asas ialah kurma, anggur kering (kismis), gandum, keju dan barli. Kerana itu zakat fitrah dikeluarkan berasaskan makanan-makanan tersebut sebagaimana diceritakan oleh Abi Sa’id al-Khudri r.a.; “Kami mengeluarkan zakat fitrah (pada zaman Rasulullah s.a.w.) dengan kadar segantang dari gandum atau segantang dari barli atau segantang dari tamar atau segantang dari ‘aqt (keju) atau segantang dari kismis (anggur kering)” (Riwayat Imam Muslim).
Bagi penduduk di Negara kita Malaysia, makanan asas ialah beras. Oleh itu, zakat fitrah wajib dikeluarkan dengan beras atau dengan wang yang seharga dengan beras mengikut nilaian semasa.
Berapakah kadar zakat fitrah yang wajib dikeluarkan?
Kadar yang wajib dikeluarkan ialah satu Sha’ (الصاع) iaitu satu gantang Baghdad menyamai ukuran hari ini kira-kira 2750 gram (atau 2.75KG). Itu mengikut timbangan gandum. Adapun mengikut timbangan beras, satu gantang Baghdad menyamai 2600 gram atau 2.6 KG (mengikut Majlis Fatwa Kebangsaan).
Seelok-eloknya tatkala mengeluarkan zakat fitrah itu hendaklah dilebihkan sedikit dari kadar segantang yang diwajibkan itu kerana ada kemungkinan makanan yang kita keluarkan itu terdapat tanah, jerami atau seumpamanya di dalamnya yang boleh mengurangkannya dari kadar yang sepatutnya dikeluarkan.
Adakah harus mengeluarkan zakat fitrah dengan wang?
Terdapat khilaf ulamak;
a) Mengikut mazhab Syafi’ie, Malik dan Ahmad; zakat fitrah wajib dikeluarkan dalam bentuk makanan asas setempat tadi. Tidak harus dikeluarkan dalam bentuk wang sekalipun yang seharga dengan makanan yang wajib dikeluarkan zakat mengikut nilaian semasa.
b) Menurut mazhab Hanafi; harus mengeluarkan zakat fitrah dengan wang yang senilai dengan harga satu gantang makanan asas tadi jika itu lebih memberi manfaat kepada fakir miskin. Pandangan mazhab Hanafi ini ditarjih oleh Syeikh Dr. Yusuf al-Qaradhawi dalam Fiqh Zakatnya.
Bilakah masa mengeluarkan zakat fitrah?
a) Menurut mazhab Syafi’ie; zakat fitrah boleh dibayar seawal bermula bulan Ramadhan lagi, iaitu dari hari pertama Ramadhan. Menurut mazhab Malik; pembayaran sah dilakukan dalam tempoh dua atau tiga hari sebelum hari raya. Sebahagian ulama’ mazhab Ahmad berpandangan; harus pembayaran dibuat setengah bulan (15 hari) sebelum hari-raya.
b) Waktu paling afdhal mengeluarkan zakat fitrah ialah pada pagi hari raya sebelum ditunaikan solat hari raya. Dalam sebuah hadis, Ibnu Umar r.a. menceritakan; “Rasulullah s.a.w. menyuruh supaya dikeluarkan zakat fitrah sebelum orang ramai keluar untuk menunaikan solat (hari raya)” (Riwayat Imam Bukhari).
c) Makruh melewatkan pembayaran zakat fitrah hingga selepas solat hari raya. Hukum makruh ini berterusan hingga terbenamnya matahari. Jika dilewatkan lagi hingga selepas terbenam matahari, maka hukumnya adalah haram dan berdosa. Dalam satu hadis yang disampaikan oleh Ibnu ‘Abbas r.a. ada dinyatakan; “Sesiapa menunaikan zakat firtah sebelum solat hari raya, ia adalah zakat yang diterima. Dan sesiapa yang menunaikannya selepas solat, ia adalah sedekah biasa” (Riwayat Imam Ibnu Majah).
Orang yang melewatkan pembayaran zakat fitrah, adakah ia wajib menggantinya?
Para ulama’ juga sepakat bahawa kewajipan mengeluarkan zakat fitrah tidak akan gugur dengan menta’khir atau melewatkannya setelah ia menjadi wajib ke atas seseorang, bahkan ia menjadi hutang yang berada di bawah tanggungannya hinggalah ia membayarnya walaupun di akhir umur. Jika ditakdirkan berlaku kematian ke atasnya sebelum ia sempat menunaikan zakat fitrah tersebut, hendaklah dikeluarkan dari harta peninggalannya, kerana zakat adalah kewajipan harta yang mesti ditunaikan ketika hidup, maka ia tidak akan gugur dengan sebab berlakunya kematian sama seperti hutang dengan manusia.
Kepada siapa hendak diberikan zakat fitrah?
1. Telah disepakati oleh para ulama’ bahawa pengagihan zakat fitrah adalah sebagaimana zakat-zakat yang lain iaitu kepada lapan golongan yang disebut oleh Allah dalam surah at-Taubah, ayat 60, iaitu;
a)Untuk golongan fakir
b)Untuk golongan miskin
c)Untuk golongan muallaf yang hendak dijinakkan hatinya dengan agama
d)Untuk ‘amil-amil yang dilantik menguruskan zakat
e)Untuk hamba-hamba yang ingin memerdekakan dirinya
f)Untuk orang-orang yang dibelenggu oleh hutang
g)Untuk dibelanjakan bagi kemaslahan agama Allah (Fi Sabilillah)
h)Untuk orang-orang musafir yang terputus bekalan
2. Namun hendaklah diutamakan golongan fakir dan miskin kerana terdapat arahan Rasulullah s.a.w. supaya kita membantu mencukupkan keperluan mereka pada hari raya sebagaimana yang terdapat dalam satu hadis; “Rasulullah s.a.w. telah mewajibkan zakat fitrah dan baginda berpesan; “Cukupkanlah mereka (yakni orang-orang fakir miskin) pada hari ini (yakni hari raya puasa)”. (Riwayat Imam al-Baihaqi dan Daruqutni/lihat hadis ini dalam Nailul-Authar, Imam asy-Syaukani, bab Zakat al-Fitri).
3. Harus bagi orang yang mengeluarkan zakat fitrah mengagihkan sendiri zakat fitrahnya kepada orang-orang yang berhak dari kalangan fakir dan miskin. Memberi zakat kepada kaum kerabat adalah lebih utama (dari memberi kepada orang lain) dengan syarat mereka miskin dan memerlukan. Maksud kaum kerabat di sini ialah saudara-mara yang tidak wajib kita menanggung nafkah mereka iaitu saudara-saudara (adik, abang atau kakak), anak-anak saudara, bapa-bapa saudara, ibu-ibu saudara, sepupu dan sebagainya. Adapun kaum kerabat (atau ahli keluarga) yang wajib kita menanggung nafkah mereka (iaitu isteri, anak, cucu, bapa, ibu dan datuk) tidak harus kita memberi zakat kita kepada mereka.
4. Dalam mengagihkan zakat, harus kita memberi zakat kita kepada seorang fakir sahaja dan harus juga kepada ramai fakir jika zakat kita itu banyak dan boleh menampung lebih dari seorang fakir. Lebih jelas; satu zakat hanya harus diberikan kepada seorang fakir sahaja. Adapun banyak zakat, ia harus sama ada hendak diberikan kepada seorang sahaja atau diberikan kepada ramai orang (dengan syarat setiap orang tidak mendapat kurang dari kadar satu zakat yang ditetapkan pada tahun tersebut).
Adakah wajib berniat ketika mengeluarkan zakat fitrah?
Ya, wajib berniat kerana Nabi s.a.w. bersabda; “Segala amalan bergantung kepada niat. Sesungguhnya bagi setiap orang apa yang diniatkannya” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim dari ‘Umar r.a.). Niat yang wajib ialah di dalam hati iaitu menghadirkan di dalam hati (ketika memberi zakat fitrah kepada orang yang berhak menerimanya) bahawa yang dihulur/diberikan itu adalah zakat fitrah yang wajib ke atas diri atau orang-orang yang berada di bawah tanggungan. Adapun melafaz niat dengan lidah, hukumnya sunat sahaja mengikut mazhab Syafi’ie. Sebahagian ulamak tidak mensunatkannya kerana tiada dalil yang menyuruhnya.
*** تم بعون الله وله الحمد ***
Rujukan dan Bacaan
1- المجموع شرح المهذب، للإمام النووي، الحزء السادس، دار الفكر – لبنان (1996)
2- المهذب في الفقه الإمام الشافعي، لأبي إسحاق الشيرازي، دار القلم (دمشق) و الدار الشامية (بيروت) (1992)
3- الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع، للإمام شمس الدين محمد بن أحمد الشربيني الخطيب، دار الخير – بيروت (1996)
4- كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار، للإمام تقي الدين الحسيني، دار الخير – بيروت (1991)
5- الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي، للدكتور مصطفى الخن، الدكتور مصطفى البغا، على الشربجي، دار القلم – دمشق (1991)
6- الفقه الواضح من الكتاب والسنة، الشيخ الدكتور محمد بكر إسماعيل، دار المنار – القاهرة (1990)
7- بداية المجتهد ونهاية المقتصد، للإمام ابن رشد، مكتبة الإيمان – المنصورة (1997)
8- مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج، للشيخ شمس الدين مجمد بن الخطيب الشربيني، دار الفكر – بيروت (2001)
9- الكفاية لذوي العناية (في الفقه الشافعي)، للشيخ عبد الباسط على الفاخوري، دار ابن حزم-بيروت (2003)
10- الفقه الإسلامي وأدلته، للدكتور وهبة الزهيلي، دار الفكر – سوريا (1987)
11- الفقه على المذاهب الأربعة، للشيخ عبد الرحمن الجزيري، دار الكتب العلمية – بيروت (1990)
12- روضة الطالبين، للإمام النووي، دار الفكر – بيروت (1995)
13- المفصل في أحكام المرأة والبيت المسلم، للشيخ الدكتور عبد الكريم زيدان، مؤسسة الرسالة – بيروت (1994)
14- منهاج المسلم، للشيخ أبي بكر جابر الجزائري، دار السلام – القاهرة (1994)
15- الدراري المضية شرح الدرر البهية، للشيخ الإمام محمد بن علي الشوكاني، مكتبة التراث الإسلامي – مصر (1986)
16- رحمة الأمة في اختلاف الأئمة، للشيخ إبي عبد الله محمد بن عبد الرحمن الدمشقي، دار الكتب العلمية – بيروت (1987)
17- أنوار المسالك شرح عمدة السالك وعمدة الناسك، للشيخ محمد الزهري الغمراوي، مطبعة مصطفى البابي الحلبي – مصر (1948)
18- سبل السلام شرح بلوغ المرام، للشيخ الإمام محمد بن إسماعيل الصنعاني، دار الفرقان – الأردن (دون التاريخ)
19- سبيل المهتدين، الشيخ محمد أرشد البنجري، Thinkers Library (1989).
20- Pengurusan Zakat, Mahmood Zuhdi Abd. Majid, Dewan Bahasa dan Pustaka –K.L (2003)
1) Takut akan datangnya maut secara tiba-tiba sebelum kita sempat bertaubat.
2) Takut tidak menunaikan hak-hak Allah secara sempurna. Sesungguhnya hak-hak Allah itu pasti diminta pertanggungjawabannya.
3) Takut tergelincir dari jalan yang lurus, dan berjalan di atas jalan kemaksiatan dan jalan syaitan.
4) Takut memandang remeh atas banyaknya nikmat Allah pada diri kita.
5) Takut akan balasan siksa yang segera di dunia, karena maksiat yang kita lakukan.
6) Takut mengakhiri hidup dengan su’ul khatimah.
7) Takut menghadapi sakaratul maut dan sakitnya sakaratul maut.
8) Takut menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di dalam kubur.
9) Takut akan adzab dan prahara di alam kubur.
10) Takut menghadapi pertanyaan hari kiamat atas dosa besar dan dosa kecil yang kita lakukan.
11) Takut melalui titian yang tajam. Sesungguhnya titian itu lebih halus daripada rambut dan lebih tajam dari pedang.
12) Takut dijauhkan dari memandang wajah Allah.
13) Perlu mengetahui tentang dosa dan aib kita.
14) Ma’rifah kita terhadap nikmat Allah yang kita rasakan siang dan malam sedang kita tidak bersyukur.
15) Takut tidak diterima amalan-amalan dan ucapan-ucapan kita.
16) Takut bahwa Allah tidak akan menolong dan membiarkan kita sendiri.
17) Kekhawatiran kita menjadi orang yang tersingkap aibnya pada hari kematian dan pada hari timbangan ditegakkan.
18) Hendaknya kita mengembalikan urusan diri kita, anak-anak, keluarga, suami dan harta kepada Allah SWT. Dan jangan kita bersandar dalam memperbaiki urusan ini kecuali pada Allah.
19) Sembunyikanlah amal-amal kita dari riya’ ke dalam hati, karena terkadang riya’ itu memasuki hati kita, sedang kita tidak merasakannya. Hasan Al Basri rahimahullah pernah berkata kepada dirinya sendiri. “Berbicaralah engkau wahai diri. Dengan ucapan orang sholeh, yang qanaah lagi ahli ibadah. Dan engkau melaksanakan amal orang fasik dan riya’. Demi Allah, ini bukan sifat orang mukhlis”.
20) Jika kita ingin sampai pada derajat ikhlas maka hendaknya akhlak kita seperti akhlak seorang bayi yang tidak peduli orang yang memujinya atau membencinya.
21) Hendaknya kita memiliki sifat cemburu ketika larangan-larangan Allah diremehkan.
22) Ketahuilah bahwa amal sholeh dengan sedikit dosa jauh lebih disukai Allah daripada amal sholeh yang banyak tetapi dengan dosa yang banyak pula.
23) Ingatlah setiap kita sakit bahwa kita telah istirahat dari dunia dan akan menuju akhirat dan akan menemui Allah dengan amalan yang buruk.
24) Hendaknya ketakutan pada Allah menjadi jalan kita menuju Allah selama kita sehat.
25) Setiap kita mendengar kematian seseorang maka perbanyaklah mengambil pelajaran dan nasihat. Dan jika kita menyaksikan jenazah maka khayalkanlah bahwa kita yang sedang diusung.
26) Hati-hatilah menjadi orang yang mengatakan bahwa Allah menjamin rezeki kita sedang hatinya tidak tenteram kecuali sesuatu yang ia kumpul-kumpulkan. Dan menyatakan sesungguhnya akhirat itu lebih baik dari dunia, sedang kita tetap mengumpul-ngumpulkan harta dan tidak menginfakkannya sedikit pun, dan mengatakan bahwa kita pasti mati padahal dia tidak pernah ingat mati.
27) Lihatlah dunia dengan pandangan I’tibar (pelajaran) bukan dengan pandangan mahabbah (kecintaan) kepadanya dan sibuk dengan perhiasannya.
28) Ingatlah bahwa kita sangat tidak kuat menghadapi cobaan dunia. Lantas apakah kita sanggup menghadapi panasnya jahannam?
29) Di antara akhlak wanita mu’minah adalah menasihati sesama mu’minah.
30) Jika kita melihat orang yang lebih besar dari kita, maka muliakanlah dia dan katakana kepadanya, “Anda telah mendahului saya di dalam Islam dan amal sholeh maka dia jauh lebih baik di sisi Allah. Anda keluar ke dunia setelah saya, maka dia lebih baik sedikit dosanya dari saya dan dia lebih baik dari saya di sisi Allah.”
4) Takut memandang remeh atas banyaknya nikmat Allah pada diri kita.
5) Takut akan balasan siksa yang segera di dunia, karena maksiat yang kita lakukan.
6) Takut mengakhiri hidup dengan su’ul khatimah.
7) Takut menghadapi sakaratul maut dan sakitnya sakaratul maut.
8) Takut menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di dalam kubur.
9) Takut akan adzab dan prahara di alam kubur.
10) Takut menghadapi pertanyaan hari kiamat atas dosa besar dan dosa kecil yang kita lakukan.
11) Takut melalui titian yang tajam. Sesungguhnya titian itu lebih halus daripada rambut dan lebih tajam dari pedang.
12) Takut dijauhkan dari memandang wajah Allah.
13) Perlu mengetahui tentang dosa dan aib kita.
14) Ma’rifah kita terhadap nikmat Allah yang kita rasakan siang dan malam sedang kita tidak bersyukur.
15) Takut tidak diterima amalan-amalan dan ucapan-ucapan kita.
16) Takut bahwa Allah tidak akan menolong dan membiarkan kita sendiri.
17) Kekhawatiran kita menjadi orang yang tersingkap aibnya pada hari kematian dan pada hari timbangan ditegakkan.
18) Hendaknya kita mengembalikan urusan diri kita, anak-anak, keluarga, suami dan harta kepada Allah SWT. Dan jangan kita bersandar dalam memperbaiki urusan ini kecuali pada Allah.
19) Sembunyikanlah amal-amal kita dari riya’ ke dalam hati, karena terkadang riya’ itu memasuki hati kita, sedang kita tidak merasakannya. Hasan Al Basri rahimahullah pernah berkata kepada dirinya sendiri. “Berbicaralah engkau wahai diri. Dengan ucapan orang sholeh, yang qanaah lagi ahli ibadah. Dan engkau melaksanakan amal orang fasik dan riya’. Demi Allah, ini bukan sifat orang mukhlis”.
20) Jika kita ingin sampai pada derajat ikhlas maka hendaknya akhlak kita seperti akhlak seorang bayi yang tidak peduli orang yang memujinya atau membencinya.
21) Hendaknya kita memiliki sifat cemburu ketika larangan-larangan Allah diremehkan.
22) Ketahuilah bahwa amal sholeh dengan sedikit dosa jauh lebih disukai Allah daripada amal sholeh yang banyak tetapi dengan dosa yang banyak pula.
23) Ingatlah setiap kita sakit bahwa kita telah istirahat dari dunia dan akan menuju akhirat dan akan menemui Allah dengan amalan yang buruk.
24) Hendaknya ketakutan pada Allah menjadi jalan kita menuju Allah selama kita sehat.
25) Setiap kita mendengar kematian seseorang maka perbanyaklah mengambil pelajaran dan nasihat. Dan jika kita menyaksikan jenazah maka khayalkanlah bahwa kita yang sedang diusung.
26) Hati-hatilah menjadi orang yang mengatakan bahwa Allah menjamin rezeki kita sedang hatinya tidak tenteram kecuali sesuatu yang ia kumpul-kumpulkan. Dan menyatakan sesungguhnya akhirat itu lebih baik dari dunia, sedang kita tetap mengumpul-ngumpulkan harta dan tidak menginfakkannya sedikit pun, dan mengatakan bahwa kita pasti mati padahal dia tidak pernah ingat mati.
27) Lihatlah dunia dengan pandangan I’tibar (pelajaran) bukan dengan pandangan mahabbah (kecintaan) kepadanya dan sibuk dengan perhiasannya.
28) Ingatlah bahwa kita sangat tidak kuat menghadapi cobaan dunia. Lantas apakah kita sanggup menghadapi panasnya jahannam?
29) Di antara akhlak wanita mu’minah adalah menasihati sesama mu’minah.
30) Jika kita melihat orang yang lebih besar dari kita, maka muliakanlah dia dan katakana kepadanya, “Anda telah mendahului saya di dalam Islam dan amal sholeh maka dia jauh lebih baik di sisi Allah. Anda keluar ke dunia setelah saya, maka dia lebih baik sedikit dosanya dari saya dan dia lebih baik dari saya di sisi Allah.”
Apabila roh keluar dari jasad, ia akan berkata-kata dan seluruh isi alam sama ada di langit atau bumi akan mendengarnya kecuali jin dan manusia. Apabila mayat dimandikan, lalu roh berkata : "Wahai orang yang memandikan, aku minta kepadamu kerana Allah untuk melepaskan pakaianku dengan perlahan-lahan sebab pada saat ini aku beristirahat daripada seretanmalaikat maut".
Selepas itu, mayat pula bersuara sambil merayu : "Wahai orang yang memandikan, janganlah engkau menuangkan airmu dalam keadaan panas. Begitujuga jangan menuangnya dengan air yang dingin kerana tubuhku terbakarapabila terlepasnya roh dari tubuh". Apabila dimandikan, roh sekali lagi merayu :"Demi Allah, wahai orang yang memandikan jangan engkau menggosok aku dengan kuat sebab tubuhkuluka-luka dengan keluarnya roh".
Setelah dimandi dan dikafankan, telapak kaki mayat diikat dan ia pun memanggil-manggil dan berpesan lagi supaya jangan diikat terlalu kuat serta mengafani kepalanya kerana ingin melihat wajahnya sendiri, anak-anak, isteri atau suami buat kali terakhir kerana tidak dapat melihat lagi sampai Hari Kiamat. Sebaik keluar dari rumah lalu ia berpesan : "Demi Allah, wahai jemaahku, aku telah meniggalkan isteriku menjadi Balu. Maka janganlah kamu menyakitinya. Anak-anakku telah menjadi yatim dan janganlah kalian menyakiti mereka. Sesungguhnya pada hari itu aku telah keluar dari rumahku dan aku tidak akan dapat kembali kepada mereka buat selama-lamanya".
Sesudah mayat diletakkan pada pengusung, sekali lagi diserunya kepada jemaah supaya jangan mempercepatkan mayatnya ke kubur selagi belum mendengar suara anak-anak dan sanak saudara buat kali terakhir. Sesudah dibawa dan melangkah sebanyak tiga langkah dari rumah, roh pula berpesan: "Wahai Kekasihku, wahai saudaraku dan wahai anak-anakku, jangan kamu diperdaya dunia sebagaimana ia memperdayakan aku dan janganlah kamu lalai ketika ini sebagaimana ia melalaikan aku". "Sesungguhnya aku tinggalkan apa yang aku telah aku kumpulkan untuk warisku dan sedikitpun mereka tidak mahu menanggung kesalahanku". "Adapun didunia, Allah menghisab aku, padahal kamu berasa senang dengan keduniaan. Dan mereka juga tidak mahu mendoakan aku".
Ada satu riwayat drp Abi Qalabah mengenai mimpi beliau yang
melihat kubur pecah. Lalu mayat-mayat itu keluar dari duduk di tepi kubur masing-masing. Bagaimanapun tidak seorang pun ada tanda-tanda memperolehi nur di muka mereka. Dalam mimpi itu, Abi Qalabah dapat melihat jirannya juga dalam keadaan yang sama. Lalu dia bertanya kepada mayat jirannya mengenai ketiadaan nur itu. Maka mayat itu menjawab: "Sesungguhnya bagi mereka yang memperolehi nur adalah kerana petunjuk drpd anak-anak dan teman-teman. Sebaliknya aku mempunyai anak-anak yang tidak soleh dan tidak pernah mendoakan aku".
Setelah mendengar jawapan mayat itu, Abi Qalabah pun terjaga. Pada malam itu juga dia memanggil anak jirannya dan menceritakan apa yang dilihatnya dalam mimpi mengenai bapa mereka. Mendengar keadaan itu, anak-anak jiran itu berjanji di hadapan Abi Qalabah akan mendoa dan bersedekah untuk bapanya. Seterusnya tidak lama selepas itu, Abi Qalabah sekali lagi bermimpi melihat jirannya. Bagaimanapun kali ini jirannya sudah ada nur dimukanya dan kelihatan lebih terang daripada matahari.
Baginda Rasullullah S.A.W berkata: "Apabila telah sampai ajal seseorang itu maka akan masuklah satu kumpulan malaikat ke dalam lubang-lubang kecil dalam badan dan kemudian mereka menarik rohnya melalui kedua-dua telapak kakinya sehingga sampai kelutut. Setelah itu datang pula sekumpulan malaikat yang lain masuk menarik roh dari lutut hingga sampai ke perut dan kemudiannya mereka keluar. Datang lagi satu kumpulan malaikat yang lain masuk dan menarik rohnya dari perut hingga sampai ke dada dan kemudiannya mereka keluar. Dan akhir sekali datang lagi satu kumpulan malaikat masuk dan menarik roh dari dadanya hingga sampai ke kerongkong dan itulah yang dikatakan saat nazak orang itu."
Sambung Rasullullah S.A.W. lagi: "Kalau orang yang nazak itu orang yang beriman, maka malaikat Jibrail A.S. akan menebarkan sayapnya yang di sebelah kanan sehingga orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di syurga. Apabila orang yang beriman itu melihat syurga, maka dia akan lupa kepada orang yang berada di sekelilinginya. Ini adalah kerana sangat rindunya pada syurga dan melihat terus pandangannya kepada sayap Jibrail A.S. "Kalau orang yang nazak itu orang munafik, maka Jibrail A.S. akan menebarkan sayap di sebelah kiri. Maka orang yang nazak tu dapat melihat kedudukannya di neraka dan dalam masa itu orang itu tidak lagi melihat orang di sekelilinginya. Ini adalah kerana terlalu takutnya apabila melihat neraka yang akan menjadi tempat tinggalnya."
Dari sebuah hadis bahawa apabila Allah S.W.T. menghendaki seorang mukmin itu dicabut nyawanya maka datanglah malaikat maut. Apabila malaikat maut hendak mencabut roh orang mukmin itu dari arah mulut maka keluarlah zikir dari mulut orang mukmin itu dengan berkata: "Tidak ada jalan bagimu mencabut roh orang ini melalui jalan ini kerana orang ini sentiasa menjadikan lidahnya berzikir kepada Allah S.W.T." Setelah malaikat maut mendengar menjelasan itu, maka dia pun kembali kepada Allah S.W.T.dan menjelaskan apa yang diucapkan oleh lidah orang mukmin itu.
Lalu Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud: "Wahai malaikat maut, kamu cabutlah ruhnya dari arah lain." Sebaik saja malaikat maut mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut pun cuba mencabut roh orang mukmin dari arah tangan. Tapi keluarlah sedekah dari arah tangan orang mukmin itu, keluarlah usapan kepala anak-anak yatim dan keluar penulisan ilmu. Maka berkata tangan: Tidak ada jalan bagimu untuk mencabut roh orang mukmin dari arah ini, tangan ini telah mengeluarkan sedekah, tangan ini mengusap kepala anak-anak yatim dan tangan ini menulis ilmu pengetahuan."
Oleh kerana malaikat maut gagal untuk mencabut roh orang mukmin dari arah tangan maka malaikat maut cuba pula dari arah kaki. Malangnya malaikat maut juga gagal melakukan sebab kaki berkata: Tidak ada jalan bagimu dari arah ini Kerana kaki ini sentiasa berjalan berulang ali! k mengerjakan solat dengan berjemaah dan kaki ini juga berjalan menghadiri majlis-majlis ilmu." Apabila gagal malaikat maut, mencabut roh orang mukmin dari arah kaki, maka malaikat maut cuba pula dari arah telinga. Sebaik saja malaikat maut menghampiri telinga maka telinga pun berkata: "Tidak ada jalan bagimudari arah ini kerana telinga ini sentiasa mendengar bacaan Al-Quran dan zikir."
Akhir sekali malaikat maut cuba mencabut orang mukmin dari arah mata tetapi baru saja hendak menghampiri mata maka berkata mata: "Tidak ada
jalan bagimu dari arah ini sebab mata ini sentiasa melihat beberapa
mushaf dan kitab-kitab dan mata ini sentiasa menangis kerana takutkan Allah." Setelah gagal maka malaikat maut kembali kepada Allah S.W.T.
Kemudian Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud: "Wahai malaikatKu, tulis AsmaKu ditelapak tanganmu dan tunjukkan kepada roh orang yang beriman itu." Sebaik saja mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut menghampiri roh orang itu dan menunjukkan Asma Allah S.W.T. Sebaik saja melihat Asma Allah dan cintanya kepada Allah S.W.T maka keluarlah roh tersebut dari arah mulut dengan tenang.
Abu Bakar R.A. telah ditanya tentang kemana roh pergi setelah ia keluar dari jasad. Maka berkata Abu Bakar R.A: "Roh itu menuju ketujuh tempat:-
1. Roh para Nabi dan utusan menuju ke Syurga Adnin.
2. Roh para ulama menuju ke Syurga Firdaus.
3. Roh mereka yang berbahagia menuju ke Syurga Illiyyina.
4. Roh para shuhada berterbangan seperti burung di syurga mengikut kehendak mereka.
5. Roh para mukmin yang berdosa akan tergantung di udara tidak di bumi dan tidak di langit sampai hari kiamat.
6. Roh anak-anak orang yang beriman akan berada di gunung dari minyak misik.
7. Roh orang-orang kafir akan berada dalam neraka Sijjin, mereka diseksa berserta jasadnya hingga sampai hari Kiamat."
Telah bersabda Rasullullah S.A.W: Tiga kelompok manusia yang akan dijabat tangannya oleh para malaikat pada hari mereka keluar dari
kuburnya:-
1. Orang-orang yang mati syahid.
2. Orang-orang yang mengerjakan solat malam dalam bulan ramadhan.
3. Orang berpuasa di hari Arafah.
Sekian untuk ingatan kita bersama.
Selepas itu, mayat pula bersuara sambil merayu : "Wahai orang yang memandikan, janganlah engkau menuangkan airmu dalam keadaan panas. Begitujuga jangan menuangnya dengan air yang dingin kerana tubuhku terbakarapabila terlepasnya roh dari tubuh". Apabila dimandikan, roh sekali lagi merayu :"Demi Allah, wahai orang yang memandikan jangan engkau menggosok aku dengan kuat sebab tubuhkuluka-luka dengan keluarnya roh".
Setelah dimandi dan dikafankan, telapak kaki mayat diikat dan ia pun memanggil-manggil dan berpesan lagi supaya jangan diikat terlalu kuat serta mengafani kepalanya kerana ingin melihat wajahnya sendiri, anak-anak, isteri atau suami buat kali terakhir kerana tidak dapat melihat lagi sampai Hari Kiamat. Sebaik keluar dari rumah lalu ia berpesan : "Demi Allah, wahai jemaahku, aku telah meniggalkan isteriku menjadi Balu. Maka janganlah kamu menyakitinya. Anak-anakku telah menjadi yatim dan janganlah kalian menyakiti mereka. Sesungguhnya pada hari itu aku telah keluar dari rumahku dan aku tidak akan dapat kembali kepada mereka buat selama-lamanya".
Sesudah mayat diletakkan pada pengusung, sekali lagi diserunya kepada jemaah supaya jangan mempercepatkan mayatnya ke kubur selagi belum mendengar suara anak-anak dan sanak saudara buat kali terakhir. Sesudah dibawa dan melangkah sebanyak tiga langkah dari rumah, roh pula berpesan: "Wahai Kekasihku, wahai saudaraku dan wahai anak-anakku, jangan kamu diperdaya dunia sebagaimana ia memperdayakan aku dan janganlah kamu lalai ketika ini sebagaimana ia melalaikan aku". "Sesungguhnya aku tinggalkan apa yang aku telah aku kumpulkan untuk warisku dan sedikitpun mereka tidak mahu menanggung kesalahanku". "Adapun didunia, Allah menghisab aku, padahal kamu berasa senang dengan keduniaan. Dan mereka juga tidak mahu mendoakan aku".
Ada satu riwayat drp Abi Qalabah mengenai mimpi beliau yang
melihat kubur pecah. Lalu mayat-mayat itu keluar dari duduk di tepi kubur masing-masing. Bagaimanapun tidak seorang pun ada tanda-tanda memperolehi nur di muka mereka. Dalam mimpi itu, Abi Qalabah dapat melihat jirannya juga dalam keadaan yang sama. Lalu dia bertanya kepada mayat jirannya mengenai ketiadaan nur itu. Maka mayat itu menjawab: "Sesungguhnya bagi mereka yang memperolehi nur adalah kerana petunjuk drpd anak-anak dan teman-teman. Sebaliknya aku mempunyai anak-anak yang tidak soleh dan tidak pernah mendoakan aku".
Setelah mendengar jawapan mayat itu, Abi Qalabah pun terjaga. Pada malam itu juga dia memanggil anak jirannya dan menceritakan apa yang dilihatnya dalam mimpi mengenai bapa mereka. Mendengar keadaan itu, anak-anak jiran itu berjanji di hadapan Abi Qalabah akan mendoa dan bersedekah untuk bapanya. Seterusnya tidak lama selepas itu, Abi Qalabah sekali lagi bermimpi melihat jirannya. Bagaimanapun kali ini jirannya sudah ada nur dimukanya dan kelihatan lebih terang daripada matahari.
Baginda Rasullullah S.A.W berkata: "Apabila telah sampai ajal seseorang itu maka akan masuklah satu kumpulan malaikat ke dalam lubang-lubang kecil dalam badan dan kemudian mereka menarik rohnya melalui kedua-dua telapak kakinya sehingga sampai kelutut. Setelah itu datang pula sekumpulan malaikat yang lain masuk menarik roh dari lutut hingga sampai ke perut dan kemudiannya mereka keluar. Datang lagi satu kumpulan malaikat yang lain masuk dan menarik rohnya dari perut hingga sampai ke dada dan kemudiannya mereka keluar. Dan akhir sekali datang lagi satu kumpulan malaikat masuk dan menarik roh dari dadanya hingga sampai ke kerongkong dan itulah yang dikatakan saat nazak orang itu."
Sambung Rasullullah S.A.W. lagi: "Kalau orang yang nazak itu orang yang beriman, maka malaikat Jibrail A.S. akan menebarkan sayapnya yang di sebelah kanan sehingga orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di syurga. Apabila orang yang beriman itu melihat syurga, maka dia akan lupa kepada orang yang berada di sekelilinginya. Ini adalah kerana sangat rindunya pada syurga dan melihat terus pandangannya kepada sayap Jibrail A.S. "Kalau orang yang nazak itu orang munafik, maka Jibrail A.S. akan menebarkan sayap di sebelah kiri. Maka orang yang nazak tu dapat melihat kedudukannya di neraka dan dalam masa itu orang itu tidak lagi melihat orang di sekelilinginya. Ini adalah kerana terlalu takutnya apabila melihat neraka yang akan menjadi tempat tinggalnya."
Dari sebuah hadis bahawa apabila Allah S.W.T. menghendaki seorang mukmin itu dicabut nyawanya maka datanglah malaikat maut. Apabila malaikat maut hendak mencabut roh orang mukmin itu dari arah mulut maka keluarlah zikir dari mulut orang mukmin itu dengan berkata: "Tidak ada jalan bagimu mencabut roh orang ini melalui jalan ini kerana orang ini sentiasa menjadikan lidahnya berzikir kepada Allah S.W.T." Setelah malaikat maut mendengar menjelasan itu, maka dia pun kembali kepada Allah S.W.T.dan menjelaskan apa yang diucapkan oleh lidah orang mukmin itu.
Lalu Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud: "Wahai malaikat maut, kamu cabutlah ruhnya dari arah lain." Sebaik saja malaikat maut mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut pun cuba mencabut roh orang mukmin dari arah tangan. Tapi keluarlah sedekah dari arah tangan orang mukmin itu, keluarlah usapan kepala anak-anak yatim dan keluar penulisan ilmu. Maka berkata tangan: Tidak ada jalan bagimu untuk mencabut roh orang mukmin dari arah ini, tangan ini telah mengeluarkan sedekah, tangan ini mengusap kepala anak-anak yatim dan tangan ini menulis ilmu pengetahuan."
Oleh kerana malaikat maut gagal untuk mencabut roh orang mukmin dari arah tangan maka malaikat maut cuba pula dari arah kaki. Malangnya malaikat maut juga gagal melakukan sebab kaki berkata: Tidak ada jalan bagimu dari arah ini Kerana kaki ini sentiasa berjalan berulang ali! k mengerjakan solat dengan berjemaah dan kaki ini juga berjalan menghadiri majlis-majlis ilmu." Apabila gagal malaikat maut, mencabut roh orang mukmin dari arah kaki, maka malaikat maut cuba pula dari arah telinga. Sebaik saja malaikat maut menghampiri telinga maka telinga pun berkata: "Tidak ada jalan bagimudari arah ini kerana telinga ini sentiasa mendengar bacaan Al-Quran dan zikir."
Akhir sekali malaikat maut cuba mencabut orang mukmin dari arah mata tetapi baru saja hendak menghampiri mata maka berkata mata: "Tidak ada
jalan bagimu dari arah ini sebab mata ini sentiasa melihat beberapa
mushaf dan kitab-kitab dan mata ini sentiasa menangis kerana takutkan Allah." Setelah gagal maka malaikat maut kembali kepada Allah S.W.T.
Kemudian Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud: "Wahai malaikatKu, tulis AsmaKu ditelapak tanganmu dan tunjukkan kepada roh orang yang beriman itu." Sebaik saja mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut menghampiri roh orang itu dan menunjukkan Asma Allah S.W.T. Sebaik saja melihat Asma Allah dan cintanya kepada Allah S.W.T maka keluarlah roh tersebut dari arah mulut dengan tenang.
Abu Bakar R.A. telah ditanya tentang kemana roh pergi setelah ia keluar dari jasad. Maka berkata Abu Bakar R.A: "Roh itu menuju ketujuh tempat:-
1. Roh para Nabi dan utusan menuju ke Syurga Adnin.
2. Roh para ulama menuju ke Syurga Firdaus.
3. Roh mereka yang berbahagia menuju ke Syurga Illiyyina.
4. Roh para shuhada berterbangan seperti burung di syurga mengikut kehendak mereka.
5. Roh para mukmin yang berdosa akan tergantung di udara tidak di bumi dan tidak di langit sampai hari kiamat.
6. Roh anak-anak orang yang beriman akan berada di gunung dari minyak misik.
7. Roh orang-orang kafir akan berada dalam neraka Sijjin, mereka diseksa berserta jasadnya hingga sampai hari Kiamat."
Telah bersabda Rasullullah S.A.W: Tiga kelompok manusia yang akan dijabat tangannya oleh para malaikat pada hari mereka keluar dari
kuburnya:-
1. Orang-orang yang mati syahid.
2. Orang-orang yang mengerjakan solat malam dalam bulan ramadhan.
3. Orang berpuasa di hari Arafah.
Sekian untuk ingatan kita bersama.
KITA sekarang berada pada fasa terakhir Ramadan yang mana di dalamnya terkandung malam al-qadar. Malam paling istimewa di mana mereka yang beribadat pada malam ini akan diberi ganjaran pahala 1,000 bulan atau 84 tahun.
Ia sebagai mana firman Allah yang bermaksud: Malam Qadar itu lebih baik daripada 1,000 bulan. (al-Qadr: 3)
Dalam satu hadis Nabi SAW bersabda yang maksud-Nya: Dan sesiapa yang bangun mendirikan lailatul qadar dengan penuh iman dan mengharapkan pahala, diampunkan baginya dosa yang telah lalu. (riwayat Bukhari)
Wartawan, MOHD. RADZI MOHD. ZIN menemu bual Ketua Jabatan Al-Quran dan Sunnah, Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya, Prof. Madya Dr. Mustafa Abdullah bagi mengupas isu ini.
MEGA: Ramadan adalah bulan diturunkan al-Quran. Ramai juga yang membacanya pada bulan mulia ini tetapi tidak ramai yang mengambil iktibar daripadanya. Mengapa berlaku demikian?
DR. MUSTAFA: Memang Ramadan adalah bulan diturunkan al-Quran. Ini dijelaskan menerusi firman Allah yang bermaksud: Bulan Ramadan yang padanya diturunkan al-Quran menjadi petunjuk bagi sekelian manusia dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan petunjuk dan menjelaskan perbezaan di antara yang benar dan salah. (al-Baqarah: 185)
Mengapa ada yang tidak mengambil iktibar daripada ayat-ayat Allah ini sebab utamanya adalah kerana kita tidak memahami al-Quran. Oleh yang demikian, kita tidak dapat menghayati pengajaran yang terkandung di dalamnya. Seterusnya, menyebabkan kita gagal menghayati dan menterjemahkannya dalam kehidupan seharian.
Sejarah membuktikan bagaimana seorang yang digelar 'singa' seperti Saidina Omar al-Khattab yang pada zaman jahiliahnya sangat garang dan membenci Rasulullah SAW akhirnya menjadi insan yang hebat imannya selepas mendapat hidayah Allah menerusi ayat daripada surah Taha.
Bagi kita yang bukan Arab, hendaklah kita berusaha mempelajari al-Quran melalui pengajian-pengajian ilmu tafsir. Ini bukanlah terlalu sukar dilakukan kerana banyak institusi di negara kita sama ada masjid, surau atau juga pusat-pusat pengajian tinggi yang menawarkan kuliah atau pengajian ilmu tafsir.
Satu lagi punca berlaku begini ialah kebanyakan kita hanya mempelajari al-Quran secara tradisi. Maknanya kita mula mengaji semasa kecil dan cukup setakat khatam al-Quran sahaja. Sepatutnya pencarian ilmu itu tidak terhenti di situ.
Sebaliknya, selepas belajar mengaji kita meningkatkan ilmu dengan mempelajari ilmu tajwid dan qiraat. Apabila dewasa diteruskan dengan pengajian ilmu tafsir.
Sebagai kitab yang memberi petunjuk seharusnya sikap kita kepada al-Quran adalah sama iaitu membaca, menghayati dan mengamalkannya. Sebaliknya, wujud perbezaan pendirian dalam hal ini. Mengapa ini berlaku?
DR. MUSTAFA: Tidak semua di kalangan manusia yang beragama Islam memiliki cita rasa yang sama terhadap al-Quran. Perkara ini telah ditegaskan oleh Allah menerusi firman-Nya yang bermaksud: Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri sendiri, ada yang bersederhana dan ada yang berlumba-lumba berbuat kebaikan dengan izin Allah, yang demikian itu adalah kurniaan yang amat besar. (Faatir: 32)
Ayat ini menggambarkan tiga kelompok manusia yang berbeza pendirian terhadap al-Quran:
a) Golongan yang menganiaya diri sendiri iaitu golongan yang kesalahan dosa mereka lebih banyak daripada pahala kebaikan. Sebabnya, mereka tidak membaca al-Quran, mentelaah, berdiskusi apatah lagi beramal dengan perintah Allah di dalamnya.
b) Golongan yang bersederhana iaitu golongan di mana kesalahan dosa mereka sama banyak dengan pahala. Mereka adalah golongan yang membaca al-Quran tetapi belum bersedia melaksanakan isi kandungannya yang terdiri daripada hukum hakam Allah.
c) Golongan yang berlumba-lumba berbuat kebaikan. Mereka amat banyak melakukan kebaikan dan jarang membuat kesalahan. Mereka adalah golongan yang bersedia melaksanakan hukum Allah dalam al-Quran.
Seorang ulama terkenal, Muhammad Syakib Arslan berkata beberapa sebab yang membawa kemunduran umat Islam antaranya adalah kejahilan tetapi boleh diajar dan dibentuk.
Kedua, mempunyai ilmu tetapi tidak sempurna. Ini lebih bahaya daripada orang jahil yang lebih mudah diajar. Ketiga, rosak akhlak menyebabkan piawaian hidupnya adalah kebendaan.
Selain kehebatan malam al-qadr, al-Quran juga diturunkan pada waktu malam. Apakah hikmahnya?
DR. MUSTAFA: Antara hikmahnya, Allah SWT turun ke langit dunia setiap malam dan penurunan al-Quran pada waktu malam itu adalah satu kemegahan dan kemuliaan.
Kedua, ia memberi isyarat tentang beribadat pada waktu malam itu tidak ada riak. Menurut Imam al-Sya'rawi, beribadat dengan sebenar kepada Allah tanpa riak adalah dilakukan pada waktu malam. Seorang yang riak dan nifak tidak mampu beribadat pada waktu malam.
Ketiga, ia juga adalah isyarat kepada kelebihan solat waktu malam. Rasulullah SAW bersabda yang maksud-Nya: Puasa yang paling utama selepas Ramadan ialah puasa sunat bulan Muharam manakala solat yang paling utama selepas solat fardu adalah solat tengah malam (qiamullail). (riwayat Muslim)
Keempat, kita samawi juga diturunkan pada waktu malam. Bermula dengan Suhuf Ibrahim sehingga kepada al-Quran. Manusia dalam kegelapan maka turunnya cahaya Allah (kitab) bagi menerangi kehidupan.
Kelima, malam itu membayangkan keadaan gelap yang dihadapi oleh umat manusia. Maka muncul cahaya dalam kegelapan menerusi perutusan Nabi Muhammad SAW, penurunan al-Quran iaitu cahaya yang dapat menerangi hidup manusia yang hanyut dalam kegelapan jahiliah.
Kita selalu mendengar tanda-tanda malam al-qadar antaranya pokok sujud pada malam tersebut dan air yang masin menjadi tawar. Adakah ini berlandaskan nas yang sahih?
DR. MUSTAFA: Ini adalah pandangan orang lama-lama dan ia termasuk dalam riwayat Israeliyat. Tidak ada sumber yang jelas tentangnya. Tetapi ia masih ada sehingga hari ini kerana tanda-tanda tersebut terdapat dalam kitab-kitab jawi lama. Jadi, guru-guru agama masih menggunakannya.
Bagaimanapun, jika ada tanda-tanda tentang lailatul qadar, ia tidak boleh menggunakan akal atau logik tetapi mengikut nas. Alamat atau tanda secara langsung seperti yang dijelaskan oleh Ibn Uthaimin dalam Fatawawa Rasa'il Ibn Uthaimin antaranya:
1. Sinar cahaya sangat kuat pada malam al-qadr dibandingkan dengan malam-malam lain.
2. Bertambanh kuatnya cahaya pada malam itu.
3. Ketenangan dan kelapangan hati yang dirasakan oleh orang-orang yang beriman lebih kuat daripada malam-malam yang lain.
4. Angin dalam keadaan tenang pada malam al-qadr. Tidak bertiup kencang dan tidak ada rebut petir. Ini berdasarkan hadis dari sahabat Jabir bin Abdillah sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Aku melihat lailatuk qadr kemudian dilupakannya. Lailatul qadr turun pada 10 akhir (bulan Ramadan) iaitu malam yang tenang, tidak dingin dan tidak panas serta tidak hujan. (riwayat Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban)
5. Terkadang Allah memperlihatkan malam al qadr kepada seseorang dalam mimpinya. Sebagaimana yang terjadi pada diri para sahabat Nabi SAW.
6. Kenikmatan beribadat dirasakan oleh seseorang pada malam itu lebih tinggi daripada malam-malam lainnya.
7. Alamat selepas terjadi (iaitu pada pagi harinya) di antaranya, matahari terbit dalam keadaan tidak tersebar sinarnya dan tidak menyilaukan berbeza dengan hari-hari biasa.
Ini berdasarkan hadis dari sahabat Ubay bin Ka’ab yang mengatakan; Sesungguhnya Rasulullah mengkhabarkan kepada kami: Sesungguhnya matahari terbit pada hari itu dalam keadaan yang tidak tersebar sinarnya. (riwayat Muslim)
8. Alamat yang menyebutkan bahawa tidak ada atau sedikit nyalakan anjing pada malam al-qadr adalah tidak benar kerana ada ditemui pada 10 malam terakhir Ramadan anjing dalam keadaan menyalak.
Ada juga yang beranggapan jika dapat malam al-qadr maka pada bulan lain bolehlah buat maksiat. Adakah ini betul?
DR. MUSTAFA: Ini silap. Apabila dapat pahala 1,000 bulan tidak bermaksud akan menafikan syariat yang lain yang dikenakan oleh Allah. Mendapat ganjaran lailatul qadr adalah keistimewaan tetapi syariat lain seperti kewajipan solat, puasa, zakat dan lain-lain masih perlu kita tunaikan.
Tentang alamat tadi, tidak semestinya orang yang tidak nampak tanda-tanda malam al-qadr kita tidak mendapat malam tersebut.
Menurut Imam al-Munawi dalam Fayd al-Qadir: “Barangkali seorang yang bangun pada malam al-qadr itu tidak memperolehi dari malam itu melainkan peluang beribadah dan tidak ada sebarang tanda yang dilihatnya.
“Dia lebih baik dan lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang melihat tanda-tandanya sahaja (tetapi tidak beribadat pada malam itu)”.
Ia sebagai mana firman Allah yang bermaksud: Malam Qadar itu lebih baik daripada 1,000 bulan. (al-Qadr: 3)
Dalam satu hadis Nabi SAW bersabda yang maksud-Nya: Dan sesiapa yang bangun mendirikan lailatul qadar dengan penuh iman dan mengharapkan pahala, diampunkan baginya dosa yang telah lalu. (riwayat Bukhari)
Wartawan, MOHD. RADZI MOHD. ZIN menemu bual Ketua Jabatan Al-Quran dan Sunnah, Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya, Prof. Madya Dr. Mustafa Abdullah bagi mengupas isu ini.
MEGA: Ramadan adalah bulan diturunkan al-Quran. Ramai juga yang membacanya pada bulan mulia ini tetapi tidak ramai yang mengambil iktibar daripadanya. Mengapa berlaku demikian?
DR. MUSTAFA: Memang Ramadan adalah bulan diturunkan al-Quran. Ini dijelaskan menerusi firman Allah yang bermaksud: Bulan Ramadan yang padanya diturunkan al-Quran menjadi petunjuk bagi sekelian manusia dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan petunjuk dan menjelaskan perbezaan di antara yang benar dan salah. (al-Baqarah: 185)
Mengapa ada yang tidak mengambil iktibar daripada ayat-ayat Allah ini sebab utamanya adalah kerana kita tidak memahami al-Quran. Oleh yang demikian, kita tidak dapat menghayati pengajaran yang terkandung di dalamnya. Seterusnya, menyebabkan kita gagal menghayati dan menterjemahkannya dalam kehidupan seharian.
Sejarah membuktikan bagaimana seorang yang digelar 'singa' seperti Saidina Omar al-Khattab yang pada zaman jahiliahnya sangat garang dan membenci Rasulullah SAW akhirnya menjadi insan yang hebat imannya selepas mendapat hidayah Allah menerusi ayat daripada surah Taha.
Bagi kita yang bukan Arab, hendaklah kita berusaha mempelajari al-Quran melalui pengajian-pengajian ilmu tafsir. Ini bukanlah terlalu sukar dilakukan kerana banyak institusi di negara kita sama ada masjid, surau atau juga pusat-pusat pengajian tinggi yang menawarkan kuliah atau pengajian ilmu tafsir.
Satu lagi punca berlaku begini ialah kebanyakan kita hanya mempelajari al-Quran secara tradisi. Maknanya kita mula mengaji semasa kecil dan cukup setakat khatam al-Quran sahaja. Sepatutnya pencarian ilmu itu tidak terhenti di situ.
Sebaliknya, selepas belajar mengaji kita meningkatkan ilmu dengan mempelajari ilmu tajwid dan qiraat. Apabila dewasa diteruskan dengan pengajian ilmu tafsir.
Sebagai kitab yang memberi petunjuk seharusnya sikap kita kepada al-Quran adalah sama iaitu membaca, menghayati dan mengamalkannya. Sebaliknya, wujud perbezaan pendirian dalam hal ini. Mengapa ini berlaku?
DR. MUSTAFA: Tidak semua di kalangan manusia yang beragama Islam memiliki cita rasa yang sama terhadap al-Quran. Perkara ini telah ditegaskan oleh Allah menerusi firman-Nya yang bermaksud: Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri sendiri, ada yang bersederhana dan ada yang berlumba-lumba berbuat kebaikan dengan izin Allah, yang demikian itu adalah kurniaan yang amat besar. (Faatir: 32)
Ayat ini menggambarkan tiga kelompok manusia yang berbeza pendirian terhadap al-Quran:
a) Golongan yang menganiaya diri sendiri iaitu golongan yang kesalahan dosa mereka lebih banyak daripada pahala kebaikan. Sebabnya, mereka tidak membaca al-Quran, mentelaah, berdiskusi apatah lagi beramal dengan perintah Allah di dalamnya.
b) Golongan yang bersederhana iaitu golongan di mana kesalahan dosa mereka sama banyak dengan pahala. Mereka adalah golongan yang membaca al-Quran tetapi belum bersedia melaksanakan isi kandungannya yang terdiri daripada hukum hakam Allah.
c) Golongan yang berlumba-lumba berbuat kebaikan. Mereka amat banyak melakukan kebaikan dan jarang membuat kesalahan. Mereka adalah golongan yang bersedia melaksanakan hukum Allah dalam al-Quran.
Seorang ulama terkenal, Muhammad Syakib Arslan berkata beberapa sebab yang membawa kemunduran umat Islam antaranya adalah kejahilan tetapi boleh diajar dan dibentuk.
Kedua, mempunyai ilmu tetapi tidak sempurna. Ini lebih bahaya daripada orang jahil yang lebih mudah diajar. Ketiga, rosak akhlak menyebabkan piawaian hidupnya adalah kebendaan.
Selain kehebatan malam al-qadr, al-Quran juga diturunkan pada waktu malam. Apakah hikmahnya?
DR. MUSTAFA: Antara hikmahnya, Allah SWT turun ke langit dunia setiap malam dan penurunan al-Quran pada waktu malam itu adalah satu kemegahan dan kemuliaan.
Kedua, ia memberi isyarat tentang beribadat pada waktu malam itu tidak ada riak. Menurut Imam al-Sya'rawi, beribadat dengan sebenar kepada Allah tanpa riak adalah dilakukan pada waktu malam. Seorang yang riak dan nifak tidak mampu beribadat pada waktu malam.
Ketiga, ia juga adalah isyarat kepada kelebihan solat waktu malam. Rasulullah SAW bersabda yang maksud-Nya: Puasa yang paling utama selepas Ramadan ialah puasa sunat bulan Muharam manakala solat yang paling utama selepas solat fardu adalah solat tengah malam (qiamullail). (riwayat Muslim)
Keempat, kita samawi juga diturunkan pada waktu malam. Bermula dengan Suhuf Ibrahim sehingga kepada al-Quran. Manusia dalam kegelapan maka turunnya cahaya Allah (kitab) bagi menerangi kehidupan.
Kelima, malam itu membayangkan keadaan gelap yang dihadapi oleh umat manusia. Maka muncul cahaya dalam kegelapan menerusi perutusan Nabi Muhammad SAW, penurunan al-Quran iaitu cahaya yang dapat menerangi hidup manusia yang hanyut dalam kegelapan jahiliah.
Kita selalu mendengar tanda-tanda malam al-qadar antaranya pokok sujud pada malam tersebut dan air yang masin menjadi tawar. Adakah ini berlandaskan nas yang sahih?
DR. MUSTAFA: Ini adalah pandangan orang lama-lama dan ia termasuk dalam riwayat Israeliyat. Tidak ada sumber yang jelas tentangnya. Tetapi ia masih ada sehingga hari ini kerana tanda-tanda tersebut terdapat dalam kitab-kitab jawi lama. Jadi, guru-guru agama masih menggunakannya.
Bagaimanapun, jika ada tanda-tanda tentang lailatul qadar, ia tidak boleh menggunakan akal atau logik tetapi mengikut nas. Alamat atau tanda secara langsung seperti yang dijelaskan oleh Ibn Uthaimin dalam Fatawawa Rasa'il Ibn Uthaimin antaranya:
1. Sinar cahaya sangat kuat pada malam al-qadr dibandingkan dengan malam-malam lain.
2. Bertambanh kuatnya cahaya pada malam itu.
3. Ketenangan dan kelapangan hati yang dirasakan oleh orang-orang yang beriman lebih kuat daripada malam-malam yang lain.
4. Angin dalam keadaan tenang pada malam al-qadr. Tidak bertiup kencang dan tidak ada rebut petir. Ini berdasarkan hadis dari sahabat Jabir bin Abdillah sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Aku melihat lailatuk qadr kemudian dilupakannya. Lailatul qadr turun pada 10 akhir (bulan Ramadan) iaitu malam yang tenang, tidak dingin dan tidak panas serta tidak hujan. (riwayat Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban)
5. Terkadang Allah memperlihatkan malam al qadr kepada seseorang dalam mimpinya. Sebagaimana yang terjadi pada diri para sahabat Nabi SAW.
6. Kenikmatan beribadat dirasakan oleh seseorang pada malam itu lebih tinggi daripada malam-malam lainnya.
7. Alamat selepas terjadi (iaitu pada pagi harinya) di antaranya, matahari terbit dalam keadaan tidak tersebar sinarnya dan tidak menyilaukan berbeza dengan hari-hari biasa.
Ini berdasarkan hadis dari sahabat Ubay bin Ka’ab yang mengatakan; Sesungguhnya Rasulullah mengkhabarkan kepada kami: Sesungguhnya matahari terbit pada hari itu dalam keadaan yang tidak tersebar sinarnya. (riwayat Muslim)
8. Alamat yang menyebutkan bahawa tidak ada atau sedikit nyalakan anjing pada malam al-qadr adalah tidak benar kerana ada ditemui pada 10 malam terakhir Ramadan anjing dalam keadaan menyalak.
Ada juga yang beranggapan jika dapat malam al-qadr maka pada bulan lain bolehlah buat maksiat. Adakah ini betul?
DR. MUSTAFA: Ini silap. Apabila dapat pahala 1,000 bulan tidak bermaksud akan menafikan syariat yang lain yang dikenakan oleh Allah. Mendapat ganjaran lailatul qadr adalah keistimewaan tetapi syariat lain seperti kewajipan solat, puasa, zakat dan lain-lain masih perlu kita tunaikan.
Tentang alamat tadi, tidak semestinya orang yang tidak nampak tanda-tanda malam al-qadr kita tidak mendapat malam tersebut.
Menurut Imam al-Munawi dalam Fayd al-Qadir: “Barangkali seorang yang bangun pada malam al-qadr itu tidak memperolehi dari malam itu melainkan peluang beribadah dan tidak ada sebarang tanda yang dilihatnya.
“Dia lebih baik dan lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang melihat tanda-tandanya sahaja (tetapi tidak beribadat pada malam itu)”.
;;
Subscribe to:
Opslag (Atom)
|
|
